Iran Kecam Serangan Terbaru AS, Nilai Trump Langgar Gencatan Senjata

POJOKNEGERI.com – Iran kembali melontarkan kecaman keras terhadap Amerika Serikat setelah militer AS melancarkan serangan terbaru ke sejumlah target di wilayah Iran.
Pemerintah Iran menilai operasi militer tersebut tidak hanya memperburuk situasi keamanan kawasan, tetapi juga mencederai komitmen yang telah dibangun melalui kesepakatan gencatan senjata dan nota kesepahaman (MoU) yang baru disepakati di Swiss.
Ketua Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menyatakan Presiden AS, Donald Trump telah menunjukkan sikap yang bertentangan dengan semangat diplomasi.
Menurutnya, tindakan militer Amerika Serikat membuktikan bahwa Washington tidak menjalankan komitmennya terhadap hasil perundingan maupun kesepakatan penghentian konflik.
“Pelanggaran gencar terhadap gencatan senjata ini, seperti yang selalu terjadi, hanya akan berujung pada kemunduran dan penyesalan di pihak mereka,” kata Azizi seperti dikutip Al Jazeera.
Azizi juga menegaskan bahwa saling menyalahkan tidak lagi menjadi solusi atas meningkatnya ketegangan antara kedua negara. Ia meminta semua pihak melihat tindakan nyata yang terjadi di lapangan dibandingkan sekadar mengeluarkan pernyataan politik.
“Saling menyalahkan tidak lagi berhasil,” tambah Azizi melalui akun X miliknya.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya eskalasi konflik yang kembali melibatkan aksi militer kedua negara dalam beberapa hari terakhir.
Garda Revolusi Balas Serangan Amerika Serikat
Sebagai respons terhadap operasi militer Amerika Serikat, Korps Garda Revolusi Iran mengumumkan telah melancarkan serangan terhadap sejumlah lokasi milik AS di kawasan Teluk pada Sabtu (27/6).
Iran menyebut operasi tersebut sebagai bentuk balasan langsung atas serangan yang sebelumnya dilakukan oleh militer Amerika di wilayahnya.
Pihak Garda Revolusi menegaskan bahwa Iran tidak akan tinggal diam apabila Washington kembali melakukan aksi militer. Mereka bahkan mengingatkan bahwa respons berikutnya dapat berlangsung dalam skala yang lebih besar.
“Jika agresi tersebut terulang, tanggapan kami akan lebih luas daripada ini,” ujar pihak Garda Revolusi, sebagaimana dikutip dari AFP.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa ketegangan antara kedua negara masih berada pada level yang tinggi. Ancaman balasan dari Iran juga meningkatkan kekhawatiran terhadap kemungkinan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah, khususnya di sekitar Teluk dan jalur pelayaran internasional.
CENTCOM Sebut Serangan Sebagai Respons
Di sisi lain, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan bahwa operasi militer yang dilakukan pada Jumat merupakan tanggapan atas serangan terhadap kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.
Dalam keterangannya, CENTCOM menyebut pesawat tempur Amerika menghantam sejumlah fasilitas militer Iran yang dinilai memiliki peran penting dalam mendukung kemampuan pertahanan negara tersebut.
“Sebuah pesawat AS menyerang lokasi penyimpanan rudal dan drone Iran, serta fasilitas radar di pesisir pantai,” ujar CENTCOM, melansir Anadolu.
Seorang pejabat senior Amerika Serikat juga mengungkapkan bahwa operasi tersebut menyasar empat target yang berada di sepanjang pesisir Iran yang berbatasan dengan Selat Hormuz dan Pulau Qeshm. Menurut pejabat tersebut, enam pesawat militer Amerika dikerahkan untuk melaksanakan serangan terhadap sasaran yang telah ditentukan.
Serangan terbaru dan aksi balasan dari Iran kembali memperlihatkan rapuhnya stabilitas keamanan di kawasan. Situasi ini memicu perhatian masyarakat internasional karena setiap eskalasi yang terjadi di sekitar Selat Hormuz berpotensi mengganggu jalur perdagangan dan distribusi energi dunia. Hingga kini, ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat masih terus berlangsung, sementara berbagai pihak terus memantau perkembangan situasi untuk mencegah konflik berkembang menjadi lebih luas.
(*)


