Iran Tegaskan Syarat Keamanan di Selat Hormuz, Minta Kepastian Keamanan dari AS dan Israel

POJOKNEGERI.com – Pemerintah Iran kembali menegaskan sikap kerasnya terkait situasi keamanan di kawasan Teluk Persia. Iran menyatakan bahwa stabilitas regional hanya dapat tercapai jika Amerika Serikat (AS) dan Israel memberikan jaminan yang kredibel untuk menghentikan seluruh bentuk serangan terhadap Teheran.
Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Amir Saeid Iravani, menyampaikan pernyataan tersebut dalam sesi Dewan Keamanan PBB yang Bahrain inisiasi di markas besar PBB pada Senin (27/4).
Dalam pertemuan itu, puluhan negara anggota mengecam tindakan Iran yang mereka sebut telah memperketat kendali di Selat Hormuz. Ini merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia.
Iran Tegaskan Syarat Stabilitas Kawasan
Dalam pidatonya di hadapan Dewan Keamanan, Iravani menegaskan bahwa Iran hanya akan melihat stabilitas kawasan sebagai sesuatu yang mungkin tercapai jika pihak-pihak yang terlibat menghentikan agresi secara permanen.
Ia menekankan bahwa jaminan keamanan dari pihak yang Iran anggap sebagai ancaman harus bersifat nyata.
“Stabilitas dan keamanan yang langgeng di Teluk Persia dan kawasan yang lebih luas hanya dapat tercapai melalui penghentian agresi yang berkelanjutan dan permanen terhadap Iran. Dan dengan jaminan yang kredibel untuk tidak terulangnya serangan dan penghormatan penuh terhadap hak dan kepentingan kedaulatan Iran yang sah,” tegas Iravani.
Ia menegaskan bahwa Iran tidak dapat menerima kondisi keamanan yang masih menyisakan potensi serangan di masa depan. Terutama dari AS dan Israel yang selama ini menjadi sorotan utama dalam pernyataan Teheran.
Tuduhan Keras terhadap Amerika Serikat
Setelah sesi Dewan Keamanan, Iravani memperkuat kritiknya terhadap Amerika Serikat dengan menuduh Washington melakukan tindakan yang merugikan navigasi internasional. Ia menyebut AS bertindak agresif terhadap kapal-kapal dagang Iran melalui penyitaan dan penahanan awak kapal.
“Amerika Serikat bertindak seperti bajak laut dan teroris, menargetkan kapal-kapal komersial melalui paksaan dan intimidasi, meneror awak kapal, secara ilegal menyita kapal, dan menyandera anggota awak kapal,” sebutnya.
Ia juga mengkritik negara-negara anggota Dewan Keamanan PBB karena tidak memberikan respons yang seimbang terhadap tindakan tersebut menurut versi Iran. Serta mengabaikan isu blokade laut yang Teheran tuduhkan.
Ketegangan di Jalur Strategis Selat Hormuz
Iravani turut menyoroti meningkatnya ketegangan di kawasan maritim setelah Iran menuding AS dan Israel melakukan eskalasi militer yang memperburuk situasi keamanan. Ia menilai tindakan tersebut sebagai bagian dari konflik yang lebih luas yang berdampak pada stabilitas global.
“Sejak 28 Februari, Amerika Serikat dan rezim Israel mengobarkan perang agresi skala besar yang tidak beralasan terhadap Iran,” kata Iravani.
Ia menuduh tindakan tersebut melanggar Piagam PBB dan mengancam keamanan internasional, terutama di jalur vital perdagangan minyak dunia.
Iran Klaim Langkah Pengamanan Jalur Laut
Di sisi lain, Iran menegaskan bahwa sebagai negara pesisir di kawasan Teluk, pihaknya telah mengambil langkah-langkah yang dianggap perlu. Hal ini untuk menjaga keselamatan pelayaran di Selat Hormuz. Iran juga mengklaim upaya tersebut bertujuan mencegah pihak lain menggunakan jalur laut strategis itu untuk kepentingan militer yang dianggap bermusuhan.
Ketegangan yang terus meningkat di kawasan ini kembali menempatkan Selat Hormuz sebagai salah satu titik paling sensitif dalam geopolitik global. Terutama karena perannya dalam distribusi energi dunia.
(*)

