Stok BBM Nasional Hanya 20 Hari, Bahlil Lahadalia Ungkap Penyebabnya

POJOKNEGERI.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) nasional yang berada di kisaran 20–25 hari bukan disebabkan oleh lemahnya kemampuan pasokan, melainkan keterbatasan kapasitas penyimpanan dalam negeri.
Dalam keterangannya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Bahlil menjelaskan bahwa kapasitas tangki penyimpanan BBM Indonesia sejak lama memang hanya mampu menampung cadangan untuk sekitar tiga pekan.
“Jangan salah persepsi, memang sejak lama kemampuan storage kita di Republik Indonesia ini tidak lebih dari 21–25 hari. Jadi standar nasionalnya minimal itu di 20–21 hari, maksimal 25 hari,” ujarnya.
Ia menambahkan, dalam rapat terakhir bersama Dewan Energi Nasional (DEN) dan Pertamina, cadangan pasokan BBM tercatat hanya berkisar 22–23 hari.
Angka tersebut jauh di bawah konsensus global yang menetapkan standar minimum cadangan BBM sekitar 90 hari.
Kendala Infrastruktur
Bahlil menegaskan bahwa pemerintah sebenarnya bisa saja mengadakan cadangan BBM lebih dari 25 hari. Namun, masalah utama terletak pada keterbatasan infrastruktur penyimpanan.
“Kenapa kita nggak melakukan persediaan lebih dari 25 hari? Kalau diadakan mau disimpan di mana? Storagenya nggak cukup. Jadi mohon diluruskan beritanya bukan kita nggak bisa menyiapkan lebih dari 25 hari, karena memang daya tampungnya nggak ada,” jelasnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa ketahanan energi Indonesia masih rentan terhadap gejolak pasar global.
Jika terjadi gangguan pasokan atau lonjakan harga minyak dunia, cadangan yang hanya bertahan sekitar tiga minggu tentu tidak cukup untuk menjaga stabilitas energi nasional.
Instruksi Presiden
Menanggapi persoalan tersebut, Presiden Prabowo Subianto telah memberikan instruksi langsung kepada Menteri ESDM untuk membangun storage BBM tambahan.
Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas penyimpanan sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
“Presiden Prabowo perintahkan ke kami bangun storage, supaya ketahanan energi kita ada. Insyaallah storage-nya sampai 3 bulan, ini lah standar minimum konsensus global,” kata Bahlil.
Target 90 Hari
Dengan pembangunan fasilitas baru, pemerintah menargetkan cadangan pasokan BBM Indonesia dapat meningkat hingga 90 hari atau sekitar tiga bulan.
Jumlah tersebut setara dengan standar minimum konsensus global yang selama ini menjadi acuan banyak negara.
Jika target ini tercapai, Indonesia akan memiliki ketahanan energi yang lebih baik dalam menghadapi dinamika geopolitik maupun fluktuasi harga minyak dunia.
Implikasi Kebijakan
Rencana pembangunan storage baru ini bukan hanya soal teknis penyimpanan, tetapi juga bagian dari strategi besar pemerintah dalam memperkuat sektor energi.
Dengan cadangan yang lebih besar, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada impor jangka pendek, sekaligus memberi ruang bagi stabilisasi harga di dalam negeri.
Selain itu, kebijakan ini juga sejalan dengan upaya menjaga keamanan energi sebagai salah satu pilar penting pembangunan nasional.
(*)
