Ahli Peringatkan Dampak Kerusakan Lahan Gambut Indonesia

JAKARTA — Pakar lingkungan memperingatkan bahwa kerusakan lahan gambut di Indonesia telah mencapai titik kritis yang mengkhawatirkan bagi keselamatan ekosistem nasional. Kondisi ini memicu peningkatan...

00:00 / 04:32 1×
kerusakan lahan gambut - Kondisi lahan gambut yang mengering di wilayah Sumatera akibat kerusakan ekosistem yang memicu risiko kebakaran hutan.
Kondisi lahan gambut yang mengering di wilayah Sumatera akibat kerusakan ekosistem yang memicu risiko kebakaran hutan. (Foto: cnnindonesia.com) Foto: Dok. Pojoknegeri
Advertisement
Ruang Iklan 300 × 250 px / Responsif

JAKARTA — Pakar lingkungan memperingatkan bahwa kerusakan lahan gambut di Indonesia telah mencapai titik kritis yang mengkhawatirkan bagi keselamatan ekosistem nasional. Kondisi ini memicu peningkatan risiko bencana alam yang bersifat masif, mulai dari kebakaran hutan hingga banjir bandang yang merugikan masyarakat luas.

Ahli menekankan bahwa jika degradasi ini terus berlanjut tanpa langkah pencegahan yang signifikan, Indonesia akan menghadapi ancaman bencana ekologis yang berulang setiap tahunnya. Hal ini terjadi karena lahan gambut yang rusak kehilangan kemampuan alaminya dalam mengatur tata air dan menjaga kelembapan tanah secara optimal.

Advertisement
Ruang Iklan 300 × 250 px / Responsif

Sementara itu, penurunan kualitas gambut sering kali disebabkan oleh aktivitas pembukaan lahan yang tidak terkendali dan pembuatan kanal drainase yang tidak tepat. Oleh karena itu, langkah pemulihan harus segera dilakukan sebelum ekosistem unik ini benar-benar kehilangan fungsinya sebagai penyimpan karbon dunia.

Dampak Nyata Kerusakan Lahan Gambut di Berbagai Wilayah

Dampak dari kerusakan lahan gambut tidak hanya dirasakan pada tingkat lokal, melainkan juga memiliki pengaruh besar terhadap perubahan iklim global. Selain itu, kondisi gambut yang mengering akan menjadi bahan bakar yang sangat mudah terbakar ketika memasuki musim kemarau panjang.

Beberapa dampak buruk yang kini mulai terlihat akibat rusaknya lahan gambut antara lain sebagai berikut:

  • Peningkatan intensitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sulit dipadamkan karena api merambat di bawah permukaan tanah.
  • Terjadinya banjir musiman karena lahan gambut tidak lagi mampu menyerap dan menyimpan cadangan air hujan dalam volume besar.
  • Pelepasan emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar ke atmosfer yang mempercepat laju pemanasan global secara signifikan.
  • Hilangnya keanekaragaman hayati karena rusaknya habitat asli bagi flora dan fauna endemik yang bergantung pada ekosistem gambut.

Karena hal tersebut, pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan perlu memperketat pengawasan terhadap tata kelola lahan basah ini. Namun demikian, upaya restorasi memerlukan kerja sama lintas sektoral agar program pembasahan kembali (rewetting) dapat berjalan dengan efektif dan berkelanjutan.

Strategi Mitigasi Mengatasi Kerusakan Lahan Gambut

Pakar menyarankan agar strategi mitigasi difokuskan pada perlindungan kubah gambut yang masih tersisa guna mencegah kerusakan lahan gambut yang lebih parah. Selain itu, masyarakat lokal juga harus dilibatkan dalam program pemberdayaan ekonomi yang berbasis pada pemanfaatan lahan basah tanpa merusak struktur tanah.

Maka dari itu, penggunaan teknologi pemantauan jarak jauh melalui satelit menjadi sangat penting untuk mendeteksi titik panas dan penurunan tinggi muka air tanah secara real-time. Sehingga, langkah antisipasi dapat diambil lebih cepat oleh petugas lapangan sebelum titik api meluas menjadi kebakaran besar.

Kesimpulannya, membiarkan kerusakan lahan gambut tanpa adanya tindakan nyata sama saja dengan memelihara bom waktu bencana bagi generasi mendatang. Dengan demikian, penguatan regulasi dan penegakan hukum terhadap pelaku perusakan hutan merupakan kunci utama dalam menjaga kelestarian lingkungan Indonesia tetap stabil.

Advertisement
Ruang Iklan 300 × 250 px / Responsif
Pojoknegeri
Redaksi Pojoknegeri

Tim redaksi Pojoknegeri menyajikan berita independen dan berimbang untuk Indonesia.

Lihat Semua Artikel
Bagikan berita ini: Facebook X (Twitter) WhatsApp Telegram