
POJOKNEGERI.COM – Wali Kota Samarinda, Andi Harun menyampaikan tausiah pada peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah. Kegiatan ini berlangsung di Langgar Nurrussa’adah, Kelurahan Sidodamai, Kecamatan Samarinda Ilir, Jumat (30/1/2026) malam.
Pada kesempatan ini, Andi Harun mengajak umat Islam menjadikan peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW sebagai momentum untuk memperkuat kualitas salat yang tidak hanya bersifat ritual. Tetapi benar-benar menghadirkan hati dan ketundukan kepada Allah SWT.
Orang nomor satu di Pemkot Samarinda ini menegaskan bahwa Isra Mi’raj bukan sekadar peristiwa historis yang setiap tahun umat Islam peringati. Melainkan pesan spiritual tentang salat sebagai jalan kembali seorang hamba kepada Tuhannya.
Dalam tausiah tersebut, Andi Harun mengingatkan bahwa peristiwa Isra Mi’raj terjadi pada masa paling berat dalam kehidupan Rasulullah SAW. Yakni Tahun Kesedihan (Aamul Huzn) saat wafatnya Siti Khadijah dan Abu Thalib.
Namun justru pada masa penuh ujian itulah Allah SWT menghadiahkan perintah salat secara langsung kepada Nabi Muhammad SAW.
“Salat adalah bentuk ilāihi rāji‘ūn, jalan kembali seorang hamba kepada Allah di tengah kelelahan, kesedihan, dan beratnya ujian hidup,” ujarnya.
Ia kemudian mengisahkan ilustrasi tentang sebuah keluarga sederhana yang mendapat ujian dengan sakit anak dan keterbatasan ekonomi.
Dalam kepasrahan dan sujud yang tulus, pertolongan Allah datang melalui cara yang tidak sangka-sangka. Menurutnya, kisah tersebut menunjukkan bahwa salat yang menghadirkan hati mampu menguatkan manusia menghadapi ujian. Meskipun persoalan hidup tidak selalu langsung terangkat.
Keseimbangan Ibadah dan Ikhtiar
Lebih lanjut, Andi Harun menegaskan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara ibadah dan ikhtiar.
Salat tidak boleh jadi alasan untuk meninggalkan usaha, karena rezeki berjalan sesuai sunnatullah atau hukum sebab akibat. Semakin baik salat seseorang, seharusnya semakin sungguh-sungguh pula ikhtiarnya dalam bekerja dan berbuat kebaikan.
Dalam perspektif tasawuf, ia memaknai Isra Mi’raj sebagai perjalanan spiritual dari dimensi lahir menuju kedekatan batin dengan Allah SWT.
Salat yang benar, kata dia, adalah salat yang menanggalkan ego, prasangka, dan kegelisahan duniawi, sehingga mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar sebagaimana ditegaskan dalam Al Qur’an.
Ia mengingatkan bahwa salat merupakan satu-satunya ibadah yang diperintahkan langsung oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW tanpa perantara, sehingga memiliki kedudukan yang sangat mulia sebagai mi’rajnya orang-orang beriman.
Di akhir tausiah, Wali Kota Samarinda mengajak seluruh jemaah menjadikan salat sebagai bābul rahmah pintu rahmat bagi seluruh aspek kehidupan, mulai dari keluarga, pekerjaan, hingga kehidupan sosial dan kepemimpinan.
Ia juga memohon doa agar senantiasa diberi keistikamahan dalam menjalankan amanah serta tetap berpegang pada tuntunan Allah SWT dan ajaran Rasulullah SAW.
“Seberat apa pun ujian hidup, Allah tidak pernah membiarkan kita sendiri. Kuncinya adalah kembali kepada Allah dengan salat yang menghadirkan hati dan ketundukan,” tutupnya.
(*)
