Nasional
Sedang tren

Perkuat Pelestarian Warisan Budaya, Kirab Pusaka Nusantara 2026 Digelar di Borobudur

POJOKNEGERI.COM – Kementerian Kebudayaan RI melalui Museum dan Cagar Budaya serta Direktorat Bina Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat (BKMA) menyelenggarakan Kirab Pusaka Nusantara 2026 di kawasan Candi Borobudur, Jawa Tengah.

Kegiatan ini menghadirkan peringatan Hari Keris Nasional dan Hari Warisan Dunia sekaligus memperkuat pelestarian budaya sebagai living heritage yang terus berkembang di tengah masyarakat.

Pemerintah menggelar kirab ini sebagai ruang ekspresi budaya yang mempertemukan tradisi, pusaka, dan partisipasi aktif masyarakat.

Kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk menegaskan kembali peran Borobudur sebagai situs warisan dunia yang tidak hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga nilai budaya yang hidup.

Libatkan 20 Desa Penyangga dan 1.000 Peserta

Panitia melibatkan sekitar 1.000 peserta yang berasal dari 20 desa penyangga kawasan Borobudur serta berbagai komunitas budaya.

Para peserta mengarak pusaka dalam kirab budaya yang dimulai dari Gerbang Beringin menuju Pelataran Kenari.

Selain masyarakat desa, kegiatan ini juga menghadirkan budayawan, seniman, hingga perwakilan lembaga kebudayaan.

Keterlibatan luas tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya berjalan melalui kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat.

Kirab ini juga menguatkan semangat gotong royong yang selama ini menjadi identitas masyarakat di sekitar Borobudur.

Warga tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga terlibat aktif dalam setiap rangkaian kegiatan budaya.

Rangkaian Acara Tampilkan Nilai Spiritual dan Kebersamaan

Rangkaian kegiatan Kirab Pusaka Nusantara 2026 berlangsung dengan berbagai agenda budaya.

Panitia menggelar doa lintas agama sebagai simbol harmoni dan keberagaman. Setelah itu, peserta melanjutkan ritual budaya yang mencerminkan penghormatan terhadap warisan leluhur.

Acara juga menampilkan penyerahan bibit konservasi sebagai simbol keberlanjutan pelestarian lingkungan dan budaya.

Panitia kemudian menutup kegiatan dengan kenduri atau makan bersama (umbul bojono) yang memperkuat nilai kebersamaan dan solidaritas sosial.

Seluruh rangkaian acara menunjukkan bahwa budaya tidak hanya hadir sebagai tontonan, tetapi juga sebagai praktik kehidupan yang mengikat masyarakat dalam nilai-nilai kolektif.

Fadli Zon Tekankan Borobudur sebagai Living Heritage

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa Kirab Pusaka Nusantara menjadi kegiatan pertama yang digelar di kawasan Borobudur dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan budaya.

Ia menekankan bahwa kekuatan Borobudur tidak hanya terletak pada kemegahan candi, tetapi juga pada tradisi, nilai luhur, seni, dan ingatan kolektif masyarakat.

Fadli juga mendorong penguatan kegiatan budaya di kawasan Borobudur sebagai bagian dari konsep living heritage.

Ia menilai pengelolaan Borobudur perlu semakin inklusif, ramah disabilitas, dan terbuka bagi berbagai latar belakang masyarakat.

Menurutnya, semangat gotong royong dari masyarakat desa penyangga menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya.

Ia juga menekankan bahwa manfaat Borobudur harus dirasakan secara luas oleh masyarakat sekitar maupun masyarakat Indonesia secara umum.

Penguatan Sinergi Pelestarian Budaya

Penyelenggaraan Kirab Pusaka Nusantara 2026 memperkuat sinergi antara pemerintah, komunitas budaya, dan masyarakat lokal dalam menjaga warisan budaya bangsa.

Kementerian Kebudayaan berharap kegiatan ini meningkatkan kesadaran publik terhadap pentingnya pelestarian budaya.

Selain itu, kegiatan ini juga mendorong pengembangan pariwisata berbasis kearifan lokal yang inklusif dan berkelanjutan.

Dengan keterlibatan aktif masyarakat desa penyangga, Borobudur diharapkan semakin kokoh sebagai destinasi budaya dunia yang hidup, dinamis, dan berkelanjutan. (*)

Back to top button