
POJOKNEGERI.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjamu Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MbS), dalam sebuah pertemuan bersejarah di Gedung Oval, Washington DC.
Pertemuan yang berlangsung pada Selasa malam itu menghasilkan pengumuman mengejutkan: Trump secara resmi menetapkan Arab Saudi sebagai Major Non-NATO Ally (sekutu utama non-NATO) bagi Amerika Serikat.
Dalam konferensi pers bersama, Trump menyampaikan bahwa keputusan ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat hubungan militer dan keamanan antara kedua negara.
“Malam ini, saya dengan bangga mengumumkan bahwa kami telah meningkatkan kerja sama militer ke tingkat yang lebih tinggi dengan secara resmi menetapkan Arab Saudi sebagai sekutu utama non-NATO. Ini adalah sesuatu yang sangat penting bagi mereka,” ujar Trump.
Trump menambahkan bahwa pengumuman tersebut sengaja dirahasiakan hingga saat pertemuan dengan MbS.
“Dan saya baru memberitahu Anda sekarang untuk pertama kalinya, karena mereka ingin merahasiakannya untuk malam ini,” katanya, merujuk pada status yang sebelumnya hanya dimiliki oleh 19 negara di dunia.
Kunjungan MbS ke Gedung Putih pada Selasa (18/11) merupakan kunjungan pertamanya sejak kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi tahun 2018.
Hubungan AS-Saudi sempat memburuk, dengan intelijen Washington mengindikasikan MBS menyetujui pembunuhan itu — sebuah tuduhan yang dibantah otoritas Saudi.
Trump Bela MbS
Trump membela MBS saat berbicara dengan wartawan di Gedung Putih, dengan mengatakan sang Putra Mahkota Saudi “tidak tahu apa-apa tentang itu”,
Status “sekutu utama non-NATO” atau MNNA yang diberikan Trump kepada Saudi, berdasarkan hukum AS, “memberikan manfaat tertentu kepada mitra asing di bidang perdagangan pertahanan dan kerja sama keamanan”, namun tidak memberikan komitmen keamanan apa pun.
Negara-negara Timur Tengah lainnya yang telah ditetapkan oleh AS sebagai sekutu utama non-NATO, termasuk Bahrain, Mesir, Yodania, Kuwait, Qatar, dan Israel.
Sejumlah Perjanjian Disepakati
Selama kunjungan MBS ke AS, kedua negara menandatangani sejumlah perjanjian, termasuk perjanjian mengenai energi nuklir sipil dan pembelian jet tempur siluman F-35. Dalam perjanjian energi nuklir itu ditegaskan bahwa perusahaan AS akan menjadi mitra pilihan Saudi untuk kerja sama nuklir sipil.
Sedangkan pembelian jet tempur siluman F-35 diatur dalam perjanjian pertahanan strategis, yang juga mencakup pembelian paket senjata AS oleh Saudi.
Dalam kunjungannya ini, MbS juga menegaskan bahwa status negara Palestina menjadi kunci bagi terjalinnya hubungan antara Saudi dan Israel. Trump diketahui menginginkan Saudi bergabung dalam Abraham Accords yang mengatur normalisasi negara Arab dan Israel, namun MBS mengatakan bahwa dibutuhkan “jalan yang jelas” menuju pembentukan negara Palestina, sebelum normalisasi bisa dilakukan.
MbS Buka Peluang Normalisasi Hubungan dengan Israel
Dalam kesempatan ini, MbS blak-blakan mengatakan Arab Saudi ingin menormalisasi hubungan dengan Israel lewat kerangka Abraham Accords, namun dengan syarat ada “jalan yang jelas” menuju berdirinya Negara Palestina.
Dalam pernyataan di Washington, Amerika Serikat (AS), pada Selasa (18/11), MbS terang-terangan mengatakan ingin menjalin hubungan diplomatik dengan Israel dalam kerangka perjanjian yang diinisiasi Presiden AS Donald Trump itu.
Namun MbS menekankan bahwa prospek itu dapat terwujud apabila ada “jalan yang jelas” mengenai pendirian negara Palestina.
“Kami ingin menjadi bagian dari Abraham Accords. Namun, kami juga ingin memastikan bahwa kami mengamankan jalan yang jelas menuju solusi dua negara,” kata MbS di Oval Office bersama Trump, seperti dikutip AFP.
“Kami akan mengupayakannya, dan mempersiapkan situasi yang tepat sesegera mungkin,” lanjut MbS.
MbS berujar Saudi menginginkan perdamaian bagi Israel maupun Palestina. Riyadh ingin keduanya hidup berdampingan secara damai di wilayah Timur Tengah.
“Kami menginginkan perdamaian bagi Israel juga menginginkan perdamaian bagi Palestina… Kami ingin mereka hidup berdampingan secara damai di wilayah ini, dan akan melakukan yang terbaik untuk mewujudkannya,” ucap MbS.
(*)