Internasional
Sedang tren

Trump Mengaku Tak Menyesal Memulai Perang dengan Iran

POJOKNEGERI.com  – Perang dengan Iran mulai menjadi ujian politik bagi Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Di tengah harga bensin yang terus meningkat dan konflik yang belum berakhir setelah berbulan-bulan, Trump tetap membela keputusan untuk melancarkan perang dan menegaskan dirinya tidak menyesal.

Trump bahkan menyatakan akan kembali mengambil keputusan yang sama jika mendapat kesempatan untuk mengulangnya.

Sikap tersebut menunjukkan bahwa Trump tidak berniat mengendurkan pendiriannya meski perang berpotensi memengaruhi dukungan terhadap Partai Republik dalam pemilu sela.

Trump Tak Menyesali Keputusan Perang

Dalam wawancara dengan host Fox News Laura Ingraham, Trump ditanya apakah dirinya menyesal memulai perang dengan Iran karena konflik tersebut dapat membawa konsekuensi politik bagi dirinya dan Partai Republik.

Trump menolak menggunakan istilah “penyesalan” untuk menggambarkan keputusannya.

“Saya tidak percaya pada kata ‘penyesalan’. Anda mungkin sesekali mempertanyakan diri sendiri,” kata Trump dalam wawancara dengan host Fox News, Laura Ingraham.

Trump kemudian memastikan bahwa dirinya akan mengambil langkah yang sama jika kembali menghadapi situasi serupa.

“Jika saya harus melakukannya lagi, saya akan melakukan hal yang persis sama,” cetus Presiden AS tersebut dalam wawancara dengan program “The Ingraham Angle” yang disiarkan pada Kamis (10/9) waktu setempat.

Trump juga membantah anggapan bahwa perang yang berkepanjangan telah membuat sebagian pendukungnya kecewa. Ia justru mengklaim para pendukungnya bangga dengan kebijakannya terhadap Iran.

“Saya pikir mereka tidak kehilangan semangat. Saya rasa mereka sangat bangga atas fakta bahwa saya tidak membiarkan Iran memiliki senjata nuklir,” ujarnya.

Harga Bensin Mengancam Jadi Isu Pemilu

Meski Trump mempertahankan keputusannya, perang mulai menimbulkan persoalan ekonomi yang sulit diabaikan. Kenaikan harga minyak dan bahan bakar menjadi salah satu isu utama yang dihadapi Partai Republik menjelang pemilu sela.

Menurut American Automobile Association (AAA), harga rata-rata bensin di Amerika Serikat mencapai US$ 4,22 per galon pada Rabu (9/9). Angka tersebut meningkat dari US$ 4,01 sebulan sebelumnya dan US$ 3,19 pada periode yang sama tahun lalu.

Lonjakan harga tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap pemerintahan Trump karena biaya bahan bakar langsung memengaruhi pengeluaran masyarakat. Kondisi itu juga berpotensi menjadi amunisi politik bagi pihak yang mengkritik perang dengan Iran.

Trump Klaim Perang Bisa Berakhir Sebelum Pemilu

Di tengah tekanan tersebut, Trump berusaha memberikan sinyal bahwa perang tidak akan berlangsung tanpa batas waktu. Dalam wawancara terpisah dengan NewsNation, ia mengatakan konflik dengan Iran mungkin selesai sebelum pemilu sela pada 3 November.

Pernyataan itu muncul sehari setelah Trump memperkirakan perang akan berakhir setelah pemilu.

“Saya tidak tahu apakah mereka (Iran-red) akan mampu bertahan. Namun, masalah ini akan selesai setelah pemilu. Atau mungkin lebih cepat,” kata Trump dalam wawancara via telepon dengan media NewsNation.

Perang yang dimulai pada akhir Februari tersebut kini memasuki bulan ketujuh tanpa tanda-tanda penyelesaian yang jelas. Serangan balasan Iran di kawasan Timur Tengah juga telah menewaskan sedikitnya 18 personel militer Amerika Serikat.

(*)

Back to top button