Antrean BBM Mengancam Sejumlah Daerah, Bahlil Singgung Kendala Distribusi

POJOKNEGERI.com – Sejumlah wilayah di Indonesia menghadapi potensi antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) akibat terhambatnya distribusi bahan bakar minyak (BBM). Pemerintah...

00:00 / 04:32 1×
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia Foto: Dok. Pojoknegeri
Advertisement
Ruang Iklan 300 × 250 px / Responsif

POJOKNEGERI.com – Sejumlah wilayah di Indonesia menghadapi potensi antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) akibat terhambatnya distribusi bahan bakar minyak (BBM). Pemerintah menyoroti pendangkalan sungai selama musim kemarau yang menyulitkan kapal pengangkut mengirim pasokan ke sejumlah daerah.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, menyebut persoalan distribusi BBM terjadi di beberapa wilayah, mulai dari Bali hingga Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi.

Advertisement
Ruang Iklan 300 × 250 px / Responsif

Bahlil menyampaikan hal tersebut setelah mengikuti rapat di depo atau Terminal BBM Pesanggaran, Kota Denpasar, Bali, Senin (19/10). Ia mengatakan pemerintah telah mengevaluasi antrean yang sebelumnya terjadi di Bali.

“Di Bali kita lakukan evaluasi, alhamdulillah sudah bisa kita urai,” kata Menteri Bahlil.

Ia juga mengungkapkan pemerintah membahas kendala penyaluran BBM di daerah lain.

“Nah, memang tadi ada juga kita bahas tentang beberapa tempat di wilayah Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera,” imbuhnya.

Jalur Sungai Tak Lagi Optimal

Menurut Bahlil, laporan Direktur Utama Pertamina menunjukkan bahwa musim kemarau menyebabkan sejumlah sungai mengalami pendangkalan. Akibatnya, kapal berukuran besar yang sebelumnya mengangkut BBM melalui jalur sungai tidak lagi bisa menjangkau beberapa lokasi.

“Tadi Pak Dirut Pertamina menyampaikan kepada saya, ada beberapa wilayah yang tadinya kita distribusi kapal pakai sungai, sekarang sebagian sungai itu mengalami pendangkalan akibat cuaca. Karena pendangkalan, maka tadinya kapal yang bisa masuk dengan skala besar, itu tidak bisa lagi,” jelas Bahlil.

Kondisi tersebut mendorong Pertamina mengubah pola pengiriman dengan mengalihkan sebagian distribusi ke jalur darat. Namun, penggunaan transportasi darat membutuhkan waktu tambahan untuk menjangkau wilayah tujuan.

“Jadi kita mengalihkan dengan transportasi darat, dan itu sebagian memakan waktu. Tapi sekalipun demikian, kita akan melakukan maksimal agar hal-hal yang tidak diinginkan itu tidak terjadi lagi,” ungkapnya.

Pertamina Diminta Mempercepat Penyaluran

Di tengah gangguan distribusi tersebut, Bahlil memastikan cadangan BBM nasional masih berada pada kisaran 16 hingga 18 hari. Ia menegaskan pemerintah tidak melihat persoalan utama pada cadangan nasional, melainkan pada kelancaran penyaluran antardaerah.

“Jadi overall tidak ada sesuatu yang harus kita khawatirkan secara cadangan nasional. Sekarang distribusinya kita perlancar. Jadi distribusi dari satu kota ke kota yang lain, ini yang saya minta kepada Pertamina untuk menambah armada,” ujar Bahlil.

(*)

Advertisement
Ruang Iklan 300 × 250 px / Responsif
Pojoknegeri
Redaksi Pojoknegeri

Tim redaksi Pojoknegeri menyajikan berita independen dan berimbang untuk Indonesia.

Lihat Semua Artikel
Bagikan berita ini: Facebook X (Twitter) WhatsApp Telegram