Pemerintah Bangun Ekosistem Peternakan dari Hulu ke Hilir

POJOKNEGERI.com – Pemerintah mempercepat pembangunan ekosistem peternakan terintegrasi dengan mendekatkan industri pakan ke sentra produksi bahan baku.
Langkah ini untuk memangkas rantai distribusi, menekan biaya logistik, sekaligus memperkuat pasokan ayam, telur, dan susu untuk kebutuhan nasional.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan, pemerintah menyiapkan anggaran sekitar Rp17 triliun untuk mengembangkan ekosistem peternakan di sejumlah wilayah.
Program tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat industri peternakan nasional sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
Lima Kawasan Jadi Tahap Awal
Amran menyebut pemerintah akan mengalokasikan Rp2,2 triliun untuk tahap awal pembangunan di lima kawasan. Kelima wilayah itu meliputi Lampung, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Gorontalo.
Pemerintah akan membangun fasilitas yang mencakup pabrik pakan dan pembibitan ayam atau DOC di kawasan tersebut. Amran menargetkan seluruh fasilitas tahap awal dapat selesai dan diresmikan pada tahun depan.
“Lima pabrik pakan, DOC dan seterusnya itu selesai tahun depan. Insyaallah lima ini diresmikan tahun depan,” ujar Mentan Amran saat kunjungan kerja di Bone, Sulawesi Selatan, Jumat (25/9).
Pemerintah merancang kawasan tersebut sebagai ekosistem peternakan dari hulu hingga hilir. Rantai produksinya mencakup penyediaan pakan, pembibitan atau DOC, budidaya ayam, produksi telur, hingga pengembangan sapi perah dan susu.
Dekatkan Pabrik Pakan dengan Sentra Jagung
Pemerintah menempatkan efisiensi logistik sebagai salah satu alasan utama pembangunan pabrik pakan di dekat sentra produksi jagung.
Amran mengatakan kebutuhan jagung untuk pakan dapat dipasok dari Bone, Soppeng, dan kabupaten di sekitarnya. Dengan begitu, peternak tidak perlu mengandalkan rantai distribusi panjang untuk mendapatkan bahan baku pakan.
“Ayam butuh pakan. Pakannya dari jagung. Jagung ini nanti dari Bone, Soppeng, kabupaten tetangga, dari mana saja. Karena ini yang menjadi pakan nanti,” kata Mentan.
Menurut Amran, pola tersebut dapat mengurangi biaya distribusi karena pemerintah tidak perlu mengirim jagung ke wilayah lain untuk diolah menjadi pakan sebelum mengirimnya kembali ke sentra peternakan.
“Jadi dari hulu ke hilir ini holistik. Itu murah. Daripada jagung ini dikirim ke Surabaya, dikirim ke Jakarta, setelah jadi pakan dikembalikan,” ujarnya.
Perkuat Pasokan Ayam, Telur, dan Susu untuk MBG
Pemerintah juga menghubungkan pengembangan kawasan peternakan dengan kebutuhan pangan bergizi dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Melalui integrasi tersebut, pemerintah mendorong produksi ayam, telur, dan susu dari dalam negeri agar dapat memenuhi kebutuhan program sekaligus memperkuat pasar bagi produk peternakan lokal.
“Dari hulu ke hilir ini holistik. Ada MBG menjadi off-taker ayam, telur, susu. Kemudian di sini produksi telur, ayam, susu,” tutur Amran.
Selain ayam dan telur, pemerintah mengembangkan sapi perah untuk meningkatkan produksi susu nasional. Produksi tersebut untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, terutama anak-anak.
Amran menilai peningkatan konsumsi ayam, telur, dan susu pada anak-anak tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan pangan saat ini, tetapi juga menjadi investasi terhadap kualitas sumber daya manusia.
“Generasi kita adalah generasi cerdas nanti ke depan, sehingga mencapai Indonesia Emas,” ujarnya.
Bone Disiapkan Jadi Kawasan Peternakan
Bone menjadi salah satu kawasan yang masuk dalam pembangunan tahap awal. Pemerintah menyiapkan area sekitar 150 hektare untuk pengembangan ekosistem peternakan di wilayah tersebut.
Pembangunan kawasan ini diharapkan menciptakan rantai ekonomi baru di sekitar sentra produksi. Selain menyerap bahan baku lokal, kawasan peternakan juga dapat mendorong pertumbuhan industri pengolahan, distribusi, dan penyerapan tenaga kerja.
Amran menekankan pentingnya pendekatan terintegrasi agar pembangunan peternakan tidak berhenti pada produksi ternak. Pemerintah juga ingin memperkuat pasar bahan baku dan industri pengolahan hingga distribusi produk kepada konsumen.
“Lokal lah. Kalau mau kerja di sini, itu kan lapangan kerja,” pungkas Amran.
(*)
