
POJOKNEGERI.com – Ketegangan dalam kabinet Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan semakin terlihat seiring berlanjutnya konflik antara Amerika Serikat dengan Iran.
Sejumlah analis menilai bahwa perbedaan pandangan terkait kelanjutan perang telah memicu ketidaksatuan di dalam pemerintahan.
Asisten profesor hubungan internasional dan politik global Universitas Amerika, Andrea Dressi, mengungkapkan bahwa administrasi Trump tidak memiliki kesepahaman yang jelas mengenai arah strategi konflik. Ia menyampaikan hal tersebut dalam keterangannya di Roma.
“Kita terus-menerus melihat pergeseran tujuan, perubahan strategi yang terus-menerus, dan perubahan sasaran,” kata Dressi kepada Al Jazeera.
Menurut Dressi, perubahan arah yang berulang ini menunjukkan bahwa pemerintah belum menetapkan strategi yang konsisten dalam menghadapi Iran. Ia menilai kondisi ini mencerminkan adanya tarik-menarik kepentingan di dalam lingkaran kekuasaan.
Friksi Internal dan Pemecatan Pejabat
Selain perbedaan strategi, Dressi juga menyoroti meningkatnya ketegangan internal di dalam pemerintahan. Ia menyebut adanya peningkatan ketidaksepakatan yang bahkan berujung pada pemecatan sejumlah pejabat tinggi di Pentagon dan Departemen Pertahanan.
“Pada kenyataannya, di dalam administrasi, kita melihat peningkatan perpecahan, peningkatan ketidaksepakatan, serta sejumlah pemecatan tingkat tinggi anggota Pentagon dan Departemen Pertahanan,” ucap Dressi.
Ia menambahkan bahwa situasi ini menunjukkan adanya konflik serius dalam proses pengambilan keputusan. Beberapa pihak di dalam pemerintahan kemungkinan mendorong pendekatan militer yang lebih agresif, sementara pihak lain memilih jalur diplomasi.
Dressi juga menilai bahwa administrasi Trump berusaha menampilkan kekuatan melalui media sosial. Namun, di balik itu, ia melihat adanya ketidakstabilan dalam koordinasi internal.
Kesalahan Perhitungan dan Kebuntuan
Lebih lanjut, Dressi menyebut bahwa perpecahan ini merupakan dampak dari kesalahan perhitungan strategis yang cukup serius dari Amerika Serikat dan Israel. Ia menilai kedua negara mungkin tidak sepenuhnya mempertimbangkan implikasi jangka panjang dari konflik dengan Iran.
“Oleh karena itu, kita sekarang terjebak dalam kebuntuan ini, dalam arti bahwa administrasi Trump sedang mencari jalan keluar,” tutur Dressi.
Kebuntuan tersebut membuat pemerintah harus mempertimbangkan berbagai opsi, termasuk mengurangi eskalasi konflik melalui jalur diplomatik. Namun, langkah tersebut juga tidak mudah karena melibatkan banyak kepentingan politik dan militer.
Tekanan Ekonomi dan Upaya Diplomasi
Di sisi lain, Dressi menekankan bahwa konflik ini juga membawa dampak besar terhadap ekonomi global. Ia menyebut bahwa ketegangan yang terus berlangsung telah menekan stabilitas ekonomi internasional.
“Ekonomi internasional tercekik oleh konflik ini, dan bayang-bayang konflik militer skala penuh yang diperbarui,” ujar Dressi.
Dalam situasi ini, Presiden Trump mulai mengindikasikan kemungkinan melanjutkan negosiasi damai dengan Iran. Rencana tersebut disebut akan memasuki putaran kedua dalam waktu dua hingga tiga hari ke depan.
Sumber dari Pakistan menyatakan bahwa jadwal tersebut berkaitan dengan keterlibatan diplomatik Islamabad dengan Teheran. Meski demikian, pihak Iran hingga kini belum memberikan konfirmasi resmi terkait rencana pertemuan tersebut.
Sementara itu, sumber dari pemerintahan Amerika Serikat menyebut bahwa Trump siap memberikan tambahan waktu gencatan senjata selama tiga hingga lima hari. Langkah ini bertujuan memberi kesempatan bagi berbagai pihak untuk menyatukan posisi dan membahas tawaran dari Washington.
(*)


