
POJOKNEGERI.com – Rencana perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki babak baru setelah kedua negara resmi menandatangani dokumen nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang bertujuan mengakhiri perang dan membuka jalan bagi proses normalisasi hubungan di masa mendatang.
Presiden AS Donald Trump menandatangani dokumen tersebut saat menghadiri jamuan makan malam bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Versailles usai mengikuti rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 pada Rabu (17/6) malam waktu setempat.
Ketika meninggalkan lokasi acara, Trump mengonfirmasi bahwa dirinya telah menyelesaikan proses penandatanganan dokumen tersebut.
“Baru saja menandatanganinya,” kata Trump saat keluar dari istana.
Pernyataan singkat itu menandai langkah penting dalam upaya meredakan ketegangan yang selama ini membayangi hubungan Washington dan Teheran.
Kesepakatan tersebut juga menjadi sinyal bahwa kedua negara mulai membuka ruang dialog yang lebih luas setelah periode konflik yang berlangsung cukup lama.
Iran Konfirmasi Penandatanganan Secara Elektronik
Secara terpisah, pemerintah Iran juga mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menandatangani dokumen kesepakatan yang sama.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan teks perjanjian telah selesai dan memperoleh persetujuan resmi dari kedua kepala negara.
“Teks Memorandum of Understanding Islamabad telah diselesaikan dengan tanda tangan para presiden — sekarang saatnya untuk menguji implementasi perjanjian tersebut,” kata Baqaei seperti dikutip kantor berita negara IRNA.
Menurut Baqaei, kedua presiden menandatangani dokumen itu secara elektronik dan jarak jauh. Pemerintah Iran menilai mekanisme tersebut lebih praktis dibandingkan menggelar seremoni resmi yang membutuhkan persiapan tambahan.
Ia menegaskan bahwa Iran lebih memprioritaskan substansi kesepakatan dibandingkan simbolisme acara penandatanganan.
“Ketika teks ditandatangani oleh pejabat tertinggi kedua negara, melanggarnya tentu akan menimbulkan biaya yang lebih besar, dan mengingat pengalaman kami, kami lebih memilih hal ini terjadi,” kata Baqaei.
Pernyataan tersebut menunjukkan harapan Iran agar kedua pihak benar-benar mematuhi isi kesepakatan yang telah disetujui bersama.
Pembukaan Selat Hormuz Menjadi Langkah Awal
Kedua pihak merilis teks perjanjian pada Rabu (17/6). Dokumen tersebut memuat sejumlah poin yang menjadi dasar pelaksanaan proses perdamaian dalam beberapa bulan mendatang.
Salah satu langkah awal yang disepakati adalah pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang memiliki peran penting bagi perdagangan energi dunia. Pembukaan kembali jalur tersebut diharapkan dapat mengurangi ketidakpastian di pasar global sekaligus memulihkan aktivitas pelayaran internasional yang terdampak konflik.
Selain itu, AS dan Iran akan memasuki periode negosiasi selama dua bulan untuk membahas berbagai aspek teknis dan politik yang berkaitan dengan implementasi kesepakatan. Tahap ini menjadi krusial karena kedua negara harus menyusun mekanisme pelaksanaan yang dapat diterima oleh masing-masing pihak.
(*)


