
POJOKNEGERI.com – Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat pertahanan nasional Indonesia dalam berbagai matra.
Ia menyampaikan pernyataan tersebut saat menyerahkan sejumlah alutsista kepada TNI di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, pada Senin (18/6/2026).
Prabowo menilai situasi geopolitik global yang tidak menentu menuntut Indonesia untuk meningkatkan kemampuan pertahanannya.
Ia menekankan bahwa penguatan ini berfungsi sebagai langkah pencegahan atau deterrent untuk menjaga kedaulatan negara.
“Kita harus terus tingkatkan kekuatan pertahanan kita sebagai penangkal, sebagai deterrent. Kita tidak punya kepentingan selain untuk menjaga wilayah kita sendiri. Dalam waktu yang akan datang terus akan kita bangun kekuatan kita. Kita ingin mengamankan wilayah udara, wilayah laut, dan tentunya wilayah daratan kita,” ujar Prabowo di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (18/6/2026).
Pemerintah Dorong Modernisasi Alutsista Tiga Matra
Dalam agenda tersebut, pemerintah menyerahkan sejumlah alat utama sistem persenjataan (alutsista) kepada TNI. Penyerahan ini menjadi bagian dari program modernisasi pertahanan nasional yang mencakup kekuatan udara, laut, dan darat.
Alutsista yang diserahkan mencakup 6 pesawat tempur Dassault Rafale, 4 pesawat Dassault Falcon 8X, serta 1 pesawat angkut militer Airbus A400M Atlas MRTT. Pemerintah juga menyerahkan sistem radar Thales Ground Control Interceptor GM403 untuk memperkuat deteksi ruang udara nasional.
Selain itu, TNI menerima persenjataan modern seperti rudal udara-ke-udara jarak jauh MBDA Meteor serta senjata presisi tinggi Safran AASM Hammer yang menjadi bagian dari sistem persenjataan Rafale.
Kemenkeu Pastikan APBN Mendukung Pertahanan
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) telah disiapkan untuk mendukung penuh program penguatan pertahanan tersebut.
Ia menegaskan bahwa pemerintah sudah mengalokasikan anggaran untuk beberapa tahun ke depan.
Purbaya menyebut pemerintah tetap menjaga stabilitas fiskal meskipun belanja pertahanan meningkat. Ia memastikan defisit anggaran tetap berada di bawah batas aman.
“Tahun depan ada. Tahun depannya lagi juga ada, tahun depan udah ada anggaran juga cukup besar. Jadi, kan di tengah uncertainty seperti sekarang yang dibilang presiden betul, kita harus jaga kemampuan pertahanan kita,” ujar Purbaya dalam kesempatan berbeda di lokasi yang sama.
Pemerintah Jaga Defisit di Bawah Batas Aman
Purbaya enggan menyebutkan angka rinci anggaran pertahanan karena alasan keamanan negara. Namun, ia menegaskan bahwa kemampuan fiskal Indonesia cukup untuk membiayai kebutuhan strategis, termasuk program unggulan pemerintah lainnya.
Ia juga menekankan bahwa seluruh perencanaan fiskal telah mempertimbangkan keberlanjutan program pembangunan nasional.
“Dengan ini saja sudah kita hitung defisit anggarannya di bawah 3%. Defisitnya di bawah 3%. Jadi, nggak usah khawatir. Semuanya udah kita hitung dengan baik, termasuk untuk MBG, untuk program-program yang lain tanpa mengganggu program pembangunan yang lain,” tegas Purbaya.
Dengan penguatan alutsista dan dukungan anggaran yang terencana, pemerintah menegaskan arah kebijakan pertahanan Indonesia menuju modernisasi berkelanjutan di tengah dinamika global yang semakin kompleks.
(*)
