Ducati Siapkan Duet Maut Marc Márquez-Pedro Acosta, Akui Bisa Ada Drama di Garasi

POJOKNEGERI.com – Ducati berpotensi menghadirkan salah satu duet paling menarik dalam sejarah MotoGP ketika Pedro Acosta bergabung dengan tim pabrikan asal Borgo Panigale itu dan bertandem dengan Marc Márquez.
Meski menyatukan dua pebalap dengan ambisi besar bisa memunculkan persaingan sengit, Ducati justru melihat situasi tersebut sebagai keuntungan besar untuk menghadapi persaingan gelar juara dunia.
Pedro Acosta akan meninggalkan KTM pada akhir MotoGP 2026 untuk memulai babak baru bersama Ducati. Pebalap muda asal Spanyol itu akan mengisi posisi yang ditinggalkan Francesco Bagnaia, yang memilih melanjutkan karier bersama Aprilia.
Acosta datang ke Ducati dengan reputasi sebagai salah satu talenta terbesar MotoGP. Pada musim keduanya di kelas premier, pebalap berjuluk “Si Hiu” itu mampu mengakhiri musim di posisi keempat klasemen akhir. Performa tersebut semakin memperkuat keyakinan banyak pihak bahwa Acosta memiliki kemampuan untuk menjadi penantang serius gelar juara dunia.
Bersama Ducati, Acosta akan mendapatkan kesempatan untuk mengukur kemampuannya secara langsung melawan Marc Márquez dengan motor yang sama. Situasi itu diprediksi akan menciptakan persaingan internal yang menarik, mengingat kedua pebalap sama-sama memiliki target menjadi yang terbaik.
Ducati Percaya Bisa Mengelola Persaingan Dua Bintang
Direktur Ducati Mauro Grassilli menyadari potensi konflik yang bisa muncul ketika dua pebalap berstatus bintang berada dalam satu garasi. Namun, ia menilai memiliki dua pebalap kuat jauh lebih menguntungkan daripada membiarkan mereka menjadi rival di tim lain.
Grassilli menegaskan Ducati siap menghadapi segala kemungkinan, termasuk jika muncul perbedaan pendapat antara Acosta dan Márquez.
“Ya, tapi gesekan memang harus diciptakan. Seperti yang selalu dikatakan Gigi (Dall’Igna, manager team Ducati-red), dan saya setuju dengan dia soal ini — lebih baik memiliki dua pebalap yang kuat di tim, dan berusaha mengatur mereka daripada memiliki dua pebalap sebagai rival kami,” ucap Grassilli kepada saluran YouTube ZamTube.
Menurut Grassilli, karakter kompetitif yang dimiliki kedua pebalap justru bisa menjadi faktor positif bagi Ducati. Marc Márquez sudah dikenal sebagai salah satu pebalap paling sukses dalam sejarah MotoGP, sementara Acosta dianggap sebagai generasi baru yang siap mengambil alih panggung utama.
“Kami kenal betul Marc, tapi Pedro tidak begitu kenal dia, tapi mari berupaya mengatur hal itu dengan lebih baik. Mereka berdua kan sama-sama rider profesional, benar kan?” ujar Grassilli.
Pengalaman Ducati Jadi Modal Hadapi Tekanan
Ducati memiliki pengalaman dalam menangani situasi ketika dua pebalap kuat berada dalam satu tim. Grassilli mengungkapkan bahwa kekhawatiran serupa pernah muncul ketika Enea Bastianini bergabung, tetapi masalah besar tidak pernah terjadi.
“Kami pernah punya masalah ketika Enea (Bastianini-red) datang, sempat ada kekhawatiran akan adanya perselisihan, tapi pada akhirnya tidak ada, dengan Marc, ada kekhawatiran perselisihan, tapi nyatanya tidak ada, jadi hal ini bisa saja terjadi juga,” kata Grassilli.
Ia menilai Ducati memiliki lingkungan profesional yang mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan tim dan ambisi masing-masing pebalap.
“Saya pikir, kami cukup dewasa untuk mengatasinya,” lanjut Grassilli.
Dengan kombinasi pengalaman Márquez dan potensi besar Acosta, Ducati berpeluang memiliki salah satu susunan pebalap paling kuat di MotoGP. Tantangan terbesar bukan hanya soal kecepatan di lintasan, tetapi juga bagaimana tim mengelola dua karakter juara yang sama-sama ingin menjadi pusat perhatian.
(*)
