Tonton Video Langsung Tanpa Membaca Berita
Ekonomi

Kebijakan Trump Guncang Ekonomi Dunia

POJOKNEGERI.COM — Sepanjang 2025, perekonomian global menghadapi ketidakpastian akibat sejumlah kebijakan kontroversial Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Trump menerapkan tarif resiprokal terhadap mitra dagang, meningkatkan eskalasi perang tarif dengan China, dan menyampaikan pernyataan terbuka mengenai kebijakan moneter AS.

Langkah-langkah tersebut mengguncang pasar keuangan, perdagangan internasional, dan rantai pasok global.

Kebijakan ekonomi Gedung Putih sepanjang tahun ini memicu volatilitas tinggi di pasar global. Investor, pelaku usaha, dan pemerintah di berbagai negara harus menghadapi situasi yang berubah cepat, karena Trump sering mengumumkan keputusan secara mendadak dengan retorika keras.

Tarif Resiprokal dan “Liberation Day”

Trump mengumumkan kebijakan tarif resiprokal pada 2 April 2025 dan menyebutnya sebagai “Liberation Day”. Dalam kebijakan tersebut, pemerintah AS menetapkan tarif impor dasar sebesar 10 persen terhadap seluruh barang yang masuk ke Amerika Serikat.

Selain itu, pemerintah AS menambahkan tarif khusus kepada sejumlah negara tertentu, dengan besaran sesuai kondisi neraca perdagangan masing-masing negara terhadap AS.

Indonesia termasuk negara yang terkena tarif di atas tarif dasar. Pada tahap awal, pemerintah AS mengenakan tarif sebesar 32 persen terhadap produk asal Indonesia.

Kebijakan ini menimbulkan kekhawatiran atas daya saing ekspor Indonesia ke pasar Amerika Serikat, terutama bagi sektor-sektor yang bergantung pada pasar AS.

Namun, hanya beberapa hari setelah pengumuman, Trump kembali membuat keputusan mengejutkan. Pemerintah AS menunda penerapan tarif resiprokal spesifik negara selama 90 hari bagi sebagian besar mitra dagang, meski tarif dasar 10 persen tetap berlaku.

Penundaan ini membuka ruang negosiasi antara Amerika Serikat dan negara-negara terdampak. Tenggat waktu negosiasi berakhir pada 1 Agustus 2025. Menjelang batas tersebut, Gedung Putih mengumumkan struktur tarif terbaru pada akhir Juli 2025.

Dalam skema baru, pemerintah AS tetap menerapkan tarif universal 10 persen kepada negara-negara yang lebih banyak menyerap ekspor AS dibandingkan mengirimkan barang ke pasar Amerika.

Hasil negosiasi pun bervariasi. Beberapa negara berhasil menurunkan tarif, sementara negara lain justru menghadapi kenaikan bea masuk.

Indonesia berhasil menekan tarif dari semula 32 persen menjadi 19 persen setelah mencapai sejumlah kesepakatan bilateral dengan Amerika Serikat.

Eskalasi Perang Tarif dengan China

Ketegangan ekonomi global semakin memuncak pada April 2025 ketika hubungan dagang Amerika Serikat dan China kembali memanas. Sebagai dua ekonomi terbesar dunia, Washington dan Beijing saling menaikkan tarif secara ekstrem.

Pada 3 April 2025, Trump menetapkan tarif awal sebesar 34 persen terhadap produk asal China. Beijing merespons dengan tarif balasan sebesar 34 persen terhadap barang-barang Amerika Serikat.

Ketegangan meningkat cepat. Pada 9 April 2025, AS menaikkan tarif menjadi 104 persen, dan China membalas dengan tarif 84 persen sehari kemudian.

Amerika Serikat kemudian menaikkan tarif menjadi 125 persen, dan China membalas dengan tarif serupa. Eskalasi terus berlanjut hingga 16 April 2025, ketika AS menaikkan tarif terhadap produk China hingga mencapai 245 persen.

Rangkaian saling balas ini mengguncang pasar keuangan global. Volatilitas meningkat tajam, investor menghindari aset berisiko, dan kekhawatiran terhadap gangguan rantai pasok serta perlambatan ekonomi dunia kembali mencuat.

Tekanan pasar yang semakin besar akhirnya mendorong kedua negara menahan eskalasi. Pada pertengahan Mei 2025, Washington dan Beijing mencapai kesepakatan sementara untuk menurunkan tarif resiprokal ke kisaran 10 persen.

Keduanya kemudian memperpanjang kesepakatan ini beberapa kali hingga akhir tahun, termasuk setelah pertemuan antara Trump dan Presiden China Xi Jinping.

Pernyataan Trump dan Gejolak Pasar Saham

Selain kebijakan tarif, Trump juga berulang kali memicu reaksi pasar lewat pernyataan di media sosial. Di tengah gejolak tarif pada April 2025, Trump menulis unggahan singkat di Truth Social berbunyi, “THIS IS A GREAT TIME TO BUY!!!”.

Unggahan tersebut muncul hanya beberapa jam sebelum pemerintah AS mengumumkan penundaan tarif resiprokal selama 90 hari.

Tak lama setelah pengumuman resmi, pasar saham Amerika Serikat reli tajam dan berhasil membalikkan penurunan yang terjadi sejak awal April.

Momen ini memicu perdebatan luas mengenai sensitivitas pasar terhadap pernyataan presiden, serta pengaruh langsung kebijakan dan komunikasi politik terhadap pergerakan pasar keuangan global.

Sepanjang 2025, rangkaian kebijakan ekonomi Trump menciptakan ketidakpastian signifikan. Perdagangan internasional, arus investasi, dan stabilitas pasar global terus menghadapi ujian, sehingga tahun ini tercatat sebagai salah satu periode paling bergejolak dalam dinamika ekonomi global modern.

(*)

Back to top button