POJOKNEGERI.com – Kementerian Energi, Perdagangan dan Industri (METI) Singapura memberikan penjelasan mengenai aktivitas perdagangan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) yang melibatkan perusahaan-perusahaan berbasis di negara tersebut.
Klarifikasi ini muncul setelah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa sebagian LNG yang dikirim Indonesia ke Singapura kemudian dijual kembali ke negara lain.
METI menegaskan bahwa transaksi perdagangan LNG oleh perusahaan berbasis di Singapura tidak selalu melibatkan pengiriman fisik kargo ke wilayah negara tersebut.
Dalam praktiknya, perusahaan dapat memperdagangkan LNG secara internasional tanpa harus membawa kargo melewati Singapura.
Puluhan Perusahaan Singapura Perdagangkan LNG Global
METI menjelaskan bahwa lebih dari 50 perusahaan berbasis di Singapura menjalankan aktivitas pembelian, pemasaran, dan perdagangan LNG dari berbagai pasar dunia, termasuk Indonesia.
Selain Indonesia, perusahaan-perusahaan tersebut juga memperoleh pasokan LNG dari sejumlah negara produsen utama, seperti Amerika Serikat (AS), Australia, dan Malaysia.
Aktivitas perdagangan itu memungkinkan perusahaan Singapura melakukan transaksi dengan pembeli di berbagai negara. Namun, proses jual beli tersebut tidak serta-merta berarti LNG harus masuk terlebih dahulu ke wilayah Singapura.
“Meskipun pedagang yang berbasis di Singapura mengambil keputusan komersial terkait kargo tersebut, kargo LNG yang sebenarnya biasanya bergerak langsung dari negara asal ke negara tujuan dan tidak melewati Singapura secara fisik,” ujar pihak METI kepada Channel News Asia (CNA), dilansir Senin (2/11).
Impor Gas Pipa untuk Kebutuhan Domestik
Selain menjelaskan perdagangan LNG, METI juga memberikan penegasan mengenai pasokan gas alam Indonesia yang masuk melalui jaringan pipa.
Kementerian tersebut menyatakan bahwa gas yang Singapura impor dari Indonesia melalui pipa digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Pemerintah Singapura menegaskan bahwa pasokan tersebut bukan untuk kemudian diekspor kembali ke negara lain.
“Gas alam yang diimpor dari Indonesia melalui pipa ditujukan untuk penggunaan domestik, bukan untuk diekspor,” tambah kementerian.
Klarifikasi METI tersebut merespons pernyataan Bahlil Lahadalia yang menyebut Indonesia telah mengapalkan sekitar 148 kargo LNG ke Singapura.
Bahlil Curigai Singapura Jual Kembali LNG Indonesia
Bahlil Lahadalia, menduga Singapura tidak menggunakan seluruh pasokan LNG dari Indonesia untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya.
Ia mencurigai sebagian gas tersebut justru masuk ke aktivitas perdagangan internasional atau trading, kemudian dijual kembali ke negara lain.
Dugaan ini muncul di tengah pembahasan pemerintah mengenai pengaturan ekspor gas dan pemenuhan kebutuhan energi domestik.
“Kita harus memprioritaskan kepentingan domestik kita, tapi kalau domestik kita sudah cukup, saya pikir kita harus juga mengirim ekspor ke negara lain,” ujar Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Singapura Diduga Jual Kembali LNG Indonesia
Bahlil mengungkapkan Indonesia memasok gas ke Singapura melalui ekspor LNG dan gas pipa. Dalam keterangannya, ia menyebut pengiriman LNG mencapai 148 kargo atau setara 1.480 MMSCFD.
Menurut Bahlil, tidak seluruh LNG tersebut kemungkinan berakhir sebagai konsumsi energi masyarakat maupun industri Singapura.
Ia menduga sebagian pasokan dimanfaatkan untuk memperoleh keuntungan melalui perdagangan kembali ke negara lain.
“148 kargo itu setara dengan 1.480 MM. Itu yang kita kirim. Tapi keyakinan saya bahwa pengiriman 148 kargo itu tidak semuanya itu dipakai untuk kepentingan Singapura, tapi sebagian dijadikan sebagai trading, untuk kemudian diekspor lagi ke negara lain. Tapi ada sebagian pasti untuk konsumsi mereka,” ujar Bahlil.
(*)




