Masjid Puncak Al Fattah di Lempake Mulai Dibangun, Disiapkan Jadi Pusat Pendidikan Keagamaan

POJOKNEGERI.com – Masjid Puncak Al Fattah di kawasan Perum Korem, Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara, mulai dibangun dengan membawa konsep yang lebih luas dari sekadar...

00:00 / 04:32 1×
Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri hadiri peletakan batu pertama Masjid Puncak Al Fattah pada Minggu (4/10/2026)
Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri hadiri peletakan batu pertama Masjid Puncak Al Fattah pada Minggu (4/10/2026) Foto: Dok. Pojoknegeri
Advertisement
Ruang Iklan 300 × 250 px / Responsif

POJOKNEGERI.com – Masjid Puncak Al Fattah di kawasan Perum Korem, Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara, mulai dibangun dengan membawa konsep yang lebih luas dari sekadar tempat ibadah. Masjid ini disiapkan menjadi ruang pendidikan keagamaan sekaligus wadah kegiatan sosial bagi masyarakat sekitar.

Pembangunan masjid tersebut ditandai dengan peletakan batu pertama pada Minggu (4/10/2026). Prosesi itu dilakukan Wakil Wali Kota Samarinda H. Saefuddin Zuhri yang mewakili Wali Kota Samarinda Dr. H. Andi Harun.

Advertisement
Ruang Iklan 300 × 250 px / Responsif

Ketua Panitia Pembangunan Masjid Puncak Al Fattah, Azis Fathoni, mengatakan gagasan pembangunan masjid dengan fungsi yang lebih luas muncul dari harapan agar keberadaan masjid dapat memberikan manfaat langsung bagi warga.

Menurutnya, selain digunakan untuk salat dan kegiatan ibadah lainnya, masjid nantinya diharapkan menjadi tempat mengaji, pendidikan keagamaan, serta ruang pembelajaran bagi masyarakat.

“Minimal tempat ini, di samping untuk tempat mengaji dan ibadah, bisa menjadi Pare-Pare kecil, tetapi versi masjid,” kata Azis.

Nama Puncak Al Fattah dipilih menyesuaikan lokasi pembangunan yang berada di kawasan dengan kontur cukup tinggi.

Azis menjelaskan, sebelum pembangunan dimulai, kondisi lahan telah melalui proses pengerukan sebanyak dua kali untuk menyesuaikan kebutuhan pembangunan.

Masjid tersebut juga merupakan pengembangan dari Mushola Al Fattah yang berada di kawasan bawah. Keterbatasan lahan membuat pengembangan kemudian diarahkan ke lokasi baru.

Berdiri di Atas Tanah Wakaf

Pembangunan Masjid Puncak Al Fattah berdiri di atas tanah wakaf yang diberikan keluarga dua mantan lurah, yakni Ali Mansur dan Joko.

Tidak hanya untuk bangunan masjid, keluarga tersebut juga mewakafkan lahan yang digunakan sebagai akses jalan menuju lokasi masjid dengan panjang sekitar 145 meter.

“Beliau juga mewakafkan tanah untuk jalan, dari atas sampai ke bawah, sepanjang kurang lebih 145 meter,” ujar Azis.

Wakil Wali Kota Samarinda Saefuddin Zuhri mengapresiasi wakaf tersebut. Menurut dia, kontribusi kedua mantan lurah itu menunjukkan bentuk pengabdian yang tetap berlanjut meski keduanya sudah tidak lagi menjabat sebagai aparatur pemerintahan.

“Atas nama Pemerintah Kota Samarinda, kami tidak bisa membalas apa-apa selain mendoakan. Jazakumullah khairan katsiran, semoga mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat,” kata Saefuddin.

Dalam kesempatan tersebut, Saefuddin juga mengingatkan panitia agar aspek administrasi dan legalitas pembangunan rumah ibadah dipastikan sejak awal.

Ia menilai pembangunan masjid tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan bangunan. Kelengkapan administrasi diperlukan agar keberadaan masjid memiliki dasar yang jelas dan dapat terus dimanfaatkan masyarakat.

“Jangan sampai secara fisik sudah berdiri megah, tetapi kemudian ada hal-hal yang tidak diinginkan. Harapan saya, secara administrasi aman, secara fisik bisa dijalankan terus, dan bisa memberikan manfaat bagi masyarakat,” tuturnya.

Diharapkan Jadi Pusat Kegiatan Warga

Selain Saefuddin dan Azis, peletakan batu pertama tersebut dihadiri Ketua Tim Wali Kota untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP) Syaparudin, Kabag Kesra Syamsu Nur, Camat Samarinda Utara Muhammad Joni, Plt Lurah Lempake, Babinsa, Bhabinkamtibmas, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta warga sekitar.

Panitia berharap pembangunan dapat berjalan secara bertahap hingga masjid bisa segera digunakan.

Lebih jauh, Masjid Puncak Al Fattah diharapkan menjadi ruang bersama bagi masyarakat Lempake, baik untuk beribadah maupun kegiatan pendidikan dan sosial.

Saefuddin mengatakan pembangunan tersebut hendaknya tidak hanya menghasilkan bangunan yang kokoh, tetapi juga melahirkan lingkungan keagamaan yang kuat.

“Bukan hanya pondasi secara fisik, tetapi pondasi secara agama yang nantinya kuat,” tegas Saefuddin.

(*)

Advertisement
Ruang Iklan 300 × 250 px / Responsif
Pojoknegeri
Redaksi Pojoknegeri

Tim redaksi Pojoknegeri menyajikan berita independen dan berimbang untuk Indonesia.

Lihat Semua Artikel
Bagikan berita ini: Facebook X (Twitter) WhatsApp Telegram