Tak Dibantu dalam Perang Iran, Trump Ancam Tarik AS Keluar dari NATO

POJOKNEGERI.com – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melontarkan kritik tajam terhadap aliansi pertahanan Atlantik Utara (NATO).
Dalam wawancara dengan TIME, Trump menyatakan bahwa ia sangat mempertimbangkan untuk menarik AS keluar dari NATO setelah negara-negara sekutu menolak bergabung secara aktif dalam perang Iran.
“Oh ya, saya akan mengatakan (ini) sudah melampaui tahap pertimbangan ulang. Saya tidak pernah benar-benar terpengaruh oleh NATO,” ujarnya.
Trump bahkan menambahkan, “Saya selalu tahu mereka itu hanya macan kertas dan omong-omong Putin juga tahu itu.”
Peringatan soal Selat Hormuz
Pada pertengahan Maret, Trump memperingatkan negara-negara NATO bahwa masa depan mereka akan menjadi “sangat buruk” jika tidak membantu mengamankan Selat Hormuz, jalur perdagangan penting bagi minyak dunia.
Namun, negara-negara Eropa merespons dengan sikap hati-hati dan menolak mengirim kapal perang ke kawasan tersebut.
Trump menilai penolakan itu sebagai bukti lemahnya komitmen sekutu. Ia menegaskan bahwa permintaannya sebenarnya bertujuan untuk menguji keseriusan negara-negara anggota NATO.
Uji Komitmen Sekutu
Dalam wawancara dengan The Telegraph, Trump mengungkapkan bahwa AS selalu hadir untuk sekutu secara otomatis, termasuk dalam kasus Ukraina.
“Kami selalu ada untuk mereka secara otomatis, termasuk dalam kasus Ukraina. Padahal Ukraina bukan masalah kami. Itu adalah cara untuk menguji komitmen—dan kami tetap membantu mereka, bahkan akan selalu membantu mereka. Namun, mereka tidak melakukan hal yang sama untuk kami,” katanya.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa Trump merasa AS menanggung beban yang tidak seimbang dalam aliansi. Menurutnya, NATO gagal menunjukkan solidaritas ketika kepentingan AS dipertaruhkan.
Dampak bagi Hubungan Transatlantik
Ancaman Trump untuk menarik AS keluar dari NATO menimbulkan kekhawatiran besar mengenai masa depan aliansi tersebut. NATO selama ini menjadi pilar utama keamanan global, terutama dalam menghadapi ancaman dari Rusia dan kawasan Timur Tengah.
Jika AS benar-benar keluar, hal itu akan mengguncang struktur pertahanan kolektif yang telah terjaga selama lebih dari tujuh dekade. Negara-negara Eropa kemungkinan harus meningkatkan anggaran pertahanan mereka secara drastis untuk menutup kekosongan yang ditinggalkan AS.
(*)

