
POJOKNEGERI.com – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memasuki fase berbahaya. Kali ini, perseteruan kedua negara tidak hanya berpusat pada serangan terhadap fasilitas militer, tetapi juga mengarah ke kawasan Selat Hormuz yang menjadi jalur strategis bagi perdagangan energi dunia.
Presiden AS Donald Trump bahkan membuka kemungkinan Washington kembali melancarkan serangan terhadap Iran kapan saja. Pernyataan itu muncul setelah militer AS menggempur sejumlah target Iran dalam operasi terbaru yang menewaskan sedikitnya 19 orang, termasuk warga sipil.
Selat Hormuz Jadi Titik Strategis
Pasukan AS menyerang sejumlah sasaran di sepanjang pesisir selatan Iran dan wilayah sekitar Selat Hormuz. Washington menyebut operasi tersebut antara lain bertujuan menghentikan kemampuan Iran untuk mengganggu jalur pelayaran di kawasan tersebut.
Sebelumnya, pada Minggu (30/8), pasukan AS menyerang peluncur roket Iran di Pulau Larak, lepas pantai selatan Iran. AS menyatakan tindakan itu bertujuan mencegah Teheran kembali menebar ranjau laut di Selat Hormuz.
Trump kemudian mengklaim serangan terbaru AS telah menghancurkan berbagai peralatan militer yang sedang dibangun Iran di kawasan strategis tersebut.
“Kita telah menghancurkan jauh lebih banyak, daripada sekadar radar mereka, tadi malam,” klaim Trump.
Dia juga mengatakan serangan AS “melenyapkan semua peralatan baru yang coba mereka bangun di sepanjang Selat Hormuz”.
Klaim tersebut memperlihatkan bahwa Washington kini memberikan perhatian besar terhadap kemampuan Iran mengendalikan atau mengganggu aktivitas pelayaran di selat tersebut.
Iran Balik Hantam Target AS
Iran merespons serangan AS dengan melancarkan serangkaian serangan terhadap posisi militer Washington di Timur Tengah.
Pasukan Iran menargetkan pangkalan dan aset militer AS di sejumlah lokasi, termasuk Yordania, Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab, serta Erbil di wilayah Kurdistan, Irak.
Trump mengakui Iran telah melakukan serangan balasan, tetapi menilai dampaknya jauh lebih kecil dibandingkan serangan AS.
“Kita menghantam mereka dengan keras tadi malam. Mereka hanya membalas dengan pukulan ringan, tapi kita menghantam mereka dengan keras,” kata Trump saat berbicara kepada wartawan di Ruang Oval Gedung Putih pada Rabu (2/9) waktu setempat.
Serangan juga dilaporkan menghantam sebuah acara pernikahan di kota Kuhestak, Sirik, yang menambah kekhawatiran mengenai dampak konflik terhadap warga sipil.
Trump Buka Peluang Serangan Berikutnya
Di tengah eskalasi tersebut, Trump memperingatkan bahwa AS belum menutup opsi untuk kembali menyerang Iran.
“Itu adalah serangan yang sangat dahsyat, dan kita siap melancarkan serangan lagi, kapan saja kita mau,” tegas Trump.
Meski demikian, Trump menyatakan operasi militer terbaru AS tidak akan berlangsung “terlalu lama”.
Pernyataan tersebut menciptakan situasi yang penuh ketidakpastian. Di satu sisi, Washington mengisyaratkan bahwa operasi tidak akan berlangsung berkepanjangan. Namun di sisi lain, Trump tetap mempertahankan ancaman serangan lanjutan jika AS menilai Iran kembali mengancam kepentingannya.
(*)


