POJOKNEGERI.com — Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mendorong transformasi ekonomi dari sektor pertambangan yang bersifat ekstraktif menuju industri berkelanjutan sebagai salah satu strategi memperkuat Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Salah satu sektor yang dinilai memiliki prospek jangka panjang adalah perkebunan kelapa sawit, terutama melalui pengembangan industri hilirisasi.
Wakil Gubernur Kalimantan Timur Seno Aji mengatakan, sektor sawit memiliki karakter berbeda dengan pertambangan karena tanaman tersebut dapat diremajakan dan terus menghasilkan dalam jangka panjang.
“Justru itu yang kami harapkan, bahwa adanya transformasi industri dari industri ekstraktif pertambangan dan sebagainya menjadi industri yang berkelanjutan. Kelapa sawit menjadi salah satu tujuan kita karena bisa replanting dan bertahan hingga berpuluh-puluh tahun untuk menghasilkan (pendapatan),” ujar Seno Aji.
Menurut dia, pengembangan sawit juga berpotensi meningkatkan nilai ekonomi yang diterima masyarakat, khususnya petani.
Optimisme tersebut semakin diperkuat dengan rencana penerapan program B50 yang membutuhkan bahan baku minyak sawit dalam jumlah besar untuk mendukung campuran biodiesel.
Kondisi itu dinilai dapat meningkatkan permintaan terhadap hasil perkebunan sawit sekaligus memberikan dampak terhadap harga Tandan Buah Segar (TBS) petani.
“Ini akan menambah harga tanaman buah segar dari para petani. Kami memberikan apresiasi kepada Forum Petani Kelapa Sawit (FPKS) yang secara mandiri menanam sawit di kebunnya,” kata Seno Aji.
Meski demikian, pemerintah mengingatkan pengembangan perkebunan sawit harus tetap memperhatikan aspek legalitas dan keberlanjutan lingkungan.
Seno Aji menegaskan, pengembangan perkebunan tidak boleh dilakukan di kawasan yang dilarang, termasuk kawasan hutan.
“Namun tentu harus disesuaikan dengan peraturan yang berlaku di Kalimantan Timur, seperti tidak menanam di kawasan hutan,” tuturnya.
Dorong Produktivitas Petani
Selain mendorong hilirisasi, Pemprov Kaltim juga berupaya meningkatkan produktivitas petani sawit agar sektor perkebunan memberikan dampak ekonomi yang lebih besar.
Salah satunya melalui kebijakan harga TBS yang setara antara petani mandiri dan petani plasma.
Seno Aji mengatakan, kesetaraan harga tersebut diharapkan memberikan kepastian bagi petani mandiri sekaligus menjadi dorongan untuk meningkatkan produktivitas kebun.
“Kami di pemerintah provinsi sudah memberikan yang terbaik bagi petani mandiri. Harga TBS petani mandiri yang ada sekarang panennya itu sama dengan harga petani plasma,” jelasnya.
Menurut dia, kebijakan tersebut memberikan ruang yang lebih besar bagi petani mandiri untuk mengembangkan usaha perkebunannya.
“Ini memberi kesempatan luas bagi mereka untuk meningkatkan produktivitas,” tambahnya.
Pemprov Kaltim juga akan terus memfasilitasi peningkatan kapasitas petani melalui pelatihan teknis dan kerja sama dengan berbagai forum petani.
Langkah tersebut diarahkan untuk memperbaiki tata kelola perkebunan, meningkatkan produktivitas, sekaligus memastikan pengembangan sawit tetap memperhatikan aspek lingkungan.
Dengan penguatan sektor perkebunan dan hilirisasi, pemerintah berharap sumber pertumbuhan ekonomi Kaltim tidak hanya bergantung pada sektor pertambangan.
Transformasi tersebut diharapkan dapat menciptakan sumber penerimaan baru sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Kelapa sawit menjadi salah satu tujuan kita karena bisa replanting dan bertahan hingga berpuluh-puluh tahun untuk menghasilkan,” ujar Seno Aji.
(*)




