Internasional

Ketegangan Meningkat, Iran Siap Melawan AS dan Israel Jika Gencatan Senjata Tidak Diperpanjang

POJOKNEGERI.com – Ketua Parlemen Iran, Mohammad Ghalibaf, memperingatkan bahwa Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) siap menggempur Amerika Serikat dan Israel jika gencatan senjata sementara yang berlaku hingga Rabu, 22 April 2026, tidak diperpanjang.

Dalam unggahan di platform X pada Senin, 20 April 2026, Ghalibaf menegaskan kesiapan Iran untuk menghadapi eskalasi lebih lanjut di medan perang. Sekaligus menegaskan bahwa pihaknya tidak akan melanjutkan perundingan damai dengan AS.

Menurut Ghalibaf, Iran sudah cukup kecewa dengan sikap Amerika Serikat. Terutama di bawah pemerintahan Donald Trump, yang dinilai tidak memiliki niat tulus dalam mengakhiri perang.

“Kami tidak menerima perundingan di bawah bayang-bayang ancaman. Dan dalam dua pekan terakhir kami telah bersiap mengungkap kartu-kartu baru di medan perang,” ujar Ghalibaf.

Ia menambahkan bahwa Iran kini lebih memilih untuk bersiap menghadapi kemungkinan konflik daripada melanjutkan pembicaraan dengan AS.

Perundingan Damai yang Gagal

Pada 8 April 2026, Iran dan Amerika Serikat sepakat untuk menghentikan tembakan dalam periode gencatan senjata dua pekan yang dimulai sejak tanggal tersebut.

Gencatan senjata ini bertujuan untuk memberi ruang bagi negosiasi damai yang lebih lanjut. Beberapa hari setelahnya, kedua pihak menggelar pembicaraan di Islamabad, Pakistan, namun perundingan tersebut berakhir buntu.

Meski sudah dijadwalkan untuk melanjutkan pembicaraan pada pekan ini, Iran menolak melanjutkan negosiasi tersebut karena merasa Amerika Serikat tidak mematuhi kesepakatan yang telah disetujui.

Menurut Ghalibaf, Amerika Serikat, dalam pandangannya, melanggar gencatan senjata dengan mengirimkan blokade ke Selat Hormuz dan menyerang kapal-kapal Iran.

Hal ini, menurutnya, tidak hanya mencederai gencatan senjata, tetapi juga berusaha untuk mengubah meja perundingan menjadi sarana untuk menyerah.

“Trump, dengan menerapkan blokade dan melanggar gencatan senjata. Berusaha mengubah meja perundingan ini dalam imajinasinya sendiri menjadi meja penyerahan diri atau sebagai pembenaran untuk kembali menyalakan perang,” kata Ghalibaf.

Kata Trump tentang Gencatan Senjata

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memiliki pandangan yang berbeda mengenai kelanjutan gencatan senjata ini.

Dalam wawancara dengan Bloomberg pada Senin, 20 April 2026, Trump menyatakan bahwa sangat kecil kemungkinan untuk memperpanjang gencatan senjata.

“Sangat kecil kemungkinan saya akan memperpanjangnya,” kata Trump, seperti yang dilaporkan oleh CNN.

Pernyataan ini mencerminkan sikap pesimistis dari pihak AS terhadap potensi kesepakatan lebih lanjut dengan Iran.

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat semakin memperlihatkan ketidakmampuan kedua negara untuk mencapai kesepakatan damai yang stabil, meski ada upaya diplomatik sebelumnya. Bagi Iran, perundingan di bawah tekanan dan ancaman jelas tidak dapat diterima. Sementara itu, Amerika Serikat, meski merasa tidak puas dengan perilaku Iran, berupaya mempertahankan strategi tekanan maksimal.

Jika gencatan senjata ini berakhir tanpa kesepakatan lebih lanjut, ketegangan yang sudah memuncak ini berpotensi berubah menjadi konflik terbuka. Dengan dampak yang luas bagi kawasan Timur Tengah dan bahkan kestabilan global.

(*)

Back to top button