Nasional

Menkes Budi Gunadi Sadikin Tegaskan Superflu Bukan Ancaman Pandemi Mematikan

POJOKNEGERI.COM – Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa kasus superflu atau Influenza A H3N2 subclade K yang belakangan muncul di sejumlah daerah di Indonesia tidak menimbulkan ancaman pandemi mematikan seperti Covid-19 pada 2020 lalu.

Ia memastikan hingga saat ini belum ada laporan kasus kematian akibat superflu.

“Belum ada laporan yangmeninggal karena, ini memang flu seperti yang biasa kita rasakan,” kata Budi saat meninjau RSUP Dr Sardjito, Sleman, DIY, Kamis (8/1).

Pernyataan tersebut sekaligus menjawab pertanyaan masyarakat mengenai tingkat kesembuhan pasien superflu. Budi menekankan bahwa superflu bukanlah penyakit baru yang asing bagi sistem imun manusia. Virus ini merupakan bagian dari influenza yang sudah dikenal selama puluhan tahun.

“Superflu ini sebenarnya influenza yang sudah lama ada virusnya, beda dengan Covid. Covid itu virus baru, jadi daya tahan tubuh kita belum ada karena enggak kenal,” ungkapnya.

Superflu Berbeda dengan Covid-19

Budi menjelaskan bahwa perbedaan mendasar antara superflu dan Covid-19 terletak pada sejarah virus dan imunitas manusia. Covid-19 muncul sebagai virus baru yang belum pernah dikenali tubuh manusia, sehingga menyebabkan daya tahan tubuh tidak siap menghadapi serangan. Kondisi itu membuat penyebaran Covid-19 begitu cepat dan mematikan pada awal pandemi.

Sebaliknya, superflu berasal dari virus influenza A H3N2 yang sudah lama beredar. Walaupun kini muncul varian baru, subclade K, masyarakat tetap memiliki imunitas dasar terhadap virus tersebut. “Cuma ini varian baru (dari Influenza A), kan teman-teman ingat kan Covid mulanya Alfa, terus ke Beta, ada Delta yang mematikan, terus ke Omicron. Nah, ini adalah varian K kalau nggak salah, clade K atau varian K dari H3N2,” sambung Budi.

Dengan penjelasan itu, Budi ingin menenangkan masyarakat agar tidak panik menghadapi superflu. Ia menegaskan bahwa kasus ini tidak sebanding dengan ancaman pandemi Covid-19 yang pernah melumpuhkan dunia.

Imbauan Menkes: Jaga Imunitas dan Terapkan Protokol Kesehatan

Menkes mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan menjaga imunitas tubuh sebagai pertahanan utama. Ia menekankan pentingnya pola hidup sehat agar tubuh mampu melawan infeksi influenza.

“Makan sehat, tidur dan olahraga cukup,” kata Budi, menjadi kunci menjaga imunitas tubuh apabila terkena superflu.

Selain itu, ia mengajak masyarakat untuk tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan sederhana. Rajin mencuci tangan dan memakai masker di tempat ramai menjadi langkah efektif mencegah penularan.

Budi menegaskan bahwa kebiasaan baik tersebut terbukti mampu menekan penyebaran berbagai penyakit menular, termasuk influenza.

Situasi Kasus Superflu di Indonesia

Sejak Agustus 2025, Kementerian Kesehatan mencatat puluhan kasus superflu di beberapa provinsi. Hingga awal Januari 2026, jumlah kasus mencapai 62 orang yang tersebar di delapan provinsi, dengan konsentrasi terbesar di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Meski penularan relatif cepat, seluruh pasien dapat ditangani dengan baik dan tidak ada laporan kematian.

Gejala superflu sama dengan influenza musiman, yakni demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, nyeri otot, dan badan lemah. Kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia tetap perlu mendapat perhatian khusus karena berisiko mengalami gejala lebih berat. Namun, secara umum superflu tidak menimbulkan ancaman serius bagi masyarakat.

Perbandingan Superflu dan Covid-19

Perbedaan antara superflu dan Covid-19 dapat dilihat dari tingkat fatalitas dan kesiapan imunitas masyarakat. Covid-19 menyebabkan jutaan kematian di seluruh dunia karena tubuh manusia belum mengenal virus tersebut. Sementara itu, superflu hanya menimbulkan gejala mirip flu biasa dan belum ada laporan kematian.

Budi menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu panik menghadapi superflu. “Belum ada yang dilaporkan meninggal karena, ini memang flu seperti yang biasa kita rasakan,” ujarnya kembali menekankan.

(*)

Back to top button