Internasional

Klaim Trump, AS dan Iran Hampir Capai Kesepakatan Besar Akhiri Konflik

POJOKNEGERI.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeklaim bahwa Amerika Serikat dan Iran telah mencapai sebuah kesepakatan besar untuk mengakhiri konflik yang berlangsung di Timur Tengah.

Ia menyebut bahwa pemimpin Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei telah menyetujui dokumen kesepakatan yang saat ini sedang dirampungkan dan diperkirakan selesai dalam beberapa hari ke depan.

Trump juga menyampaikan bahwa kesepakatan tersebut mencakup berbagai tuntutan utama Washington. Termasuk penghentian program nuklir Iran dan pembukaan akses strategis di kawasan Selat Hormuz. Ia menggambarkan dokumen tersebut sebagai langkah besar yang akan mengubah dinamika konflik regional.

Pernyataan Trump di Gedung Putih

Dalam keterangan kepada wartawan di Oval Office, Trump menegaskan bahwa ia yakin pihak Iran sudah memberikan persetujuan awal terhadap kesepakatan tersebut. Ia secara khusus merujuk pada posisi Ali Khamenei.

“Saya mengerti jawabannya adalah ya,” kata Trump pada Kamis (11/6) saat ditanya apakah Khamenei menyetujui kesepakatan tersebut, seperti dikutip AFP.

Trump menambahkan bahwa ia meyakini persetujuan itu muncul karena Iran dinilai mengalami tekanan besar dalam konflik yang sedang berlangsung. Ia menyebut kondisi tersebut sebagai “kekalahan telak” bagi Teheran.

Trump juga menegaskan bahwa kesepakatan tersebut bersifat luas dan mencakup banyak aspek strategis. Ia menggambarkannya sebagai dokumen kerja yang masih bersifat konseptual namun memiliki dampak signifikan jika disahkan secara penuh.

“Ini adalah nota kesepahaman yang sangat kuat, meskipun agak konseptual,” kata Trump.

Latar Ketegangan dan Klaim Konflik Militer

Dalam narasi yang ia sampaikan, Trump menyebut bahwa Amerika Serikat dan Iran telah berada dalam kondisi konflik sejak serangan terhadap Teheran pada 28 Februari. Ia juga menyebut adanya gencatan senjata pada April, meskipun menurutnya pertempuran kecil masih terus terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Trump mengklaim bahwa situasi di lapangan kembali memanas setelah sebuah helikopter Apache milik AS ditembak jatuh di kawasan Selat Hormuz. Ia mengatakan seluruh awak berhasil selamat, namun insiden tersebut memicu kemarahan pemerintah AS.

Ia juga menyebut bahwa Washington sempat mempertimbangkan tindakan militer lanjutan setelah insiden tersebut, termasuk opsi perebutan Pulau Kharg yang merupakan salah satu infrastruktur energi penting Iran.

Namun, beberapa jam setelah pernyataan keras tersebut, Trump menyatakan perubahan sikap. Ia mengatakan bahwa keputusan itu muncul setelah adanya perkembangan baru dalam proses negosiasi.

Menurutnya, “poin-poin terakhir” dalam pembicaraan telah disepakati oleh seluruh pihak yang terlibat, sehingga ia menarik kembali ancaman sebelumnya terhadap Iran.

Perubahan pernyataan tersebut menunjukkan dinamika cepat dalam narasi yang ia sampaikan, antara eskalasi militer dan upaya diplomatik yang berlangsung bersamaan.

Pernyataan Trump ini, sebagaimana dikutip dari AFP dan disampaikan di Gedung Putih, masih berada dalam tahap klaim politik dan belum diiringi pengumuman resmi dari pihak Iran maupun konfirmasi independen terkait isi kesepakatan tersebut. Situasi ini menambah sorotan terhadap hubungan AS–Iran yang kembali memanas sekaligus membuka kemungkinan perubahan arah diplomasi dalam waktu dekat.

(*)

Back to top button