Tonton Video Langsung Tanpa Membaca Berita
Internasional

Trump Peringatkan Inggris Soal Hubungan dengan China

POJOKNEGERI.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan kritik terbuka terhadap langkah Perdana Menteri Inggris Keir Starmer yang melakukan pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing. Trump menilai langkah tersebut berisiko dan berpotensi membahayakan hubungan strategis Inggris dengan Amerika Serikat. Mengingat London merupakan salah satu sekutu terdekat Washington.

Trump menegaskan bahwa berurusan dan menjalin kerja sama bisnis dengan China membawa konsekuensi besar. Terutama bagi negara-negara Barat yang tergabung dalam aliansi keamanan dengan Amerika Serikat.

“Berurusan dan berbisnis dengan China selalu membawa risiko besar,” ujar Trump dalam pernyataannya kepada media.

Kunjungan Keir Starmer ke China pada pekan ini menjadi perhatian internasional karena merupakan lawatan pertama Perdana Menteri Inggris ke Beijing sejak 2018. Langkah tersebut menandai upaya London untuk membuka kembali dialog tingkat tinggi dengan China setelah hubungan kedua negara sempat membeku akibat berbagai isu politik, keamanan, dan hak asasi manusia.

Pertemuan Starmer–Xi Jinping

Pertemuan antara Starmer dan Xi Jinping berlangsung pada Kamis (29/1/2026), dihadiri pula oleh sejumlah pejabat tinggi pemerintahan China dan delegasi Inggris. Pada pertemuan itu diakhiri dengan penandatanganan beberapa perjanjian kerja sama bilateral yang mencakup bidang ekonomi, perdagangan, pendidikan, dan transisi energi.

Dalam pernyataannya setelah pertemuan, Starmer menegaskan bahwa Inggris memiliki banyak hal yang dapat mereka tawarkan kepada China. Terutama dalam bidang jasa keuangan, teknologi hijau, dan pendidikan tinggi. Ia juga menggambarkan pembicaraannya dengan Xi Jinping berlangsung dalam suasana hangat dan konstruktif.

“Diskusi kami terbuka, positif, dan menghasilkan kemajuan nyata,” ujar Starmer. Menurut dia, keterlibatan dengan China merupakan pendekatan yang realistis oleh Inggris, selama tetap berlandaskan kepentingan nasional dan prinsip-prinsip internasional.

Pendekatan Realistis Inggris

Starmer menambahkan bahwa pemerintahannya tidak memandang hubungan internasional sebagai pilihan biner. Melainkan upaya menjaga dialog dengan berbagai pihak di tengah perubahan geopolitik global. Ia menegaskan bahwa kerja sama dengan China tidak berarti mengabaikan hubungan strategis Inggris dengan Amerika Serikat dan sekutu Barat lainnya.

Namun, pandangan tersebut berbeda dengan sikap Trump yang sejak awal pemerintahannya menempatkan China sebagai pesaing strategis utama Amerika Serikat. Trump secara konsisten memperingatkan sekutu-sekutu AS agar berhati-hati dalam memperdalam hubungan ekonomi dan teknologi dengan Beijing.

Kritik Trump terhadap langkah Inggris juga muncul di tengah dinamika hubungan transatlantik yang tengah diuji. Sejumlah kebijakan luar negeri Trump, termasuk rencana pengenaan tarif terhadap negara-negara sekutu NATO serta wacana terkait Greenland, telah memicu kekhawatiran di kalangan pemimpin Eropa.

Sebelum Starmer, beberapa pemimpin Barat juga tercatat lebih dulu melakukan pertemuan langsung dengan Xi Jinping di Beijing. Presiden Prancis, Perdana Menteri Kanada, dan Perdana Menteri Finlandia termasuk di antara pemimpin negara Barat yang belakangan memilih membuka kembali jalur dialog tingkat tinggi dengan China.

Kunjungan para pemimpin tersebut disebut-sebut sebagai bagian dari upaya bersama negara-negara Barat untuk menyeimbangkan hubungan dengan Beijing di tengah ketidakpastian arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Beberapa analis menilai, pendekatan ini juga dipengaruhi oleh kekhawatiran terhadap potensi perang dagang baru serta ketegangan politik lintas Atlantik.

Dimensi Ekonomi bagi Inggris

Bagi Inggris, hubungan dengan China memiliki dimensi ekonomi yang signifikan. China merupakan salah satu mitra dagang terbesar Inggris di luar Eropa. Meskipun hubungan kedua negara dalam beberapa tahun terakhir warnai perdebatan terkait keamanan nasional, investasi strategis, dan isu hak asasi manusia.

Pemerintah Inggris sebelumnya telah mengambil langkah-langkah untuk membatasi keterlibatan perusahaan China di sektor-sektor strategis, termasuk telekomunikasi dan infrastruktur kritis. Namun, di saat yang sama, London juga berupaya menjaga akses ke pasar China yang luas.

Sikap Trump yang keras terhadap China berpotensi memperlebar perbedaan pendekatan antara Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya di Eropa. Sejumlah pengamat menilai, negara-negara Barat kini berada dalam posisi sulit untuk menyeimbangkan kepentingan keamanan, ekonomi, dan diplomasi di tengah rivalitas global yang semakin tajam.

Hingga kini, Gedung Putih belum mengeluarkan pernyataan resmi lanjutan terkait hasil kunjungan Starmer ke Beijing. Namun, komentar Trump menunjukkan bahwa hubungan Inggris–China akan tetap menjadi isu sensitif dalam dinamika aliansi Barat ke depan.

(*)

Back to top button