POJOKNEGERI.com – Kekalahan Partai Republik dalam pemilu sela Amerika Serikat (AS) pada Selasa (3/11/2026) membuat Presiden AS Donald Trump harus menghadapi perubahan peta kekuatan politik di Kongres.
Meski partainya kehilangan kendali atas dua majelis legislatif, Trump justru menyampaikan ucapan selamat kepada Partai Demokrat.
Dalam hasil hitung cepat New York Times hingga Rabu siang WIB, Demokrat berhasil mengamankan 52 kursi Senat, melampaui ambang batas 50 kursi untuk menguasai majelis tersebut. Sementara itu, Partai Republik baru memperoleh 40 kursi.
Demokrat juga berhasil merebut kendali Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), sehingga partai tersebut kini menguasai kedua majelis tertinggi Kongres AS.
Hasil ini menjadi pukulan politik bagi Trump dan Partai Republik, terutama karena kemenangan Demokrat akan mengubah dinamika pemerintahan Amerika Serikat selama dua tahun terakhir masa jabatan Trump.
Trump Beri Selamat kepada Demokrat
Di tengah kekalahan partainya, Trump justru menunjukkan sikap yang tidak biasa dengan memberikan pujian kepada rival politiknya.
Dalam wawancara melalui telepon dengan FOX News Democracy 26, Trump mengakui keberhasilan Demokrat memenangkan pemilu sela. AFP melaporkan pernyataan tersebut pada Rabu (4/11/2026).
“Begini, saya mengatakan hal ini: Selamat kepada Partai Demokrat. Mereka telah melakukan pekerjaan yang baik,” kata Trump.
Ia juga menyebut kemenangan tersebut sebagai pencapaian yang sudah lama dinantikan Demokrat.
“Mereka telah menantikan momen ini selama 11 tahun, dan akhirnya mereka berhasil. Tetapi saya tidak menganggap ini sebagai pukulan yang ditujukan kepada saya,” ucapnya.
Pujian tersebut tergolong tidak biasa mengingat selama masa kampanye, Trump kerap melontarkan kritik keras terhadap Demokrat. Ia bahkan pernah melabeli rival politiknya dengan berbagai sebutan, mulai dari komunis hingga Islamis.
Akui Perang Iran Pengaruhi Suara Pemilih
Selain mengomentari kemenangan Demokrat, Trump turut menyinggung konflik berkepanjangan dengan Iran sebagai salah satu faktor yang memengaruhi hasil pemilu sela.
Sejumlah jajak pendapat menjelang pemungutan suara menunjukkan bahwa perang Iran dan kenaikan harga minyak akibat konflik tersebut menjadi persoalan yang tidak disukai banyak pemilih Amerika Serikat.
Trump mengakui bahwa isu tersebut mungkin ikut memengaruhi keputusan pemilih dalam memberikan suara.
“Saya pikir salah satu faktornya adalah Iran, tetapi di sisi lain, rakyat juga memahami pentingnya langkah-langkah yang telah saya ambil terkait Iran,” kata Trump dalam wawancara dengan Fox News.
Meski demikian, Trump tidak menganggap kekalahan Partai Republik sebagai tanggung jawab pribadinya. Ia justru mengisyaratkan bahwa persoalan tersebut berkaitan dengan faktor lain di internal partainya.
Siap Bekerja Sama, tetapi Tetap Ancam Veto
Trump menyatakan menerima hasil pemilu sela dan membuka peluang untuk bekerja sama dengan Demokrat yang kini menguasai Kongres.
Sikap tersebut berbeda dengan responsnya terhadap kekalahan dalam pemilihan presiden 2020.
“Saya bisa bekerja sama dengan mereka dalam banyak hal,” ujarnya.
Namun, kesediaan Trump untuk menjalin kerja sama tidak berarti ia akan menyetujui seluruh agenda legislasi Demokrat.
Trump menegaskan tetap memiliki kewenangan untuk menolak rancangan undang-undang yang tidak sejalan dengan kebijakannya. Ia bahkan mengancam akan menggunakan hak veto terhadap sejumlah RUU yang diajukan Demokrat.
“Mereka bisa saja mengajukan, katakanlah, 50 rancangan undang-undang hebat yang mereka banggakan, lalu saya akan mengembalikannya dengan stempel khusus — ‘veto’,” cetus Presiden AS tersebut.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa meskipun Demokrat berhasil menguasai Kongres, Trump masih memiliki instrumen konstitusional untuk memengaruhi proses legislasi selama masa pemerintahannya.
Trump Salahkan Ketidakhadirannya di Surat Suara
Di tengah pernyataan yang terkesan menerima kekalahan, Trump tetap menolak mengaitkan hasil pemilu dengan kinerja pribadinya.
Melalui unggahan terpisah di akun Truth Social, ia justru menyebut ketidakhadirannya sebagai kandidat dalam pemilu sela sebagai salah satu alasan Partai Republik mengalami kekalahan.
“Nama saya tidak ada dalam surat suara dan seandainya ada, kita pasti menang TELAK!” ujarnya.
(*)




