Hadir di Pertemuan dengan Ormas Islam, Sugiono: Untuk Jelaskan Isu Board of Peace

POJOKNEGERI.COM – Presiden RI Prabowo Subianto menggelar pertemuan dengan sejumlah tokoh pimpinan organisasi kemasyarakatan (Ormas) Islam di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (3/2) siang.
Pertemuan ini berlangsung dalam suasana serius, dengan agenda utama membahas keputusan Indonesia bergabung dengan Board of Peace (BoP).
BOP merupakan sebuah dewan perdamaian bentukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Turut hadir dalam pertemuan ini Menteri Luar Negeri Sugiono.
Sugiono menegaskan bahwa keterlibatan Kemenlu sangat penting untuk memberikan penjelasan langsung mengenai alasan dan pertimbangan pemerintah.
“Dan juga nanti keterlibatan Kementerian luar negeri pada pertemuan siang hari ini adalah mengenai pembicaraan mengenai Board of Peace. Dan penjelasan-penjelasan yang akan dilajukan seputar isu tersebut,” kata Sugiono di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (3/2).
Senada, Mensesneg Prasetyo Hadi menyampaikan dalam pertemuan siang ini, Prabowo akan menjelaskan landasan keputusan RI bergabung BoP Ia mengatakan pertemuan ini merupakan forum rutin yang dilakukan Prabowo.
Pras menyebut forum ini merupakan salah satu cara pemerintah dalam mendapatkan masukan dari berbagai lapisan masyarakat.
“Dengan harapan ini semua bisa diterima dan dimengerti oleh semua pihak,” ucap Pras.
Prabowo Tandatangani Piagam Board of Peace
Sebelumya, Presiden Prabowo Subianto menjadi salah satu pemimpin negara yang menandatangani piagam Board of Peace (BoP) di Davos, Swiss, Kamis (22/01).
Dewan Perdamaian ini merupakan badan internasional yang dibentuk untuk mengawal stabilisasi dan rehabilitasi pascakonflik di Gaza.
Keterlibatan Indonesia dalam Dewan Perdamaian ini benar-benar peluang untuk mencapai perdamaian di Gaza.
Menlu Sugiono mengatakan ini merupakan kelanjutan dari proses panjang dialog dan pertemuan sejumlah negara. Khususnya negara-negara Islam dan negara dengan penduduk mayoritas Muslim terkait situasi di Palestina.
Hal ini Sugiono sampaikan dalam keteranganya di Bad Ragaz, Swiss, Jumat (23/01/2026)
“Penandatanganan Charter dari Board of Peace atau Dewan Perdamaian yang merupakan bagian dari proses yang selama ini sudah kita lakukan. Hal ini dalam rangka menyelesaikan konflik, mencapai perdamaian dan menyelesaikan konflik serta rehabilitasi pascakonflik di Palestina, Gaza ,” ujar Sugiono.
Menurut Menlu, kesepakatan pembentukan BoP lahir dari tekad bersama untuk melibatkan komunitas internasional secara lebih konkret guna mencapai perdamaian yang bersifat permanen di Gaza. Pertemuan-pertemuan tersebut kemudian berlanjut hingga pertemuan di Sharm El Sheikh, Mesir, yang menjadi momentum penandatanganan piagam Board of Peace.
“Sebenarnya Board of Peace ini merupakan suatu badan internasional. Sekarang resmi jadi badan internasional yang bertugas untuk memonitor administrasi, stabilisasi, dan juga upaya-upaya rehabilitasi di Gaza pada khususnya dan di Palestina,” tuturnya.
Konsistensi Indonesia Mendukung Palestina
Menlu melanjutkan, Indonesia memandang penting untuk bergabung karena sejak awal konsisten mendukung perdamaian dan stabilitas internasional, khususnya bagi Palestina. Meski proses pembentukan badan ini berlangsung relatif cepat, Presiden Prabowo memutuskan Indonesia untuk menjadi bagian dari BoP setelah mempertimbangkan berbagai aspek strategis.
“Kita sejak awal merupakan negara yang peduli pada perdamaian, pada stabilitas internasional dan khususnya pada situasi yang terjadi di Palestina. Karena Board of Peace ini merupakan bagian dari upaya untuk mencapai perdamaian tersebut maka kita harus ada di dalamnya,” tegas Menlu.
Keputusan tersebut juga melalui konsultasi intensif dengan negara-negara yang tergabung dalam Group of New York. Menlu mengungkapkan bahwa sejumlah negara sepakat untuk bergabung, antara lain Arab Saudi, Persatuan Emirat Arab, Qatar, Yordania, Turkiye, Pakistan, Mesir, serta Indonesia.
“Dua hari sebelum penandatanganan, semuanya bersepakat untuk ikut bergabung bersama Board of Peace,” ungkapnya.
(*)


