DaerahSamarinda
Sedang tren

Samarinda Peringkat Tiga Nasional Daya Saing Daerah Versi BRIN di Luar Pulau Jawa, Andi Harun Tegaskan Berkat Dukungan Masyarakat

POJOKNEGERI.com – Kota Samarinda kembali mencatatkan capaian penting dalam peta daya saing daerah di tingkat nasional.

Berdasarkan rilis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025, Samarinda menempati posisi ketiga nasional dengan skor 4,32, sekaligus menjadi satu-satunya kota di Kalimantan Timur yang masuk kategori kota paling maju di luar Pulau Jawa.

Dalam pemeringkatan tersebut, Samarinda berada di bawah Kota Medan dan Kota Banjarmasin.

Capaian ini dinilai mencerminkan peningkatan kinerja daerah pada berbagai aspek, mulai dari tata kelola pemerintahan, penguatan ekonomi lokal, inovasi, hingga pengembangan infrastruktur dan kualitas sumber daya manusia.

Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan hasil kerja kolektif seluruh perangkat daerah yang didukung partisipasi masyarakat.

Ia menegaskan bahwa peningkatan daya saing tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses perencanaan dan implementasi kebijakan yang konsisten.

“Apresiasi adalah hasil dari kerja keras, kerja serius dari teman-teman Pemkot Samarinda didukung oleh semua elemen masyarakat,” katanya, Sabtu (2/5/2026).

Andi Harun juga menekankan bahwa hasil penilaian BRIN yang berbasis riset ilmiah menjadi salah satu indikator objektif untuk mengukur kemajuan daerah.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tantangan pembangunan masih ada dan perlu direspons dengan pendekatan yang realistis dan terukur.

“Tekad boleh, mimpi boleh, motivasi boleh menjadi yang terbaik, tapi kita harus realistis terhadap kekurangan yang masih kita hadapi,” ujarnya.

Meski bangga, Andi Harun meminta timnya tetap realistis. Ia menegaskan bahwa ego sektoral harus dihapus dan diganti dengan semangat kerja tim yang solid.

Instrumen Strategis Pengukur Daya Saing

BRIN menyusun IDSD sebagai instrumen strategis untuk mengukur daya saing daerah secara komprehensif.

Lembaga tersebut menggunakan data sekunder dari berbagai kementerian dan instansi resmi pemerintah untuk memastikan akurasi dan akuntabilitas.

IDSD 2025 menjadi edisi keempat yang menggambarkan kondisi daya saing di 38 provinsi serta 508 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia.

Dalam penyusunannya, BRIN tidak melakukan survei langsung atau wawancara, melainkan mengandalkan data yang telah tersedia secara nasional.

Dalam pengembangannya, BRIN mengadaptasi kerangka Global Competitiveness Index yang dikembangkan oleh World Economic Forum.

Namun, BRIN menyesuaikan indikator tersebut dengan konteks pembangunan nasional dan ketersediaan data di tingkat daerah.

Pendekatan ini memungkinkan penilaian yang lebih relevan terhadap kondisi riil di Indonesia, sekaligus tetap menjaga standar internasional dalam pengukuran daya saing.

12 Pilar Penentu Kinerja Daerah

IDSD 2025 menilai daya saing melalui 12 pilar utama yang mencakup berbagai aspek pembangunan.

Pilar-pilar tersebut meliputi infrastruktur, kesehatan, pendidikan, efisiensi pasar, hingga inovasi dan lingkungan.

Setiap pilar diukur melalui puluhan indikator yang kemudian diolah secara bertahap hingga menghasilkan skor akhir.

Untuk tingkat kabupaten dan kota, BRIN menggunakan sekitar 50 indikator sebagai dasar penilaian.

Capaian ini memperkuat posisi Samarinda sebagai pusat pertumbuhan di Kalimantan, terutama dengan kedekatannya terhadap proyek strategis nasional Ibu Kota Nusantara.

Pemerintah daerah dapat memanfaatkan hasil IDSD sebagai acuan dalam merumuskan kebijakan pembangunan yang lebih tepat sasaran.

Dengan kinerja yang terus meningkat, Samarinda berpeluang memperkuat daya saingnya di tingkat nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

(*)

Back to top button