Bahlil Tahan Ekspor Listrik ke Singapura, Pemerintah Prioritaskan Kebutuhan Energi Dalam Negeri

00:00 / 04:32 1×
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia Foto: Dok. Pojoknegeri
Advertisement
Ruang Iklan 300 × 250 px / Responsif

POJOKNEGERI.com – Pemerintah Indonesia belum akan merealisasikan ekspor listrik ke Singapura dalam waktu dekat.

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan pemerintah masih memprioritaskan pemenuhan kebutuhan listrik nasional sebelum membuka keran ekspor energi.

Advertisement
Ruang Iklan 300 × 250 px / Responsif

Bahlil menyampaikan keputusan tersebut dalam acara Minerba Convex 2026, Senin (2/11/2026).

Menurutnya, kebutuhan listrik dalam negeri masih menjadi pertimbangan utama pemerintah dalam menentukan arah kebijakan perdagangan listrik lintas negara.

“Saya sudah mengumumkan untuk Indonesia belum dalam waktu dekat belum bisa mengekspor listrik. Kita masih butuh listrik. Enggak ada,” ujar Bahlil.

Ia juga meminta Danantara tidak melakukan lobi untuk mengubah keputusan pemerintah terkait rencana ekspor listrik tersebut. Bahlil menegaskan kewenangan pemberian izin ekspor listrik berada di Kementerian ESDM, bukan Danantara.

“Saya sudah kasih tahu Danantara, jangan kamu mau dilobi-lobi. Enggak ada. Izin itu ada di (Kementerian) ESDM, bukan Danantara,” tegasnya.

Bahlil menyebut pemerintah harus menempatkan kepentingan nasional di atas peluang perdagangan energi dengan negara lain. Ia menilai kedaulatan dan kewibawaan negara menjadi dasar dalam menentukan kebijakan sektor energi.

“Kedaulatan negara saya dahulukan, wibawa negara saya mendahulukan. Marwah negara adalah marwah 280 juta jiwa yang ada di bangsa ini,” sambungnya.

Harga Listrik Jadi Penentu Kerja Sama dengan Singapura

Meski menunda ekspor, Bahlil sebelumnya menyatakan Indonesia tetap membuka peluang kerja sama kelistrikan dengan Singapura. Namun, pemerintah menginginkan kesepakatan yang memberikan keuntungan bagi kedua negara.

Salah satu persoalan yang masih menghambat realisasi kerja sama tersebut adalah kesepakatan harga listrik. Bahlil menegaskan pemerintah tidak akan terburu-buru menyetujui ekspor apabila harga yang ditawarkan belum sesuai.

“Untuk Singapura, kita juga akan ekspor, tapi harganya juga harus cengli. Selama itu belum kita bicara tentang win-win, maka saya pikir penting untuk melakukan kajian yang lebih mendalam,” ujarnya saat ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (11/5/2026).

Indonesia Belajar dari Kerja Sama dengan Malaysia

Bahlil turut menyinggung kerja sama kelistrikan Indonesia dengan Malaysia. Dalam kerja sama tersebut, Indonesia justru mengimpor listrik dari Malaysia melalui pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang terhubung lewat Kalimantan.

Ia menilai skema tersebut memberikan keuntungan bagi kedua negara karena menawarkan kesepakatan harga yang dinilai sesuai.

“Seperti kita melakukan kerja sama antara Malaysia dan Indonesia, itu kan kita juga impor listrik dari Malaysia, PLTA kita lewat Kalimantan. Itu bagus, harganya cengli,” ujarnya.

Pemerintah kini menempatkan kecukupan pasokan listrik domestik dan kesepakatan harga sebagai dua pertimbangan utama sebelum merealisasikan ekspor listrik ke Singapura.

(*)

Advertisement
Ruang Iklan 300 × 250 px / Responsif
Pojoknegeri
Redaksi Pojoknegeri

Tim redaksi Pojoknegeri menyajikan berita independen dan berimbang untuk Indonesia.

Lihat Semua Artikel
Bagikan berita ini: Facebook X (Twitter) WhatsApp Telegram