
POJOKNEGERI.com – Pemerintah mulai menyiapkan langkah agresif untuk mengangkat laju pertumbuhan ekonomi nasional pada paruh kedua 2026.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pemerintah akan memaksimalkan seluruh instrumen fiskal yang tersedia agar aktivitas ekonomi domestik semakin kuat dan target pertumbuhan sekitar 6 persen dapat tercapai.
Purbaya menilai penguatan peran pemerintah melalui kebijakan fiskal menjadi kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Menurutnya, ekonomi nasional memiliki ruang untuk tumbuh lebih tinggi apabila belanja pemerintah dan aktivitas sektor swasta dapat berjalan secara bersamaan.
“Saya akan memastikan pada paruh kedua tahun ini ekonomi kita bisa tumbuh sekitar 6 persen. Saya akan mengerahkan semua instrumen yang ada di pasar, seluruh kebijakan yang memungkinkan dari sisi fiskal untuk memastikan ekonomi domestik dapat tumbuh sesuai potensinya,” ujar Purbaya dalam acara GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) di ICE BSD City, Tangerang, Selasa (4/8).
Ia mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada dua kuartal pertama 2026 telah berada di atas 5,4 persen. Capaian tersebut menjadi dasar optimisme pemerintah untuk mendorong pertumbuhan lebih tinggi hingga akhir tahun.
Menurut Purbaya, pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat akan memberikan dampak langsung terhadap peningkatan permintaan domestik dan mempercepat perkembangan sektor usaha.
Pemerintah berharap kebijakan fiskal yang dijalankan mampu menciptakan efek berganda bagi perekonomian nasional.
Dua Mesin Pertumbuhan Jadi Kunci
Purbaya juga menilai target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto dapat dikejar apabila pemerintah dan sektor swasta mampu menjadi penggerak utama secara bersamaan.
Ia menyebut sektor pemerintah dan dunia usaha merupakan dua mesin pertumbuhan yang harus bergerak dalam arah yang sama. Ketika keduanya berjalan optimal, pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dinilai semakin terbuka untuk dicapai.
“Pertumbuhan 6 persen tidak terlalu sulit dicapai jika sektor swasta dikombinasikan dengan sektor pemerintah. Angka di atas itu juga tidak terlalu sulit. Pertumbuhan 6,5 persen relatif mudah dicapai jika saya bisa memastikan kedua mesin pertumbuhan tersebut bergerak pada saat yang bersamaan,” ujar Purbaya.
Sebelumnya, Purbaya memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 berada pada rentang 5,6 persen hingga 6 persen secara tahunan. Proyeksi tersebut didukung oleh koordinasi kebijakan antara pemerintah dan anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
“Dengan sinergi kebijakan tersebut, pertumbuhan ekonomi untuk keseluruhan tahun 2026 diperkirakan berada dalam kisaran 5,6 sampai 6 persen year on year, ditopang berbagai sinergi kebijakan pemerintah dan lembaga anggota KSSK lainnya untuk menjaga berlanjutnya momentum pertumbuhan,” ujar Purbaya dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala KSSK III Tahun 2026 di Kantor LPS, Jakarta, Senin (3/8).
Hadapi Tekanan Global
Di tengah upaya mempercepat pertumbuhan, pemerintah juga tetap mewaspadai berbagai risiko eksternal yang dapat memengaruhi perekonomian nasional. Purbaya menyebut tekanan global meningkat akibat konflik geopolitik, kenaikan harga energi, volatilitas pasar keuangan, hingga tekanan terhadap nilai tukar dan arus modal.
Meski demikian, hasil asesmen KSSK menunjukkan kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan Indonesia masih berada dalam kondisi terjaga.
“Hasil asesmen KSSK menunjukkan bahwa kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan selama kuartal II 2026 tetap terjaga di tengah konflik geopolitik yang kembali meningkat, didukung koordinasi dan sinergi kebijakan yang erat antarotoritas,” katanya.
Purbaya menegaskan pemerintah bersama KSSK akan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan ekonomi dan sektor keuangan. Langkah mitigasi akan dilakukan secara terkoordinasi untuk menjaga stabilitas sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan.
“KSSK akan terus mencermati dan melakukan asesmen forward looking atas kinerja perekonomian dan sektor keuangan terkini seiring ketidakpastian ekonomi global yang meningkat, sekaligus melakukan upaya mitigasi secara terkoordinasi,” ujarnya.
(*)

