Iran Ajukan Syarat Baru untuk Lanjutkan Perundingan dengan AS, Pencabutan Sanksi Jadi Kunci

POJOKNEGERI.com – Presiden Iran Masoud Pezeshkian meminta Amerika Serikat (AS) menghentikan tekanan politik dan ancaman militer serta mencabut sanksi terhadap Teheran sebelum kedua negara melanjutkan...

00:00 / 04:32 1×
Presiden Iran Masoud Pezeshkian
Presiden Iran Masoud Pezeshkian Foto: Dok. Pojoknegeri
Advertisement
Ruang Iklan 300 × 250 px / Responsif

POJOKNEGERI.com – Presiden Iran Masoud Pezeshkian meminta Amerika Serikat (AS) menghentikan tekanan politik dan ancaman militer serta mencabut sanksi terhadap Teheran sebelum kedua negara melanjutkan perundingan untuk mengakhiri perang.

Sikap tersebut memperlihatkan bahwa Iran masih menempatkan penghentian tekanan dan pemulihan kepercayaan sebagai syarat utama diplomasi dengan Washington.

Advertisement
Ruang Iklan 300 × 250 px / Responsif

Seperti dilansir AFP dan Anadolu Agency, Rabu (21/10/2026), Pezeshkian menyampaikan tuntutan itu saat bertemu Panglima Angkatan Bersenjata Pakistan, Asim Munir, yang berkunjung ke Teheran pada Selasa (20/10). Pakistan bersama Qatar berperan sebagai mediator dalam konflik Iran dan AS.

Iran Minta AS Bertanggung Jawab atas Perang

Dalam pertemuan tersebut, Pezeshkian menuding kebijakan Washington menjadi sumber ketegangan regional, termasuk gangguan di Selat Hormuz yang memiliki peran penting dalam jalur perdagangan energi dunia.

“Semua masalah regional, mulai dari meningkatnya ketegangan hingga gangguan di Selat Hormuz, berakar dari sikap AS yang gemar mengobarkan perang,” kata Pezeshkian, sebagaimana dilaporkan lembaga penyiaran pemerintah Iran, IRIB.

Ia juga mendesak Washington menjelaskan alasan di balik dimulainya perang yang kini berdampak terhadap kawasan.

“Amerika harus menjelaskan mengapa mereka memulai perang tersebut, dan menyeret diri mereka sendiri dan dunia ke dalamnya,” ucapnya.

Pezeshkian menegaskan bahwa Iran belum siap kembali ke meja perundingan selama AS masih menerapkan tekanan terhadap negaranya.

“Sebelum negosiasi apa pun, mereka (AS-red) harus terlebih dahulu mengakhiri tekanan dan ancaman, serta mencabut sanksi,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa masyarakat Iran masih meragukan komitmen Washington karena khawatir AS kembali melancarkan serangan setelah negosiasi dimulai.

“Saat ini, bangsa kami tidak mempercayai Amerika. Mereka meyakini jika kami memulai negosiasi, mereka akan kembali menyerang kami,” ujar Presiden Iran tersebut.

Tujuh Syarat Jadi Penentu Perundingan

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, yang juga memimpin tim negosiasi Teheran, menyampaikan sikap serupa saat bertemu Munir.

“Kami tidak memiliki hal baru untuk disampaikan; Amerika tidak akan bisa mendapatkan kepercayaan Iran kecuali jika mereka memenuhi tujuh persyaratan tersebut,” ujar Ghalibaf.

Persyaratan Iran mencakup penghentian seluruh permusuhan di Timur Tengah, termasuk di Lebanon, pencairan aset Iran yang dibekukan, pencabutan sanksi terhadap minyak Iran, serta penghentian blokade Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Tuntutan tersebut menjadi tantangan bagi upaya mediasi Pakistan dan Qatar. Kelanjutan perundingan kini bergantung pada kemungkinan kedua pihak menyepakati langkah-langkah yang dapat meredakan konflik dan membangun kembali kepercayaan.

(*)

Advertisement
Ruang Iklan 300 × 250 px / Responsif
Pojoknegeri
Redaksi Pojoknegeri

Tim redaksi Pojoknegeri menyajikan berita independen dan berimbang untuk Indonesia.

Lihat Semua Artikel
Bagikan berita ini: Facebook X (Twitter) WhatsApp Telegram