Trump Marah atas Rencana Iran Memungut Biaya di Selat Hormuz

POJOKNEGERI.com – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengungkapkan kekesalannya lantaran Iran akan memungut biaya dari pembukaan Selat Hormuz usai gencatan senjata.
Trump menyetujui gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran pada Selasa (7/4) malam waktu setempat. Namun, ia menekankan bahwa kesepakatan itu hanya berlaku jika Iran membuka penuh Selat Hormuz.
“PEMBUKAAN Selat Hormuz yang LENGKAP, SEGERA, dan AMAN,” ujar Trump dengan tegas.
Sejak perang mulai pada 28 Februari, Iran membatasi lalu lintas di Selat Hormuz. Jalur vital ini menjadi rute bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Meski jalur kembali dibuka, Iran tetap melakukan pengawasan ketat terhadap kapal tanker yang melintas.
Berdasarkan laporan Financial Times, pembukaan Selat Hormuz dengan pemungutan biaya dari perusahaan pelayaran. Menariknya, Iran disebut akan menggunakan mata uang kripto sebagai mekanisme pembayaran.
Langkah ini dinilai sebagai upaya Iran mencari alternatif sistem finansial di luar dolar AS, sekaligus memperkuat kontrol atas jalur perdagangan energi dunia.
Trump Bereaksi Keras
Rencana Iran tersebut langsung memicu kemarahan Trump. Dalam unggahan pada Kamis (9/4), ia menegaskan penolakannya.
“Ada laporan bahwa Iran memungut biaya kepada kapal tanker yang melewati Selat Hormuz,” tulis Trump. “Sebaiknya mereka tidak melakukannya, dan jika memang melakukannya, mereka harus segera berhenti!” tambahnya.
Trump menilai pungutan biaya itu berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi global. Ia menuntut Iran membatalkan rencana tersebut demi kelancaran perdagangan internasional.
Klaim Pencegahan Senjata Nuklir
Dalam kesempatan yang sama, Trump kembali menyinggung isu senjata nuklir Iran. Ia mengklaim bahwa berkat kepemimpinannya, Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.
“Karena saya, IRAN TIDAK AKAN PERNAH MEMILIKI SENJATA NUKLIR dan, dengan sangat cepat, Anda akan melihat minyak mulai mengalir, dengan atau tanpa bantuan Iran dan, bagi saya, itu tidak ada bedanya,” tutur Trump penuh percaya diri.
Pernyataan ini memperlihatkan bagaimana Trump mengaitkan isu energi dengan keamanan global, sekaligus menegaskan posisinya sebagai pengendali situasi.
Trump juga menyempatkan diri mengecam dewan redaksi The Wall Street Journal. Media tersebut menulis bahwa presiden menyatakan kemenangan melawan Iran terlalu dini.
“Sebenarnya, ini adalah Kemenangan, dan tidak ada yang ‘terlalu dini’ tentang itu!” ucap Trump menanggapi kritik tersebut.
Dengan pernyataan itu, Trump berusaha membangun narasi bahwa langkahnya terhadap Iran adalah sebuah keberhasilan nyata, bukan klaim prematur.
Dampak Global
Isu Selat Hormuz tidak hanya menyangkut hubungan bilateral AS–Iran, tetapi juga menyentuh kepentingan global. Jalur ini menjadi nadi perdagangan energi dunia. Jika Iran benar-benar menerapkan pungutan berbasis kripto, hal itu bisa mengubah dinamika perdagangan minyak internasional.
Reaksi keras Trump menunjukkan betapa sensitifnya isu ini bagi stabilitas ekonomi dan politik global. Ketegangan di Selat Hormuz bukan sekadar konflik regional, melainkan drama geopolitik yang memengaruhi seluruh dunia.
(*)


