POJOKNEGERI.com – Kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) memburuk akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kabut asap tebal.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Kaltim meningkatkan intensitas pemantauan kualitas udara ambien untuk mengidentifikasi sebaran polutan sekaligus mengantisipasi dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.
Kepala DLH Kaltim, Joko Istanto, mengatakan asap akibat karhutla menjadi faktor utama penurunan kualitas udara di sejumlah kabupaten dan kota.
Peningkatan konsentrasi materi partikulat (particulate matter/PM) turut memicu fluktuasi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU).
Kutai Barat Sempat Masuk Kategori Berbahaya
Mengacu pada indikator Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Permen LHK) Nomor P.14 Tahun 2020, kualitas udara di Kabupaten Kutai Barat, khususnya Sendawar, sempat mencapai kategori Berbahaya.
“Laju fluktuasi angka partikulat udara sangat krusial untuk diwaspadai. Wilayah Kutai Barat bahkan sempat menembus level Berbahaya akibat terisolasi kabut asap yang pekat,” jelas Joko Istanto Minggu (11/10/2026).
Selain Kutai Barat, DLH Kaltim juga mencatat penurunan kualitas udara di Kabupaten Berau dan Kutai Kartanegara. Pemantauan berkala menunjukkan kedua wilayah tersebut berada pada kategori Tidak Sehat.
Kondisi ini mendorong DLH Kaltim untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat pengawasan, terutama di kawasan yang terdampak kabut asap akibat karhutla.
DLH Kaltim Kerahkan Peralatan Pemantauan Udara
Untuk memetakan sebaran polutan secara lebih akurat, DLH Kaltim mengoptimalkan pemantauan melalui stasiun otomatis permanen atau Air Quality Monitoring System (AQMS) Fixed Station yang terintegrasi dengan ISPUnet.
Petugas juga mengoperasikan AQMS portable dan perangkat manual active sampler secara langsung di lapangan, khususnya di wilayah rawan kebakaran.
Penggunaan berbagai perangkat tersebut membantu tim teknis mengukur kondisi udara sekaligus memvalidasi data kualitas udara yang terkumpul.
“Tim teknis kami di lapangan terus mengoptimalkan pengujian agar data kualitas udara yang terhimpun benar-benar valid, presisi, dan dapat publik akses secara real-time,” terangnya.
Melalui penguatan pemantauan tersebut, DLH Kaltim berupaya menyediakan informasi kualitas udara yang akurat sebagai dasar penanganan dan bahan pertimbangan masyarakat dalam mengurangi risiko paparan polutan.
Bersinergi dengan KLH Tangani Dampak Karhutla
DLH Kaltim juga memperkuat koordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) untuk menangani karhutla dan menekan dampak kabut asap.
Kerja sama ini berfokus pada penanganan titik panas (hotspot), mitigasi sumber kebakaran, serta perlindungan kesehatan masyarakat.
Di tengah kondisi udara yang memburuk, pemerintah mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah dengan status kualitas udara Tidak Sehat hingga Berbahaya.
Anak-anak, lanjut usia, dan masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus. Mereka dianjurkan membatasi aktivitas di luar ruangan selama kondisi udara belum membaik.
Masyarakat juga perlu menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah untuk mengurangi paparan partikel polutan.
“Kami mengimbau warga untuk disiplin menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan. Saat ini, DLH Kaltim bersama KLH bergerak cepat memitigasi titik-titik pemicu kebakaran agar kepungan asap ini bisa segera diatasi,” tegas Joko.
(*)




