DPRD Samarinda Usulkan Dana Probebaya untuk Atasi Krisis Air Bersih

00:00 / 04:32 1×
Anggota Komisi III DPRD Samarinda, Abdul Rohim
Anggota Komisi III DPRD Samarinda, Abdul Rohim Foto: Dok. Pojoknegeri
Advertisement
Ruang Iklan 300 × 250 px / Responsif

POJOKNEGERI.com – Keterbatasan air bersih yang membayangi warga Kota Samarinda mendorong DPRD mengusulkan pemanfaatan dana Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat (Probebaya) sebagai solusi alternatif di tingkat lingkungan.

Langkah ini dinilai dapat memperkuat kemandirian masyarakat ketika pasokan air dari jaringan perpipaan mengalami kendala.

Advertisement
Ruang Iklan 300 × 250 px / Responsif

Anggota Komisi III DPRD Samarinda, Abdul Rohim, menyebut ketersediaan air baku menjadi persoalan mendasar yang perlu segera ditangani.

Kemarau panjang akibat fenomena El Nino membuat sumber air baku PDAM berkurang drastis. Situasi tersebut diperparah intrusi air laut yang memengaruhi sumber air baku.

Sumur Bor dan Terminal Air Jadi Pilihan

Rohim mengusulkan agar pemerintah kota membuat diskresi terkait pemanfaatan dana Probebaya, sehingga anggaran yang telah tersedia bisa diarahkan untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih warga.

“Saya mengusulkan agar pemerintah membuat kebijakan khusus terkait pemanfaatan dana Probebaya, mengingat anggaran tersebut sudah tersedia dan dapat dipertimbangkan untuk membantu mengatasi persoalan air bersih,” ujarnya.

Ia menawarkan dua skema yang dapat dipertimbangkan. Pertama, pembangunan sumur bor agar masyarakat memiliki akses terhadap air baku secara mandiri.

Kedua, penyediaan terminal air bersih di titik-titik strategis dengan tandon berkapasitas sekitar 12.000 liter, lengkap dengan instalasi dan dudukannya.

Fasilitas tersebut nantinya dapat diisi melalui suplai PDAM dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) pada waktu tertentu.

Dengan begitu, setiap RT atau kelurahan diharapkan memiliki cadangan air untuk memenuhi kebutuhan warga.

Rohim menegaskan, kesulitan air bersih saat ini tidak semata-mata berkaitan dengan distribusi, melainkan juga keterbatasan air baku yang tersedia.

“PDAM tidak bisa sepenuhnya disalahkan, karena kondisi saat ini memang dipengaruhi sulitnya mendapatkan air baku,” katanya.

(advdprdsmd)

Advertisement
Ruang Iklan 300 × 250 px / Responsif
Pojoknegeri
Redaksi Pojoknegeri

Tim redaksi Pojoknegeri menyajikan berita independen dan berimbang untuk Indonesia.

Lihat Semua Artikel
Bagikan berita ini: Facebook X (Twitter) WhatsApp Telegram