
POJOKNEGERI.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa Iran dapat menghubungi Amerika Serikat kapan saja jika ingin kembali membuka jalur negosiasi untuk mengakhiri konflik yang masih berlangsung. Pernyataan itu ia sampaikan di tengah kegagalan terbaru upaya perundingan damai antara kedua negara yang sebelumnya diupayakan berlangsung di Pakistan.
Trump menyampaikan pandangannya dalam wawancara dengan program Fox News “The Sunday Briefing”. Ia menekankan bahwa komunikasi tetap terbuka meskipun pertemuan diplomatik tidak berjalan sesuai rencana.
“Jika mereka (Iran-red) ingin berbicara, mereka bisa datang kepada kami, atau mereka dapat menghubungi kami. Anda tahu, ada telepon. Kami memiliki saluran yang bagus dan aman,” kata Trump dalam wawancara tersebut.
Ia juga menegaskan bahwa posisi Amerika Serikat tetap jelas terkait isu nuklir Iran. Trump menyatakan bahwa tidak ada ruang kompromi jika Iran tetap mempertahankan program yang berpotensi mengarah pada senjata nuklir.
“Mereka tahu apa yang seharusnya ada dalam perjanjian. Sangat sederhana: mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir, jika tidak demikian, tidak ada alasan untuk bertemu,” tegasnya.
Perundingan Gagal di Pakistan
Upaya diplomasi terbaru antara Amerika Serikat dan Iran kembali menemui jalan buntu setelah kedua pihak gagal melanjutkan pembicaraan di Pakistan. Amerika Serikat membatalkan rencana kunjungan utusan khusus Steve Witkoff serta penasihat sekaligus menantu Trump, Jared Kushner, ke Islamabad.
Pemerintah AS mengambil keputusan tersebut setelah Iran menolak melakukan pembicaraan langsung dengan Washington. Teheran memilih menyampaikan posisi dan kekhawatirannya melalui jalur mediasi yang difasilitasi oleh Pakistan.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi kemudian melakukan kunjungan singkat ke Islamabad pada Sabtu (25/4). Namun, ia hanya bertemu dengan pejabat tinggi Pakistan, termasuk Perdana Menteri Shehbaz Sharif, tanpa menghasilkan terobosan dalam negosiasi dengan Amerika Serikat.
Diplomasi Mandek di Tengah Ketegangan
Kegagalan pertemuan tersebut kembali memupus harapan untuk menghidupkan kembali proses perdamaian yang sebelumnya sempat dibahas dalam pertemuan awal di Islamabad pada pertengahan April. Pertemuan tersebut juga berakhir tanpa kesepakatan konkret.
Sementara itu, ketegangan antara kedua negara terus meningkat akibat perbedaan pandangan terkait program nuklir Iran. Tehran tetap bersikeras bahwa program pengayaan uraniumnya bertujuan damai. Namun, Amerika Serikat, negara-negara Barat, dan Israel menuduh Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir, tuduhan yang berulang kali dibantah oleh pemerintah Iran.
Situasi Regional Memanas
Di tengah kebuntuan diplomasi, situasi kawasan ikut memanas. Laporan menyebutkan bahwa Iran memperketat kontrol di sebagian jalur strategis Selat Hormuz yang menjadi jalur penting distribusi minyak global. Di sisi lain, Amerika Serikat disebut memperketat blokade laut terhadap sejumlah pelabuhan Iran.
Meski demikian, Trump menegaskan bahwa pembatalan pertemuan tidak otomatis mengarah pada eskalasi militer baru. Ketika ditanya mengenai kemungkinan konflik kembali meletus, ia menjawab singkat, “tidak, itu tidak berarti demikian.”
Dengan pernyataan tersebut, Washington tetap membuka pintu komunikasi, namun menegaskan bahwa syarat utama penyelesaian konflik tetap tidak berubah: Iran harus menghentikan ambisi senjata nuklirnya.
(*)


