Ekonomi Global Masih Tertekan di 2026, BI Harap Pemulihan Menguat pada 2027

POJOKNEGERI.com – Bank Indonesia (BI) memandang tekanan ekonomi global masih akan membayangi negara berkembang sepanjang 2026. Konflik geopolitik yang belum mereda, kenaikan harga komoditas, serta...

00:00 / 04:32 1×
Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti
Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti Foto: Dok. Pojoknegeri
Advertisement
Ruang Iklan 300 × 250 px / Responsif

POJOKNEGERI.com – Bank Indonesia (BI) memandang tekanan ekonomi global masih akan membayangi negara berkembang sepanjang 2026.

Konflik geopolitik yang belum mereda, kenaikan harga komoditas, serta kebijakan suku bunga tinggi di sejumlah negara menjadi tantangan yang dapat memengaruhi arus modal dan stabilitas ekonomi.

Advertisement
Ruang Iklan 300 × 250 px / Responsif

Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan ketidakpastian global masih cukup tinggi akibat konflik di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina.

Kondisi tersebut berpotensi menjaga harga minyak dan gas tetap tinggi sehingga meningkatkan tekanan inflasi di berbagai negara.

“Saya gambarkan bahwa prospek ekonomi 2026 ini secara global memang agak gloomy (suram). Namun demikian, di 2027 diperkirakan akan ada perbaikan. Dari beberapa lembaga internasional, termasuk kami juga melihat bahwa 2027 ini secara global akan lebih baik dibandingkan dengan situasi pada 2026,” ujar Destry dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Gedung Parlemen, Jakarta, Senin (28/9).

Menurut Destry, tekanan harga komoditas menjadi salah satu faktor yang membuat inflasi global tetap tinggi. BI memperkirakan inflasi global berada di sekitar 4,6 persen.

Kebijakan Moneter Ketat Picu Perpindahan Modal

Tekanan inflasi kemudian mendorong bank sentral di berbagai negara mempertahankan kebijakan moneter yang ketat. Kondisi tersebut meningkatkan biaya pendanaan sekaligus memperbesar daya tarik aset yang dianggap lebih aman oleh investor.

Destry menyoroti fenomena flight to quality, yakni perpindahan dana investor dari negara berkembang menuju aset yang dinilai lebih aman, seperti dolar AS dan emas.

Kondisi itu dapat memberikan tekanan terhadap negara berkembang, termasuk Indonesia, karena berpotensi memengaruhi arus modal asing dan neraca pembayaran.

“Jadi kesimpulannya di global ini kita akan menghadapi situasi atau fenomena yang dinamakan higher for longer, yang pada akhirnya ini akan memberikan tekanan kepada negara emerging market, khususnya terkait dengan aliran modal yang masuk ke negara emerging market, termasuk Indonesia,” tuturnya.

Situasi tersebut membuat perkembangan kebijakan suku bunga global menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan Indonesia. Ketika suku bunga negara maju bertahan tinggi dalam waktu lama, investor dapat meningkatkan penempatan dananya pada aset negara maju.

BI Melihat Peluang Pemulihan pada 2027

Meski menghadapi berbagai tekanan pada 2026, BI melihat peluang perbaikan ekonomi global pada tahun berikutnya. Meredanya konflik geopolitik dapat menurunkan tekanan terhadap harga komoditas sekaligus membuka ruang bagi aktivitas ekonomi dan perdagangan dunia untuk kembali menguat.

BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi global mencapai 3,4 persen pada 2027, meningkat dari sekitar 3 persen pada 2026.

Proyeksi tersebut juga mendapat dukungan dari perkiraan sejumlah lembaga internasional. Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global sebesar 2,8 persen pada 2027, naik dari 2,5 persen pada 2026.

Sementara itu, Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan ekonomi global tumbuh 3,4 persen pada 2027, lebih tinggi dibandingkan proyeksi pertumbuhan 3 persen pada 2026.

“Dari beberapa lembaga internasional, termasuk kami juga melihat 2027 secara global akan lebih baik dibanding situasi pada 2026,” tegas Destry.

(*)

Advertisement
Ruang Iklan 300 × 250 px / Responsif
Pojoknegeri
Redaksi Pojoknegeri

Tim redaksi Pojoknegeri menyajikan berita independen dan berimbang untuk Indonesia.

Lihat Semua Artikel
Bagikan berita ini: Facebook X (Twitter) WhatsApp Telegram