Internasional

Trump Murka, DPR AS Setujui Pembatasan Aksi Militer terhadap Iran

POJOKNEGERI.com – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat menyetujui sebuah resolusi yang berupaya membatasi kewenangan Presiden Donald Trump dalam operasi militer terhadap Iran.

Pemungutan suara ini memicu ketegangan politik baru di Washington, terutama karena sejumlah anggota Partai Republik ikut mendukung langkah yang diajukan bersama Partai Demokrat tersebut.

DPR meloloskan resolusi itu dengan selisih suara tipis, yakni 215 setuju dan 208 menolak. Empat anggota Partai Republik bergabung dengan Partai Demokrat dalam mendukung aturan yang bertujuan membatasi kewenangan presiden dalam penggunaan kekuatan militer terhadap Iran.

Meskipun DPR telah menyetujui resolusi tersebut, langkah itu masih bersifat terbatas karena Senat yang dikuasai Partai Republik belum memberikan persetujuan. Selain itu, bahkan jika Senat menyetujui, Presiden Trump masih memiliki hak veto yang dapat membatalkan aturan tersebut.

Untuk mengesampingkan veto presiden, Kongres membutuhkan dukungan dua pertiga suara di kedua kamar, yang secara politik sulit tercapai.

Partai Demokrat menuduh Trump telah melanggar konstitusi karena melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari tanpa persetujuan Kongres.

Perdebatan ini memperkuat kembali konflik lama di Amerika Serikat mengenai batas kewenangan presiden dalam tindakan militer di luar negeri.

Trump Mengecam DPR dan Anggota Partainya Sendiri

Presiden Donald Trump merespons hasil pemungutan suara tersebut dengan kemarahan. Ia menilai langkah DPR sebagai tindakan yang merugikan kepentingan nasional dan mengganggu proses diplomasi yang sedang ia jalankan dengan Iran.

Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump menulis, “tepat di tengah-tengah negosiasi terakhir saya untuk mengakhiri Perang dengan Republik Islam Iran,” tulis Trump dalam sebuah unggahan di platform Truth Social miliknya.

Ia kemudian mempertanyakan motif para legislator yang mendukung resolusi tersebut. “Siapa yang akan melakukan hal yang tidak patriotik seperti itu? Mereka tahu bagaimana negosiasi berjalan,” cetusnya.

Trump juga menyerang Partai Demokrat yang mendukung resolusi tersebut dengan mengatakan, “(Partai Demokrat) lebih memilih negara kita gagal daripada memberi saya kemenangan lain, dari sekian banyak kemenangan,” kata Trump dalam unggahannya.

Selain itu, ia secara khusus mengecam empat anggota Partai Republik yang ikut mendukung resolusi DPR. “Empat anggota Partai Republik, itu cerita yang berbeda sama sekali — Mereka hanya mencari perhatian! Mereka seharusnya malu pada diri mereka sendiri,” cetus Trump.

Ketegangan Politik dan Dampak Lanjutan

Pemungutan suara ini menandai pertama kalinya DPR yang dikendalikan Partai Republik menyetujui langkah yang berupaya membatasi operasi militer terhadap Iran sejak konflik berlangsung tiga bulan terakhir. Hal ini menunjukkan adanya perpecahan internal di Partai Republik terkait kebijakan luar negeri pemerintahan Trump.

Meski resolusi tersebut belum memiliki kekuatan hukum penuh, langkah ini memperlihatkan meningkatnya pengawasan Kongres terhadap tindakan militer eksekutif. Perdebatan mengenai kewenangan perang antara Gedung Putih dan Kongres diperkirakan akan terus berlanjut, terutama jika situasi di Iran tetap memanas.

Di sisi lain, Trump tetap mempertahankan posisinya bahwa kebijakan militernya diperlukan untuk kepentingan nasional dan keberhasilan negosiasi. Namun, oposisi di Kongres menilai tindakan tersebut melampaui kewenangan konstitusional presiden.

Dengan dinamika politik yang masih berlangsung, resolusi ini menjadi salah satu episode terbaru dalam konflik panjang antara cabang eksekutif dan legislatif di Amerika Serikat terkait kontrol atas keputusan perang.

(*)

Back to top button