
POJOKNEGERI.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengancam Iran dengan ultimatum tegas. Ia menegaskan, jika Teheran tidak segera menyetujui kesepakatan damai dengan Washington, negara itu “tidak akan ada yang tersisa”. Pernyataan ini disampaikan melalui platform Truth Social miliknya pada Minggu, 17 Mei 2026.
“Bagi Iran, waktu terus berjalan, dan mereka sebaiknya bergerak CEPAT, atau tidak akan ada yang tersisa dari mereka. WAKTU SANGAT KRUSIAL!” tulis Trump. Ancaman ini muncul setelah Trump memerintahkan serangan udara ke Iran pada 28 Februari lalu, menandai eskalasi militer yang signifikan di kawasan Timur Tengah.
Perang AS-Iran Memicu Krisis Regional
Konflik antara AS dan Iran telah memperluas ketegangan di Timur Tengah. Teheran menanggapi agresi Amerika dengan memblokade Selat Hormuz, jalur strategis sekitar 20 persen ekspor minyak dunia. Tindakan ini meningkatkan risiko krisis energi global dan melibatkan negara-negara tetangga, termasuk Israel dan Lebanon, yang terjerat dalam konflik yang lebih luas.
Kebuntuan diplomatik tetap menjadi kendala utama. Meskipun Amerika Serikat mengajukan proposal damai, Iran menyatakan tuntutan Washington terlalu tinggi dan sulit diterima. Perundingan antara kedua negara terus berlangsung, namun belum menghasilkan kesepakatan.
Iran Tetap Tegas dengan Tuntutannya
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan bahwa proses komunikasi dengan AS masih berjalan melalui mediator Pakistan. Ia menolak mengungkap detail proposal dan respons Iran, namun memastikan bahwa semua kekhawatiran telah di sampaikan.
“Seperti yang kami umumkan kemarin, kekhawatiran kami telah disampaikan kepada pihak Amerika,” kata Baqaei dalam konferensi pers pada Senin, 18 Mei 2026, dilansir AFP. Ia menambahkan, “Pertukaran terus berlanjut melalui mediator Pakistan.”
Baqaei menekankan bahwa Iran tetap mempertahankan tuntutannya, termasuk pembebasan aset yang dibekukan di luar negeri dan pencabutan sanksi yang telah lama diberlakukan. Ia juga menekankan bahwa Iran menuntut ganti rugi perang, menilai konflik ini sebagai “ilegal dan tidak berdasar”.
Ancaman Militer Masih Mengintai
Iran memperingatkan bahwa mereka sepenuhnya siap menghadapi segala kemungkinan konfrontasi militer. Pernyataan ini mencerminkan ketegangan yang tinggi di kawasan dan ketidakpastian mengenai masa depan negosiasi.
Sementara Trump menekan dengan ultimatum keras, Iran menuntut jaminan ekonomi dan pengakuan atas hak-haknya. Kedua belah pihak tampak terjebak dalam kebuntuan diplomatik yang bisa memicu eskalasi militer jika salah satu pihak mengambil langkah drastis.
Meski ketegangan meningkat, jalur diplomasi masih terbuka melalui mediasi pihak ketiga, yaitu Pakistan. Baqaei menegaskan bahwa pertukaran pesan dan negosiasi terus berlangsung, menandakan bahwa kedua negara masih mencari jalan untuk menghindari perang terbuka yang lebih luas.
Ancaman blokade Selat Hormuz dan risiko krisis energi global menambah urgensi bagi kedua pihak untuk segera mencapai kesepakatan. Namun, perbedaan tuntutan dan tekanan politik internal masing-masing negara membuat tercapainya damai masih jauh dari jangkauan.
(*)
