
POJOKNEGERI.com – Pemerintah Indonesia memperkuat diplomasi ekonomi di sektor pangan dengan menawarkan ekspor sedikitnya 10 ribu ton beras ke Singapura.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pasar ekspor sekaligus memanfaatkan tingginya produksi dan cadangan beras nasional yang saat ini berada di atas kapasitas penyimpanan pemerintah.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyampaikan usulan tersebut saat melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura Grace Fu di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan.
Selain beras, kedua negara juga membahas peluang peningkatan perdagangan komoditas pangan strategis lainnya serta penguatan kolaborasi di bidang teknologi pertanian.
Amran menegaskan Indonesia siap menjadi mitra strategis Singapura dalam memenuhi kebutuhan pangan.
Menurutnya, kerja sama tersebut tidak hanya membuka peluang peningkatan ekspor, tetapi juga mempererat hubungan ekonomi kedua negara melalui sektor pertanian.
“Kami mengusulkan ekspor minimal 10 ribu ton beras dari Indonesia ke Singapura. Selain itu, kami juga ingin meningkatkan kerja sama untuk komoditas ayam, telur, minyak sawit, serta memperkuat pertukaran teknologi pertanian. Ini menjadi langkah kolaborasi yang saling menguntungkan bagi kedua negara,” ujar Amran dalam keterangan resmi, Senin (29/6).
Stok Beras Melimpah Dorong Ekspor
Pemerintah menilai kondisi produksi beras nasional saat ini memberikan ruang untuk memperluas pasar ekspor. Amran menjelaskan stok beras pemerintah telah mencapai sekitar 5,1 juta ton, sementara kapasitas gudang Bulog hanya mampu menampung sekitar 3 juta ton.
Kelebihan stok tersebut membuat pemerintah harus memanfaatkan gudang sewa sebagai tempat penyimpanan tambahan.
Menurut Amran, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan utama pemerintah mulai menjajaki ekspor beras ke Singapura. Kebijakan itu akan dapat membantu mengelola cadangan beras nasional sekaligus menciptakan nilai tambah bagi sektor pertanian Indonesia.
“Hari ini stok beras kita mencapai sekitar 5,1 juta ton. Gudang (Bulog) yang tersedia hanya mampu menampung sekitar 3 juta ton, sehingga sebagian harus disimpan di gudang sewa. Karena itu, insyaallah Indonesia siap mengekspor minimal 10 ribu ton beras ke Singapura,” ujarnya.
Perluas Perdagangan Komoditas Pangan
Selain menawarkan ekspor beras, Indonesia juga menjajaki peningkatan ekspor berbagai komoditas pangan strategis lainnya, seperti ayam, telur, minyak sawit, dan kelapa. Pemerintah juga membuka peluang kerja sama dalam pertukaran teknologi serta inovasi pertanian untuk mendukung ketahanan pangan kedua negara.
Amran mengatakan pembahasan antara Indonesia dan Singapura akan berlanjut pada tahap berikutnya dengan fokus pada kebutuhan komoditas pangan yang diperlukan Singapura serta mekanisme kerja sama yang akan diterapkan.
“Kita akan membahas lebih detail pada tahap berikutnya. Yang jelas, saudara kita dari Singapura ingin memperkuat kerja sama, khususnya untuk kebutuhan pangan seperti beras, telur, ayam, kelapa, dan komoditas lainnya. Indonesia siap mendukung kebutuhan tersebut,” katanya.
Amran juga menjelaskan bahwa ekspor beras Indonesia ke Singapura bukan merupakan praktik baru. Selama ini perdagangan beras telah berlangsung melalui pelaku usaha swasta.
Namun, pemerintah kini mendorong skema kerja sama yang lebih luas dengan melibatkan badan usaha milik negara (BUMN) Indonesia bersama mitra swasta di Singapura. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat perdagangan pangan bilateral sekaligus membuka peluang pasar yang lebih besar bagi komoditas pertanian Indonesia di kawasan regional.
(*)
