
POJOKNEGERI.com – Pemerintah Kota Samarinda menjadikan momentum peringatan Hari Lingkungan Hidup 2026 dengan menanam pohon dan meresmikan operasional insinerator pengolah sampah.
Kegiatan ini dipimpin langsung Wali Kota Samarinda Andi Harun di Jl. Hasanuddin, Kel.Kampung Baqa, Kec. Samarinda Seberang pada Selasa (30/6/2026).
Turut hadir dalam kesempatan ini, Wakil Wali Kota Samarinda Saefuddin Zuhri.
Saefuddin mengatakan, penanaman pohon bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan, tetapi menjadi simbol komitmen bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan dan memperkuat ketahanan iklim.
“Menanam pohon adalah bentuk kepedulian nyata terhadap lingkungan. Namun upaya menjaga bumi tidak berhenti sampai di situ, kita juga harus membangun budaya hidup bersih di tengah masyarakat,” ujarnya.
Insinerator Mulai Dioperasikan untuk Kurangi Volume Sampah
Usai melakukan penanaman pohon, Saefuddin meninjau operasional insinerator yang mulai difungsikan untuk membantu mengurangi volume sampah di Kota Samarinda.
Menurutnya, penggunaan teknologi pengolahan sampah menjadi salah satu langkah pemerintah dalam meningkatkan kualitas pengelolaan sampah.
Meski demikian, ia menegaskan keberadaan insinerator bukan menjadi alasan masyarakat mengabaikan pentingnya menjaga kebersihan.
“Teknologi hanya menjadi alat bantu. Yang paling utama tetap kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan dan mulai mengurangi sampah dari sumbernya,” katanya.
Ia menjelaskan, persoalan sampah merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah terus membangun sarana dan prasarana pengelolaan sampah, namun hasilnya tidak akan maksimal tanpa dukungan masyarakat.
“Kebersihan kota tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Kalau semua warga memiliki kepedulian terhadap lingkungan, beban pengelolaan sampah akan jauh lebih ringan,” ucapnya.
Saefuddin juga mengajak masyarakat mulai membiasakan pemilahan sampah sejak dari rumah. Langkah sederhana tersebut dinilai dapat mengurangi volume sampah yang harus diangkut ke tempat pemrosesan akhir sekaligus mendukung program daur ulang.
“Kalau sampah dipilah sejak awal, maka pengelolaannya akan lebih mudah dan sebagian masih bisa dimanfaatkan kembali. Ini yang ingin terus kita dorong di tengah masyarakat,” ujarnya.
Budaya Hidup Bersih Dimulai dari Lingkungan Keluarga
Menurutnya, membangun budaya menjaga kebersihan harus dimulai dari lingkungan keluarga. Orang tua memiliki peran penting dalam memberikan contoh kepada anak-anak agar terbiasa mencintai lingkungan sejak usia dini.
“Kita ingin budaya hidup bersih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari rumah, sekolah, tempat kerja, hingga ruang-ruang publik,” katanya.
Ia berharap peringatan Hari Lingkungan Hidup menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan.
“Kalau kita ingin Samarinda menjadi kota yang bersih, sehat, dan nyaman, maka semuanya harus terlibat. Menjaga lingkungan adalah tanggung jawab kita bersama,” tuturnya.
Saefuddin optimistis, dengan meningkatnya kesadaran masyarakat serta dukungan berbagai program pemerintah, kualitas lingkungan di Kota Samarinda akan terus membaik.
“Harapan kami sederhana, mari kita mulai dari hal-hal kecil, seperti menanam pohon, membuang sampah pada tempatnya, dan menjaga kebersihan lingkungan. Kalau dilakukan bersama-sama, dampaknya akan sangat besar bagi masa depan Kota Samarinda,” pungkasnya.
(*)
