Tekanan AS Picu Kekurangan Energi, Penerbangan Kuba Terancam Terhenti

POJOKNEGERI.com – Pemerintah Kuba menyatakan maskapai penerbangan internasional tidak lagi dapat mengisi bahan bakar di negara tersebut. Ini akibat kekurangan pasokan energi yang semakin parah. Kondisi ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan dari pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap negara-negara yang memasok minyak ke Havana.
Menurut laporan kantor berita EFE yang mengutip dua sumber, otoritas Kuba telah memperingatkan bahwa pasokan bahan bakar penerbangan akan habis. Dan kondisi ini bisa berlangsung hingga satu bulan ke depan.
Situasi tersebut berdampak pada seluruh bandara internasional di Kuba. Sehingga berpotensi mengganggu operasional maskapai asing yang terbang ke dan dari negara Karibia itu.
Tekanan terhadap Kuba meningkat sejak awal Januari 2026. Pemerintahan Trump memperketat kebijakan terhadap negara komunis tersebut melalui sejumlah langkah baru.
Dalam perintah eksekutif pada akhir Januari, Trump menyebut Kuba sebagai ancaman bagi AS. Sehingga memerlukan deklarasi keadaan darurat nasional.
Trump menuding hubungan Kuba dengan sejumlah negara seperti China, Rusia, dan Iran. Serta catatan pelanggaran hak asasi manusia dan sistem kepemimpinan komunis, telah mendestabilisasi kawasan. Selain itu, ia menyebut Kuba berkontribusi terhadap persoalan migrasi dan kekerasan regional.
Sebagai bagian dari kebijakan tersebut, pemerintah Amerika Serikat menyatakan dapat mengenakan tarif terhadap negara mana pun yang memasok minyak ke Kuba. Baik secara langsung maupun tidak langsung. Langkah itu mempersempit akses Kuba terhadap pasokan energi, termasuk bahan bakar penerbangan.
Dampak ke Sektor Transportasi
Krisis avtur ini akan berdampak signifikan terhadap sektor transportasi udara Kuba, yang selama ini bergantung pada penerbangan internasional untuk menopang sektor pariwisata.
Jika maskapai asing tidak dapat mengisi bahan bakar di Kuba. Mereka terpaksa melakukan pengisian di negara lain sebelum atau sesudah mendarat di Havana dan kota-kota lainnya. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya operasional dan memicu pembatalan atau pengurangan frekuensi penerbangan.
Belum ada pernyataan resmi dari otoritas penerbangan Kuba terkait kemungkinan pembatasan jadwal atau pengalihan rute penerbangan.
Langkah Penghematan Pemerintah Kuba
Di tengah krisis energi yang kian dalam, pemerintah Kuba pada Jumat lalu mengumumkan serangkaian langkah penghematan untuk melindungi layanan penting dan menjatah bahan bakar bagi sektor-sektor prioritas.
Langkah itu mencakup pembatasan penjualan bahan bakar, penutupan sejumlah lokasi wisata, pengurangan hari sekolah, serta pemangkasan minggu kerja di perusahaan milik negara menjadi empat hari.
Kebijakan tersebut untuk memastikan distribusi energi tetap terjaga bagi layanan kesehatan, transportasi publik, dan kebutuhan dasar masyarakat. Kuba memang telah lama menghadapi kesulitan pasokan energi, namun tekanan tambahan dari kebijakan Washington dinilai memperburuk situasi.
Respons Kuba
Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodríguez Parrilla mengecam ancaman tarif dari Washington. Dalam pernyataan tertanggal 30 Januari, ia menuding pemerintah Amerika Serikat menggunakan “pemerasan dan paksaan” untuk memaksa negara lain ikut serta dalam kebijakan blokade terhadap Kuba.
Menurut Rodríguez, kebijakan tersebut memperparah penderitaan rakyat Kuba dan menghambat upaya pemulihan ekonomi negara itu. Hingga kini, pemerintah Kuba belum mengumumkan solusi jangka pendek untuk mengatasi kekurangan bahan bakar penerbangan.
Rusia Sebut Situasi Kritis. Sekutu dekat Kuba, Rusia, menyebut kondisi bahan bakar di negara tersebut berada pada tingkat yang sangat mengkhawatirkan.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan situasi di Kuba benar-benar kritis. “Situasi di Kuba benar-benar kritis. Kami mengetahui hal ini dan terus menjalin kontak intensif dengan mitra Kuba kami melalui jalur diplomatik dan lainnya.
Tekanan Amerika Serikat menyebabkan banyak kesulitan bagi negara itu,” kata Peskov kepada wartawan, dikutip dari kantor berita RIA Novosti. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa krisis energi Kuba menjadi perhatian mitra internasionalnya.
Upaya Diplomatik Meksiko
Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum menyatakan pemerintahnya akan berupaya mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Kuba. Selain itu juga akan mencari solusi diplomatik agar pengiriman minyak ke negara tersebut dapat dilanjutkan.
Meksiko sebelumnya menghentikan sementara pengiriman minyak mentah dan produk olahan ke Kuba di tengah tekanan dari pemerintahan Trump. Sheinbaum menegaskan pentingnya pendekatan diplomatik untuk menghindari dampak kemanusiaan yang lebih luas.
Ancaman terhadap Pariwisata. Krisis bahan bakar penerbangan ini berpotensi memperburuk kondisi ekonomi Kuba. Terutama sektor pariwisata yang menjadi salah satu sumber devisa utama negara tersebut.
Jika gangguan penerbangan berlangsung lama, arus wisatawan asing diperkirakan menurun. Para pengamat menilai situasi ini menjadi ujian berat bagi pemerintah Kuba dalam menjaga stabilitas ekonomi.
Hingga kini, belum ada tanda-tanda meredanya ketegangan antara Washington dan Havana. Dengan pasokan avtur yang diperkirakan habis dalam waktu dekat. Industri penerbangan internasional yang melayani Kuba kini menghadapi ketidakpastian besar dalam beberapa pekan mendatang.
(*)


