Tonton Video Langsung Tanpa Membaca Berita
Internasional

Rusia Kecam Tindakan Amerika Terhadap Kuba

POJOKNEGERI.com – Pemerintah Rusia melalui Kremlin mengecam tindakan Amerika Serikat yang disebutnya sebagai langkah-langkah “mencekik” terhadap Kuba, Senin (9/2/2026). Tuduhan itu muncul di tengah memburuknya krisis energi di negara kepulauan Karibia tersebut. Menurut Moskow makin parah akibat kebijakan Washington yang mengekang pasokan minyak dan bahan bakar ke Havana.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov dalam keterangan pers kepada awak media menyatakan, situasi di Kuba “benar-benar kritis” dan bahwa kebijakan AS telah menyebabkan “banyak kesulitan” bagi negara yang selama puluhan tahun menjadi sekutu politik Rusia. Peskov menyebut upaya soal pasokan energi ke Kuba kini menjadi pembicaraan intensif antara Moskow dan Havana.

“Teknik mencekik yang Amerika Serikat terapkan telah menimbulkan banyak kesulitan bagi negara tersebut. Kami sedang mendiskusikan dengan teman-teman Kuba untuk menemukan solusi atau paling tidak memberikan bantuan apa pun yang kami bisa,” ujar Peskov.

Krisis Energi Kuba Makin Parah

Krisis energi di Kuba telah mencapai titik yang mengkhawatirkan setelah Washington memperluas sanksi dan kebijakan tekanan ekonomi terhadap Havana.

Pemerintah Amerika Serikat, di bawah Presiden Donald Trump, sejak akhir Januari 2026 menandatangani executive order yang memberi kewenangan untuk mengenakan tarif terhadap negara yang memasok minyak ke Kuba.

Langkah ini bertujuan menekan akses bahan bakar banyak negara kepada pemerintah Kuba. Termasuk yang selama ini menjadi pemasok utama minyak seperti Venezuela dan Meksiko. Kebijakan itu diperkuat setelah operasi militer Amerika Serikat yang berujung pada penangkapan pemimpin Venezuela, Nicolás Maduro, pada awal Januari 2026.

Venezuela, yang selama puluhan tahun menjadi pemasok utama minyak bagi Kuba, kini tidak lagi memenuhi kebutuhan energi pulau itu. Dengan demikian, pasokan energi yang vital bagi listrik, transportasi, hingga bahan bakar industri sangat terganggu.

Akibatnya, pemerintah Kuba terpaksa memberlakukan serangkaian kebijakan darurat. Pemerintah di bawah pimpinan Presiden Miguel Díaz-Canel mengumumkan langkah-langkah seperti pembatasan penjualan bahan bakar. Pemberlakuan empat hari kerja dalam seminggu untuk perusahaan milik negara. Serta rasio pasokan listrik yang ketat agar layanan esensial tetap berjalan.

Dampak Langsung terhadap Masyarakat

Akibat kelangkaan energi yang semakin dalam, Kuba juga menghadapi pemadaman bergilir di banyak daerah. Listrik menjadi barang langka di banyak kota, termasuk ibu kota Havana, yang berkontribusi pada gangguan layanan dasar seperti transportasi umum, air bersih, serta layanan kesehatan.

Dalam perkembangan terbaru, pihak berwenang Kuba bahkan memperingatkan maskapai penerbangan internasional bahwa bahan bakar jet tidak lagi tersedia di sembilan bandara utam. Termasuk bandara internasional José Martí di Havana, hingga setidaknya pertengahan Maret 2026.

Hal ini memaksa beberapa maskapai besar seperti Air Canada memutuskan menangguhkan penerbangan ke Kuba. Sementara yang lain mengatur ulang rute dan pasokan bahan bakar melalui negara lain sebelum mendarat di pulau itu.

Situasi tersebut ikut memukul sektor pariwisata Kuba yang menjadi sumber devisa penting. Dengan terganggunya operasi penerbangan internasional dan kekhawatiran wisatawan. Banyak hotel dan resor terpaksa menutup sebagian layanan mereka atau mengurangi operasi guna menekan konsumsi energi.

Reaksi Internasional dan Kritik Moskow.

Rusia menilai kebijakan Amerika Serikat terhadap Kuba sebagai tindakan yang tidak dapat diterima dan berpotensi memicu krisis kemanusiaan.

Selain pernyataan Peskov, Moskow juga menegaskan akan terus menjalin komunikasi dengan Havana untuk merancang bantuan dalam berbagai bentuk. Termasuk kemungkinan suplai energi atau bantuan teknis lain.

Pernyataan itu dipertegas oleh Duta Besar Rusia untuk Kuba, Viktor Coronelli, yang menyatakan komitmen negaranya untuk terus memasok minyak ke Kuba. Ini sebagaimana telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir, meskipun volume pasokan dipengaruhi oleh kondisi global dan geopolitik.

Sementara itu, dari hadapan komunitas internasional, banyak negara dan analis memperingatkan bahwa tindakan memotong akses energi ke sebuah negara dapat menciptakan efek domino yang luas, tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga pada kesehatan, pendidikan, dan kehidupan warga sipil secara keseluruhan.

Lembaga internasional seperti PBB bahkan sempat mengeluarkan peringatan mengenai kemungkinan terjadinya “keruntuhan kemanusiaan” di Kuba jika situasi energi tidak segera diatasi.

Posisi Pemerintah Kuba

Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel menegaskan bahwa negaranya siap melakukan pembicaraan dengan Amerika Serikat, namun bukan di bawah tekanan. Dalam beberapa pernyataannya, Díaz-Canel menyatakan kesediaan Havana untuk berdialog tetapi dengan syarat penghormatan terhadap kedaulatan dan tanpa syarat yang merugikan rakyat Kuba.

“Kami siap berdiskusi dengan Amerika Serikat, namun tidak di bawah tekanan,” ujar Díaz-Canel dalam sebuah pidato resmi. Pernyataan ini mencerminkan keteguhan pemerintah Kuba untuk mempertahankan prinsip dan tidak menyerah pada apa yang mereka pandang sebagai agresi luar negeri.

Krisis ini bukan hanya soal energi. Pengamat melihat implikasinya mencakup keamanan pangan, mobilitas publik, kesehatan masyarakat, dan stabilitas sosial. Ketegangan antara Kuba dan Amerika Serikat bisa memicu gelombang protes dan ketidakpuasan publik. Terutama di tengah kesulitan sehari-hari masyarakat yang semakin akut.

Dengan tekanan dari Washington yang tidak kunjung mereda dan dukungan diplomatik serta politik dari sekutu seperti Rusia yang makin vokal, konflik geopolitik atas Kuba diprediksi akan terus menjadi sorotan dunia internasional dalam beberapa pekan mendatang.

(*)

Back to top button