Trump Kecam Serangan Israel di Lebanon, Tekankan Risiko Korban Warga Sipil

POJOKNEGERI.com – Ketegangan antara Israel dan kelompok bersenjata Hizbullah kembali meningkat setelah rangkaian serangan udara yang menyasar wilayah Lebanon.
Operasi militer tersebut disebut menargetkan infrastruktur dan lokasi yang diduga menjadi tempat persembunyian anggota Hizbullah.
Namun, serangan di kawasan permukiman juga menimbulkan korban sipil dan kerusakan pada gedung apartemen, sehingga memicu kritik dari berbagai pihak internasional.
Di tengah situasi tersebut, perdebatan global kembali menguat mengenai batas penggunaan kekuatan militer di wilayah padat penduduk serta dampaknya terhadap warga sipil yang tidak terlibat dalam konflik.
Kritik Donald Trump terhadap Strategi Militer Israel
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyoroti cara Israel menjalankan operasi militernya di Lebanon. Ia mengkritik keras metode serangan yang meratakan gedung-gedung apartemen dalam upaya menargetkan individu tertentu yang diduga terkait Hizbullah.
Trump menegaskan bahwa pendekatan tersebut menimbulkan terlalu banyak korban sipil.
“Anda tidak perlu merobohkan gedung apartemen setiap kali Anda mencari seseorang karena ada banyak orang di gedung-gedung apartemen itu – dan mereka tak semuanya anggota Hizbullah,” tandasnya.
Pernyataan itu mencerminkan kekhawatiran Trump terhadap dampak kemanusiaan dari operasi militer yang berlangsung di wilayah padat penduduk. Ia juga menilai bahwa konflik antara Israel dan Hizbullah telah berlangsung terlalu lama dan menghasilkan korban jiwa yang besar.
Lebih jauh, Trump bahkan mengusulkan pendekatan alternatif dalam menangani situasi tersebut. Ia mengatakan bahwa Israel sebaiknya mempertimbangkan peran aktor regional lain.
“Saya menyarankan kepada Israel untuk membiarkan Suriah menangani Hizbullah karena jujur saja, saya pikir mereka akan melakukan pekerjaan yang lebih baik,” kata Trump.
Pernyataan ini secara langsung menyinggung Suriah sebagai pihak yang menurutnya dapat mengambil peran berbeda dalam dinamika konflik kawasan.
Respons Iran dan Persepsi Konflik Regional
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dari Iran memberikan pandangan berbeda mengenai konflik yang berlangsung. Ia menilai bahwa dalam proses negosiasi dan kesepakatan yang ada, Amerika Serikat dan Israel pada dasarnya bertindak sebagai satu blok.
Araghchi menyampaikan bahwa setiap tindakan militer Israel di Lebanon harus dilihat dalam konteks kesepahaman yang lebih luas.
“Menurut pandangan kami, kedua pihak dalam memorandum ini adalah AS dan Israel di satu sisi, dan Iran serta Hizbullah di sisi lain,” ujar Araghchi
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Iran memposisikan konflik ini bukan sebagai insiden terpisah, melainkan bagian dari pertarungan geopolitik yang lebih besar di kawasan Timur Tengah.
Ia juga menegaskan bahwa posisi Iran sejak awal tidak berubah. Menurutnya, Iran memandang Lebanon dan Hizbullah sebagai bagian dari satu front yang sama dalam menghadapi tekanan eksternal.
“Iran percaya nota kesepahaman tersebut mencakup pengakhiran pendudukan Israel atas Lebanon,” pungkasnya.
mana konflik lokal dapat berkembang menjadi persaingan geopolitik yang melibatkan banyak negara dengan kepentingan berbeda.
(*)

