
POJOKNEGERI.com – Ketua DPP Bidang Politik Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Bestari Barus, membalas tudingan yang dilontarkan politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Deddy Sitorus, terkait isu pembajakan kader partai politik.
Bestari menegaskan bahwa tuduhan tersebut tidak berdasar dan justru mencerminkan kegelisahan politik yang sedang dihadapi PDIP.
Bestari menilai pernyataan Deddy lebih banyak didorong oleh kekhawatiran terhadap perkembangan politik yang terjadi belakangan ini.
Ia menyebut tuduhan mengenai PSI yang disebut aktif merekrut kader dari partai lain tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
“Wah, campur aduk itu, kepanikan, ketakutan, segala macam gitu loh,” kata Bestari dikutip dari CNNIndonesia.
Menurut dia, perpindahan kader dari satu partai ke partai lain merupakan hal yang lumrah dalam dinamika politik demokratis.
Karena itu, ia menilai narasi pembajakan kader tidak tepat digunakan untuk menggambarkan keputusan politik yang diambil secara sukarela oleh individu.
Minta PDIP Fokus Menyapa Masyarakat
Bestari juga mengingatkan agar PDIP tidak terus-menerus menghabiskan energi untuk mengomentari langkah politik PSI. Ia menyarankan partai berlambang banteng tersebut lebih fokus membangun komunikasi dengan masyarakat dan memperkuat konsolidasi internal.
Dalam pandangannya, langkah yang lebih produktif bagi PDIP adalah melakukan safari politik dan memperluas interaksi dengan publik. Ia bahkan menyebut peran Ketua Umum PDIP, Megawati Sukarnoputri, penting dalam upaya mendekatkan partai dengan masyarakat.
Bestari menilai persaingan politik seharusnya diwarnai dengan gagasan dan kerja nyata, bukan dengan saling melontarkan tuduhan yang berpotensi memperkeruh suasana politik nasional.
Singgung Sikap PDIP terhadap Jokowi
Dalam kesempatan yang sama, Bestari kembali menyinggung hubungan PDIP dengan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo. Ia menilai PDIP masih sering membicarakan Jokowi meskipun sebelumnya menyampaikan bahwa sosok tersebut sudah tidak menjadi fokus perhatian partai.
Menurut Bestari, kondisi tersebut menunjukkan adanya kontradiksi dalam sikap politik PDIP. Ia mempertanyakan mengapa nama Jokowi masih kerap muncul dalam berbagai pernyataan politik yang disampaikan kader partai tersebut.
“Daripada ngomongin PSI, ngomongin Pak Jokowi yang katanya udah dilupakan, bagaimana sih PDIP ini,” ucap dia.
Pernyataan itu menjadi bagian dari kritik Bestari terhadap cara PDIP merespons perkembangan politik pasca-Pemilu. Ia menilai perhatian yang terlalu besar terhadap PSI maupun Jokowi justru mengalihkan fokus dari agenda yang lebih penting bagi masyarakat.
Tegaskan Kepindahannya ke PSI Dilakukan Secara Terbuka
Bestari juga secara tegas membantah tuduhan bahwa dirinya menjadi contoh praktik pembajakan kader yang dituduhkan Deddy. Ia menjelaskan bahwa keputusannya meninggalkan Partai NasDem dan bergabung dengan PSI dilakukan melalui proses yang terbuka serta penuh penghormatan terhadap pihak-pihak terkait.
Ia mengungkapkan bahwa sebelum resmi bergabung dengan PSI, dirinya telah melakukan komunikasi dengan sejumlah tokoh, termasuk Jokowi dan Ketua Umum NasDem, Surya Paloh.
“Nah jadi apa yang disampaikan Deddy ya terkait saya aja udah enggak bener, apalagi yang lainnya, sudah lah Deddy urusin rakyat, dan jadi DPR kerja bener gitu loh, saya kira itu. Jangan panik berkepanjangan,” ucap dia.
PDIP Soroti Dugaan Perekrutan Kader oleh PSI
Sebelumnya, Ketua DPP PDIP Deddy Yevri Sitorus mengungkapkan bahwa PDIP terus mencermati berbagai manuver politik PSI di sejumlah daerah. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah informasi mengenai upaya perekrutan kader partai lain untuk memperkuat basis organisasi PSI.
Menurut Deddy, informasi yang diterimanya menyebutkan bahwa sejumlah anggota legislatif, kepala daerah, hingga pengurus partai menjadi sasaran pendekatan politik PSI.
Ia bahkan mengaku mendengar adanya tawaran bantuan material kepada kader-kader yang bersedia bergabung dengan partai tersebut. Meski demikian, Deddy menegaskan bahwa dirinya belum dapat memastikan kebenaran informasi tersebut.
“Menurut info yang saya dengar, bahkan rata-rata ditawari bantuan material yang lumayan. Tidak tahu kebenarannya,” katanya.
Lebih lanjut, Deddy menyebut bahwa upaya perekrutan kader tidak hanya menyasar PDIP. Ia mengklaim gejala serupa juga terjadi di sejumlah partai lain, termasuk NasDem, Demokrat, dan PAN.
Karena itu, menurutnya, PSI tidak hanya akan berhadapan dengan PDIP, tetapi juga dengan partai-partai lain yang merasa kadernya menjadi target pendekatan politik.
“Ingat, partai-partai lain pun akan berhadapan dengan mereka karena upaya untuk membajak kader partai-partai lain. Ini banyak sekali terlihat gejalanya, terutama di basis-basis Nasdem, Demokrat, dan PAN. Jadi mereka tidak saja berhadapan dengan PDIP. Tetapi juga dengan partai-partai lain yang kadernya dipungut untuk membesarkan PSI secara instan,” katanya.
(*)
