Internasional
Sedang tren

Trump Tuntut Iran Bayar Kompensasi Perang, Negosiasi Damai Makin Sulit

POJOKNEGERI.com – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memasukkan tuntutan kompensasi dari Iran ke dalam agenda negosiasi damai kedua negara.

Langkah tersebut berpotensi memperumit upaya diplomatik untuk mengakhiri perang sekaligus membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Trump menyampaikan tuntutan itu melalui Truth Social pada Senin (10/8). Ia menilai Iran harus memberikan kompensasi kepada keluarga korban yang tewas maupun mengalami luka parah akibat berbagai konflik dan serangan yang dikaitkan dengan Teheran.

“Sekarang saya juga menuntut kompensasi dari Iran untuk semua orang yang telah mereka bunuh dan lukai parah … termasuk keluarga dari mereka yang tewas di USS Cole dan ribuan lainnya yang tewas dalam pertempuran,” kata Trump.

Trump juga memperluas tuntutannya kepada keluarga korban demonstrasi di Iran. Ia menyebut kompensasi tersebut harus mencakup korban yang meninggal selama puluhan tahun terakhir.

“Selain itu, kompensasi harus dibayarkan kepada keluarga dari ratusan ribu demonstran tak berdosa yang dibunuh Iran selama 50 tahun terakhir, belum lagi 52 ribu orang yang tewas dalam lima bulan terakhir,” ucap lanjut Trump.

Tuntutan Meluas ke Konflik Regional

Dalam unggahan lainnya, Trump menyatakan akan meminta Iran bertanggung jawab atas kerusakan dan korban jiwa yang terjadi di sejumlah wilayah Timur Tengah. Ia menyebut Lebanon, Suriah, Yaman, dan Jalur Gaza sebagai bagian dari tuntutan tersebut.

Trump menegaskan pemerintahannya akan membawa seluruh tuntutan itu ke meja perundingan. Ia menyatakan akan menyampaikannya secara tegas dalam setiap proses diplomasi berikutnya.

“Setiap dan semua negosiasi di masa mendatang,” menjadi ruang bagi Trump untuk memperjuangkan tuntutan kompensasi tersebut.

Sikap Trump muncul setelah Iran lebih dulu meminta AS membayar reparasi perang sebagai salah satu syarat untuk menghentikan pertempuran. Garda Revolusi Islam Iran juga menegaskan belum akan membuka kembali Selat Hormuz sebelum AS memenuhi sejumlah tuntutan, termasuk kompensasi atas kerusakan akibat perang.

Hormuz Jadi Titik Krusial

Sikap saling menuntut kompensasi membuat negosiasi AS-Iran semakin rumit. Perselisihan mengenai Selat Hormuz juga terus menghambat kesepakatan.

Iran mempertahankan kendali atas jalur strategis tersebut dan ingin memungut biaya pelayaran setelah perang. Ketegangan di Hormuz telah mengganggu lalu lintas energi dan meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak global.

Dengan memasukkan tuntutan baru ke dalam negosiasi, Trump berisiko semakin memperlebar jarak antara Washington dan Teheran.

(*)

Back to top button