Nasional
Sedang tren

Temuan Rafflesia Hasseltii, Peneliti Indonesia Dipastikan Jadi Penulis Utama Publikasi Oxford 

POJOKNEGERI.COM –  Indonesia menjadi buah bibir dunia usai penemuan Rafflesia Hasseltii oleh ilmuwan setelah 13 tahun pencarian. Sang “raksasa merah” ini hanya mekar tujuh hari sehingga sangat sulit ditemukan.

Bahkan, spesies ini tak sekadar langka, melainkan juga sebagai bunga yang paling sulit ditemukan. Lantaran memiliki pola hidup yang misterius dan proses mekarnya yang sangat pendek. 

Peneliti Indonesia jadi Penulis Utama

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, memastikan bahwa peneliti Indonesia akan menjadi penulis utama dalam publikasi ilmiah internasional oleh Oxford University terkait temuan bunga langka Rafflesia hasseltii di Sijunjung, Sumatera Barat.

Kepastian ini Arif sampaikan sebagai respons atas sorotan publik yang muncul setelah unggahan resmi Oxford University tidak mencantumkan nama peneliti Indonesia dalam laporan awal mengenai penemuan tersebut.

Arif menegaskan bahwa publikasi ilmiah yang saat ini sedang dalam proses penyusunan akan menyertakan seluruh pihak yang terlibat dalam ekspedisi. Baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

“Dalam publikasi ilmiah yang sedang dipersiapkan, InsyaAllah periset BRIN yang lead. Publikasi internasional tentunya akan menyertakan semua periset, baik luar maupun dalam, dan periset BRIN menjadi penulis utama,” ujarnya, Selasa (25/11).

Ia mengatakan publikasi ilmiah itu akan menjadi rujukan bagi ilmuwan dunia.

“Publikasi internasional tentunya yang menyertakan semua periset, baik luar maupun dalam, dan periset BRIN menjadi penulis utama,” ucapnya.

Kontroversi bermula ketika akun resmi Oxford University mengunggah informasi mengenai ekspedisi mereka di Sumatra. Dalam unggahan tersebut, Oxford menyebutkan keterlibatan Chris Thorogood dari Oxford Botanic Garden yang menjelajahi hutan hujan Sumatra untuk menemukan Rafflesia hasseltii.

Namun, tidak ada penyebutan mengenai peneliti Indonesia yang turut serta dalam ekspedisi tersebut. Hal ini memicu kritik dan kekecewaan, mengingat temuan tersebut di wilayah Indonesia dengan kontribusi besar dari peneliti lokal.

“Kemarin, @thorogoodchris1 dari Oxford Botanic Garden’s menjadi bagian dari tim yang menjelajahi hutan hujan Sumatra (sebuah pulau di Indonesia) yang dijaga harimau siang dan malam untuk menemukan Rafflesia hasseltii,” tulis akun @University of Oxford, dilihat Senin (24/11).

Anies Baswedan Sentil Oxford

Hal ini menimbulkan ragam komentar, salah satunya dari eks Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Anies Baswedan.

Anies meminta Universitas Oxford untuk turut mencantum nama-nama ilmuwan asal Indonesia yang turut menjadi bagian tim penemuan.

Dalam unggahan di akun X resmi @aniesbaswedan, Minggu (23/11/2025), mantan Rektor Universitas Paramadina tersebut menyentil Universitas Oxford untuk tidak lupa menyebut para peneliti dari Indonesia. Yakni, Joko Witono, Septi Andriki, dan Iswandi.

Anies pun mengingatkan bahwa para peneliti dan pemandu lokal ini bukanlah NPC, yang dalam dunia permainan atau game artinya Non-Playable Character atau tokoh bukan pemain.

Dalam konteks sosial yang lebih luas, istilah NPC dapat sebagai ‘bukan tokoh penting atau tokoh utama’ dan hanya sebagai pelengkap.

“Kepada @UniofOxford, para peneliti Indonesia kami — Joko Witono, Septi Andriki, dan Iswandi — bukanlah NPC. Sebutkan juga nama mereka,” jelas dia.

Joko Ridho Witono atau Joko Witono merupakan Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Sementara Septi Andriki (atau Septian Andriki, sebagaimana tercantum dalam akun media sosial Instagramnya) adalah aktivis lingkungan asal Bengkulu.

Lalu, Iswandi berasal dari Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPHN) Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat.

Adapun Anies Baswedan sendiri menjadi orang Indonesia pertama yang ditunjuk sebagai anggota Dewan Pendiri Institute for ASEAN Studies, bagian dari Oxford School of Global and Area Studies pada Januari 2023 silam.

Apa Itu Rafflesia Hasseltii?

Rafflesia hasseltii merupakan spesies bunga parasit dari genus Rafflesia. Ciri khasnya adalah ukuran bunga yang besar, warna merah pekat dengan corak berbintik putih, serta aroma menyengat yang menyerupai bau bangkai. Bau inilah yang menarik serangga, terutama lalat, untuk membantu proses penyerbukan.

Beberapa karakteristik utama:

  • Diameter bunga dapat mencapai 60–70 cm.
  • Tidak memiliki daun, batang, atau akar.
  • Hidup sebagai parasit pada tanaman inang, biasanya Tetrastigma.
  • Waktu mekarnya sangat singkat, hanya 3–5 hari.
  • Merupakan spesies endemik Indonesia, terutama Sumatra , Bengkulu, dan Kalimantan.

(*)

Back to top button