Nasional

Presiden Prabowo Tegaskan Swasembada Pangan sebagai Prioritas Nasional

POJOKNEGERI.com – Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pemerintah menempatkan ketahanan pangan dan swasembada pangan sebagai agenda utama dalam menghadapi dinamika ekonomi global. Ia mendorong seluruh sektor terkait untuk memperkuat produksi dalam negeri guna mengurangi ketergantungan pada impor pangan yang rentan terhadap gangguan rantai pasok internasional.

Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam Rapat Paripurna DPR RI mengenai RAPBN Tahun Anggaran 2027. Dalam forum tersebut, Prabowo menekankan bahwa Indonesia harus memperkuat fondasi pangan nasional agar mampu bertahan dalam situasi global yang tidak menentu.

Prabowo menyoroti pentingnya peningkatan produksi pangan nasional sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi dan sosial. Ia mendorong peningkatan kapasitas produksi pertanian sekaligus memperkuat sistem cadangan pangan pemerintah.

“Program utama saya adalah mengamankan pangan Indonesia. Kita harus swasembada pangan,” tegasnya.

Pemerintah juga memperkuat sistem distribusi dan penyimpanan agar stok pangan nasional dapat dikelola secara optimal. Lonjakan produksi yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir bahkan memberikan dampak langsung terhadap kapasitas gudang penyimpanan milik negara.

Stok Beras Nasional Meningkat Signifikan

Pemerintah mencatat peningkatan besar pada cadangan beras nasional. Data menunjukkan stok beras pemerintah mencapai lebih dari 5,3 juta ton pada 10 Mei 2026, meningkat signifikan dibandingkan 3,25 juta ton pada Desember 2025.

Kenaikan ini menunjukkan keberhasilan peningkatan produksi dan penyerapan gabah dari petani. Namun, lonjakan tersebut juga menimbulkan tantangan baru dalam hal logistik penyimpanan.

“Cadangan yang ada di gudang pemerintah bahkan tidak cukup sehingga kita harus menyewa gudang tambahan,” ujar Prabowo.

Sektor Pertanian Perkuat Ekonomi Nasional

Selain memperkuat ketahanan pangan, sektor pertanian juga berkontribusi besar terhadap peningkatan devisa negara. Indonesia mempertahankan posisinya sebagai eksportir minyak kelapa sawit terbesar di dunia dengan nilai ekspor mencapai US$23 miliar pada 2025.

Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa nilai ekspor sektor pertanian mencapai Rp756,59 triliun sepanjang tahun lalu. Pemerintah juga berhasil menekan impor sektor pertanian hingga turun sekitar Rp41 triliun, menandakan penguatan produksi dalam negeri.

Penguatan Industri Pupuk dan Dukungan Petani

Pemerintah turut memperkuat sektor pendukung pertanian, termasuk industri pupuk, untuk meningkatkan produktivitas lahan. Indonesia bahkan mulai melakukan ekspor perdana pupuk urea ke Australia sebagai bagian dari ekspansi industri nasional.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa peningkatan produksi memberikan dampak langsung pada kesejahteraan petani.

“Ini hasil kerja bersama. Stok meningkat, produksi meningkat, dan petani semakin bergairah karena pemerintah hadir mengawal dari produksi hingga penyerapan,” imbuhnya.

Pemerintah juga menurunkan harga pupuk hingga 20 persen untuk memastikan keterjangkauan bagi petani di seluruh daerah.

Pengawasan Distribusi Diperketat

Selain meningkatkan produksi dan subsidi, pemerintah memperketat pengawasan distribusi pupuk agar tidak terjadi penyimpangan di lapangan. Prabowo menekankan pentingnya tata kelola yang bersih dalam penyaluran bantuan kepada petani.

“Kita harus menjaga bersama agar pupuk subsidi tidak diselewengkan atau diselundupkan ke tempat lain,” pungkas Prabowo.

Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah menargetkan tercapainya swasembada pangan yang berkelanjutan serta penguatan posisi Indonesia sebagai salah satu kekuatan pangan dan ekonomi di tingkat global.

(*)

Back to top button