
POJOKNEGERI.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan sejumlah pernyataan kontroversial dalam wawancara dengan Axios yang kemudian dilaporkan ulang oleh Anadolu Agency dan New York Post, Jumat (19/6).
Dalam wawancara tersebut, Trump membahas hubungan Amerika Serikat dengan Israel, konflik regional di Timur Tengah, serta pengaruhnya terhadap kebijakan militer Tel Aviv.
Klaim Pengaruh atas Israel dan Kekuatan Militer AS
Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat memegang peran kunci dalam menopang kekuatan Israel. Ia bahkan menyampaikan pernyataan keras mengenai ketergantungan Israel terhadap dukungan Washington.
“Jika bukan karena Donald Trump — dan Bibi Netanyahu bekerja sama secara baik dengan saya, tetapi dia akan memberitahu Anda, kamilah yang memiliki senjata, kamilah yang mendapatkan seluruh kesepakatan, kamilah yang memiliki pesawat pengebom B-2, dan lain-lain,” kata Trump kepada reporter Axios, Mark Caputo.
“Jika bukan karena Donald Trump, Israel akan hancur lebur,” serta menegaskan kembali, “Tanpa Amerika Serikat, tidak akan ada Israel,”.
Dalam pernyataan itu, Trump juga menyoroti kekuatan militer AS dan peran persenjataan yang menurutnya menentukan keseimbangan kekuatan di kawasan.
Hubungan dengan Netanyahu dan Klaim Pengaruh Langsung
Trump juga menyinggung hubungan dekatnya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Ia mengklaim memiliki pengaruh langsung terhadap keputusan politik dan militer Israel, termasuk dalam konteks konflik di Lebanon.
Ia menyatakan bahwa dirinya dapat memengaruhi tindakan Israel terhadap kelompok Hizbullah.
“Iya, saya akan mampu melakukannya, tegas Trump.
Lebih jauh, Trump menambahkan klaim mengenai kepatuhan pejabat Israel terhadap arahannya.
“Mereka sangat menghormati saya, dan mereka melakukan apa yang saya katakan,” ucapnya dengan yakin.
Kritik terhadap Kelompok Garis Keras di Israel
Dalam wawancara tersebut, Trump juga mengungkapkan kritik terhadap kelompok politik tertentu di Israel yang mendorong eskalasi konflik, khususnya terkait Iran. Ia menyebut bahwa dirinya telah kehilangan rasa hormat terhadap kelompok tersebut.
Trump mengatakan bahwa dirinya tidak sepakat dengan dorongan perang tanpa batas yang menurutnya dapat memperburuk stabilitas kawasan Timur Tengah. Ia menegaskan bahwa pendekatannya lebih mengarah pada pengendalian eskalasi konflik melalui pengaruh diplomatik.
Isu Lebanon dan Ketegangan Regional
Trump menyoroti situasi di Lebanon yang melibatkan ketegangan antara Israel dan Hizbullah. Ia mengklaim bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk menahan eskalasi militer di wilayah tersebut melalui pengaruh politik dan hubungan strategis dengan pemimpin Israel.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya perhatian internasional terhadap risiko perluasan konflik di perbatasan Israel-Lebanon, yang selama ini menjadi salah satu titik paling sensitif di kawasan tersebut.
Pernyataan Trump tersebut kembali memicu diskusi mengenai sejauh mana pengaruh Amerika Serikat terhadap kebijakan Israel, serta bagaimana hubungan pribadi antar pemimpin dapat memengaruhi dinamika geopolitik.
Meski demikian, banyak pengamat menilai bahwa klaim kontrol langsung atas keputusan militer negara lain sering kali mencerminkan retorika politik, bukan mekanisme kebijakan resmi. Namun, hubungan erat antara Washington dan Tel Aviv tetap menjadi faktor penting dalam berbagai keputusan strategis di Timur Tengah.
(*)


