Gelombang Kebangkrutan Melanda Amerika Serikat

POJOKNEGERI.COM – Gelombang kebangkrutan melanda Amerika Serikat sepanjang 2025 dan menghantam hampir seluruh lapisan perekonomian.
Mulai dari perusahaan raksasa, usaha kecil, hingga rumah tangga, tekanan finansial kian terasa di tengah kenaikan biaya hidup, pengetatan kredit, serta ketidakpastian geopolitik global yang belum mereda.
Data terbaru menunjukkan kebangkrutan perusahaan besar di AS telah mencapai level tertinggi dalam 15 tahun terakhir. Berbeda dengan krisis ekonomi sebelumnya, kebangkrutan kali ini tidak terkonsentrasi pada sektor tertentu, melainkan menyebar luas ke berbagai industri. Sebuah pola yang tidak lazim oleh para pakar kepailitan.
Direktur Eksekutif American Bankruptcy Institute (ABI), Amy Quackenboss, menilai tekanan ekonomi saat ini datang dari berbagai arah sekaligus.
“Kenaikan biaya, kondisi kredit yang lebih ketat, dan volatilitas geopolitik yang berkelanjutan terus memberikan tekanan pada rumah tangga dan bisnis yang sudah berada dalam kondisi keuangan rapuh,” ujar Quackenboss.
Pandangan serupa datang dari Robert Stark, mitra firma hukum Brown Rudnick sekaligus Ketua Praktik Kepailitan dan Restrukturisasi Perusahaan. Ia menyebut pola kebangkrutan yang terjadi pada 2025 sebagai sesuatu yang jarang ditemui dalam kariernya.
“Biasanya, kebangkrutan melekat pada industri yang sama. Namun sekarang, kebangkrutan tampaknya terjadi di mana-mana,” kata Stark. Menurutnya, kondisi ini sangat tidak biasa dalam lebih dari 30 tahun pengalamannya menangani perkara kepailitan.
Perusahaan Besar yang Bangkrut
Sepanjang 2025, sejumlah perusahaan besar mengajukan perlindungan kebangkrutan. Di antaranya adalah perusahaan akomodasi Sonder, maskapai Spirit Airlines, produsen makanan Del Monte Foods, peritel Claire’s, serta Omnicare, anak usaha CVS Health. Seluruh perusahaan tersebut melaporkan kewajiban keuangan lebih dari US$1 miliar atau sekitar Rp15,8 triliun, menjadikannya sebagai deretan kebangkrutan korporasi terbesar tahun ini.
Berdasarkan data S&P Global Market Intelligence, hingga November 2025 tercatat 717 pengajuan kebangkrutan perusahaan di Amerika Serikat . Angka ini telah melampaui total kebangkrutan sepanjang 2024 yang mencapai 687 kasus. Bahkan, tanpa menghitung data Desember, 2025 sudah mencatat jumlah kebangkrutan tahunan tertinggi sejak 2010, ketika pengajuan mencapai 828 kasus.
Dari sisi sektoral, industri menjadi kelompok yang paling tertekan. Sebanyak 110 perusahaan industri mengajukan kebangkrutan hingga November 2025. Tekanan ini berkaitan dengan meningkatnya biaya produksi, lemahnya permintaan, serta dampak suku bunga tinggi terhadap pembiayaan.
Sektor barang konsumsi non-esensial berada di posisi berikutnya dengan 85 pengajuan kebangkrutan. Penurunan daya beli masyarakat dan perubahan pola konsumsi menjadi faktor utama yang mempersempit ruang gerak sektor ini. Sementara itu, sektor kesehatan mencatat 46 perusahaan yang mengajukan kebangkrutan, mencerminkan beratnya beban operasional dan biaya tenaga kerja.
Tekanan finansial juga secara signifikan oleh pelaku usaha kecil rasakan. Sistem kepailitan Amerika Serikat menyediakan jalur khusus melalui Subbab V Bab 11 bagi perusahaan kecil dan individu dengan total utang hingga US$3.024.725. Atau sekitar Rp47,8 miliar. Skema ini dirancang lebih sederhana dan cepat dibandingkan proses kepailitan konvensional.
Data Epiq Bankruptcy Analytics menunjukkan pengajuan kebangkrutan melalui Subbab V terus meningkat. Hingga pertengahan Desember 2025, jumlah pengajuan telah menembus lebih dari 2.300 kasus, naik hampir 10 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada November saja, tercatat 223 pengajuan Subbab V, melonjak 23 persen secara tahunan, menurut ABI.
Lonjakan ini menunjukkan semakin banyak pelaku usaha kecil yang kesulitan bertahan di tengah tekanan biaya operasional, keterbatasan akses kredit, dan ketidakpastian pasar.
Kebangkrutan Individu Ikut Meningkat
Tak hanya korporasi, kebangkrutan individu juga meningkat seiring membengkaknya biaya hidup. Pengajuan kebangkrutan pribadi naik 8 persen menjadi 40.973 kasus pada November 2025, dibandingkan 37.814 kasus pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pengajuan Bab 7, atau kebangkrutan likuidasi, mengalami kenaikan paling tajam. Jumlahnya melonjak 11 persen menjadi 25.329 kasus. Skema ini umumnya dipilih oleh individu yang tidak lagi mampu memenuhi kewajiban utangnya dan harus melepas aset untuk membayar kreditur.
Sementara itu, pengajuan Bab 13, yang memungkinkan individu melunasi sebagian atau seluruh utangnya melalui skema cicilan terstruktur, meningkat 5 persen menjadi 15.558 kasus.
Meski kebangkrutan sering dipandang sebagai tanda kegagalan, ABI menilai mekanisme ini tetap berperan penting dalam sistem ekonomi. Menurut Quackenboss, kebangkrutan dapat menjadi jalan bagi keluarga dan perusahaan untuk mendapatkan kesempatan memulai kembali.
“Bagi keluarga dan perusahaan yang terbebani utang, kebangkrutan tetap menjadi jalur penting untuk memulihkan stabilitas dan membangun kembali masa depan keuangan yang lebih kuat,” ujarnya.
Lonjakan kebangkrutan sepanjang 2025 menjadi sinyal bahwa pemulihan ekonomi Amerika Serikat masih menghadapi tantangan besar. Tekanan biaya hidup, ketatnya kredit, serta ketidakpastian global diperkirakan akan terus membayangi kinerja dunia usaha dan kondisi keuangan rumah tangga dalam waktu ke depan.
(*)


