Internasional
Sedang tren

Mojtaba Khamenei Akui Sempat Berbeda Pandangan, Akhirnya Setujui Kesepakatan dengan AS

POJOKNEGERI.com – Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menyatakan persetujuannya terhadap kesepakatan damai antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang telah ditandatangani oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden AS Donald Trump.

Meski mengakui sempat memiliki pandangan berbeda terkait kesepakatan tersebut, Mojtaba akhirnya memberikan izin setelah menerima jaminan dari pemerintah Iran mengenai perlindungan hak-hak bangsa Iran dan Front Perlawanan.

Pernyataan itu disampaikan melalui pesan yang dibacakan di televisi pemerintah Iran dan menjadi tanggapan resmi pertama Mojtaba sejak kedua negara menandatangani nota kesepahaman (MoU) secara jarak jauh pada Rabu (17/6) waktu setempat.

Dalam pernyataannya, Mojtaba memuji upaya para pejabat Iran yang terlibat dalam proses diplomasi hingga tercapainya kesepakatan tersebut. Menurutnya, para pejabat telah bekerja dengan niat baik dan penuh tanggung jawab untuk mencapai hasil yang menguntungkan bagi negara.

“Dalam proses mencapai tahap ini, para pejabat, tentu dengan belas kasih dan niat baik, telah melakukan banyak upaya. Dan tentu saja, Presiden AS-lah yang, karena putus asa, menggunakan berbagai titik tawar untuk tujuan ini,” kata Mojtaba.

Kritik terhadap Trump

Meskipun menyetujui kesepakatan damai, Mojtaba tetap melontarkan kritik kepada Presiden AS Donald Trump. Ia menilai Trump berada dalam posisi yang sangat membutuhkan tercapainya kesepakatan sehingga menggunakan berbagai cara dan instrumen diplomatik untuk mewujudkan tujuan tersebut.

Pernyataan tersebut mencerminkan sikap Iran yang tetap berhati-hati dalam membangun hubungan dengan Washington meskipun kedua negara telah mencapai kesepakatan penting. Mojtaba menegaskan bahwa persetujuannya tidak berarti Iran menerima seluruh pandangan atau tuntutan yang diajukan oleh pihak AS.

Ia juga menegaskan bahwa pemerintah Iran tetap berkomitmen mempertahankan kepentingan nasional dan tidak akan mengorbankan prinsip-prinsip yang selama ini menjadi dasar kebijakan luar negeri negara tersebut.

Alasan Mojtaba Menyetujui Kesepakatan

Mojtaba mengungkapkan bahwa dirinya semula memiliki pandangan berbeda mengenai nota kesepahaman yang disepakati kedua negara. Namun, ia memutuskan memberikan persetujuan setelah menerima komitmen langsung dari Presiden Pezeshkian dan anggota Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.

“Pada prinsipnya, saya memiliki pandangan yang berbeda (mengenai nota kesepahaman), tetapi saya memberikan izin saya karena komitmen yang diberikan oleh Presiden (Iran) yang terhormat, sebagai ketua Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, atas nama dirinya sendiri dan anggota lainnya untuk melindungi hak-hak bangsa Iran dan Front Perlawanan,” ucap Mojtaba.

Menurutnya, komitmen tersebut menjadi faktor utama yang mendorongnya mendukung proses perdamaian dan membuka jalan bagi dimulainya tahap baru hubungan Iran dan AS.

Isi Kesepakatan dan Langkah Selanjutnya

Kesepakatan yang ditandatangani Iran dan AS mencakup sejumlah poin penting. Kedua negara sepakat mengakhiri permusuhan secara permanen di berbagai front, termasuk Lebanon, serta menerapkan gencatan senjata selama 60 hari. Kesepakatan itu juga mencakup pencabutan blokade AS terhadap Iran, pemulihan lalu lintas komersial di Selat Hormuz, pembahasan program rekonstruksi senilai US$300 miliar, dan pencabutan sejumlah sanksi ekonomi.

Kesepakatan tersebut berpotensi membuka kembali akses Iran ke perekonomian global apabila Teheran memenuhi seluruh komitmen yang telah disepakati dalam dokumen tersebut.

Mojtaba menegaskan bahwa negosiasi lanjutan yang akan berlangsung secara langsung di masa depan tidak akan mengubah prinsip dasar Iran dalam menghadapi AS.

“Jelas bahwa negosiasi tatap muka yang akan berlangsung di masa mendatang, tidak akan berarti menerima sudut pandang musuh,” tegasnya.

(*)

Back to top button