Setelah Ketegangan, Trump Sebut Iran Ingin Berdialog

POJOKNEGERI.COM – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan Iran Iran ingin berdialog dengan Washington.
Pernyataan Trump ini ia sampaikan di tengan ketegangan antara kedua negara.
Trump pun mengatakan bahwa Washington bersedia untuk melakukan dialog dengan Teheran.
Hal ini Trump sampaikan dalam seremoni penandatanganan Piagam Dewan Perdamaian di sela-sela Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, pada Kamis (22/1).
Apa yang Trump sampaikan ini menjadi isyarat potensi pembukaan jalur diplomatik setelah meningkatnya ketegangan antara kedua negara akibat unjuk rasa antipemerintah dan kerusuhan di Iran.
“Iran memang ingin berdialog, dan kami akan berdialog,” kata Trump.
Trump kemudian mengingatkan bahwa AS telah menyerang fasilitas pengayaan uranium Iran tahun lalu, untuk mencegah Teheran membuat senjata nuklir.
“Kita tidak bisa membiarkan hal itu terjadi,” tegasnya.
Ancaman Trump ke Iran
Sebelumnya, Donald Trump melontarkan pernyataan keras terhadap Iran setelah muncul ancaman dari parlemen Teheran.
Dalam wawancara dengan News Nation, Trump menegaskan bahwa Washington tidak akan tinggal diam jika keselamatan dirinya terancam.
Ia menyatakan siap mengambil langkah militer ekstrem apabila Iran berani mengeluarkan ancaman pembunuhan terhadapnya.
“Apa pun yang terjadi, seluruh negara itu akan lenyap dari muka bumi,” kata Trump.
Pernyataan tersebut menunjukkan sikap keras yang ia ambil terhadap Iran, sekaligus memperlihatkan bahwa ia tidak segan menggunakan kekuatan militer untuk melindunginya.
Dalam wawancara itu, Trump juga menambahkan bahwa ia sudah memiliki arahan jelas terkait langkah yang harus ia jika ancaman Iran benar-benar terjadi.
“Tentu saja saya akan menyerang mereka dengan sangat keras. Saya punya instruksi yang tegas,” ucapnya, dikutip dari News Nation.
Trump menegaskan bahwa ia sendiri yang akan memerintahkan serangan balasan, bukan sekadar menyerahkan keputusan kepada pihak militer.
Peringatan dari Parlemen Iran
Ancaman Trump muncul setelah parlemen Iran memperingatkan bahwa serangan apa pun kepada Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei akan memicu deklarasi jihad di seluruh dunia.
Peringatan itu memperlihatkan bahwa Iran berusaha menghalangi kemungkinan serangan terhadap Khamenei dengan menekankan konsekuensi global yang bisa terjadi.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa setiap serangan terhadap Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei akan dianggap sebagai deklarasi perang penuh terhadap bangsa Iran.
Pernyataan itu disampaikan Pezeshkian melalui unggahan di platform X, menyusul komentar Presiden AS Donald Trump yang menyebut Washington tengah mencari “pemimpin baru” bagi Iran.
“Serangan terhadap pemimpin besar negara kita sama saja dengan perang skala penuh dengan bangsa Iran,” tegas Pezeshkian.
Pernyataan tersebut memperlihatkan sikap tegas pemerintah Iran terhadap ancaman yang menyasar legitimasi kepemimpinan tertinggi di negara itu.
Tuduhan Khamenei terhadap AS dan Israel
Sebelumnya, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menuduh Amerika Serikat dan Israel berada di balik kekerasan yang terjadi selama demonstrasi anti-pemerintah di Iran. Ia menyatakan bahwa aktor-aktor yang terkait dengan kedua negara itu bertanggung jawab atas pembunuhan ribuan orang selama protes yang berlangsung lebih dari dua minggu.
“Mereka yang terkait dengan Israel dan AS menyebabkan kerusakan besar dan membunuh beberapa ribu orang selama protes yang mengguncang Iran selama lebih dari dua minggu,” kata Khamenei dalam pernyataannya seperti pemberitaan Al-Jazeera pada Minggu (18/1).
Khamenei menuduh Washington dan Tel Aviv terlibat langsung dalam kekerasan tersebut. Ia bahkan menyebut Presiden AS Donald Trump sebagai seorang “kriminal.”
Menurutnya, pemberontakan anti-pemerintah kali ini berbeda dari sebelumnya karena keterlibatan pribadi Trump.
“Pemberontakan anti-Iran terbaru berbeda karena presiden AS secara pribadi terlibat,” ujarnya.
Pernyataan keras dari Khamenei dan Pezeshkian memperlihatkan eskalasi retorika yang semakin tajam antara Teheran dan Washington. Iran menegaskan bahwa ancaman terhadap pemimpin tertinggi bukan hanya serangan politik, melainkan juga serangan terhadap kedaulatan nasional.
Sementara itu, tuduhan keterlibatan langsung AS dan Israel dalam kerusuhan domestik memperdalam jurang ketidakpercayaan antara kedua belah pihak.
(*)


